Artikel

Ulama Nahwu itu “Agak Laen”
Esai

Ulama Nahwu itu “Agak Laen”

Foto diambil seusai kelas Madrasah Diniyah Hidayatul Mubtadi-ien. Jangan buru-buru “merengut”. Baca dulu sampai tuntas. Jangan langsung su’udzon atau mangap kaget pas baca judulnya. Saya paham betul, menyebut ulama, terlebih lagi ulama Ahli Nahwu dengan kata “agak laen” itu bisa dianggap kurang ajar, kurang ngaji, atau minimal kurang pahit kopinya. Tapi sumpah, saya nggak lagi nyinyir, apalagi ngeledek. Justru sebaliknya, ini adalah bentuk kekaguman saya. Kekaguman yang agak campur aduk dengan rasa heran, sekaligus kagum tak berdasar.          Karena ulama nahwu itu, menurut saya pribadi, adalah manusia-manusia luar biasa. Bukan karena kekayaan atau follower Instagram-nya, tapi karena mereka sanggup hidup dan bernapas di antara bait-bait “Qo...
Idul Adha: Tradisi Terdahulu dan Pentingnya Ngaji
Artikel

Idul Adha: Tradisi Terdahulu dan Pentingnya Ngaji

Tradisi berkurban telah dikenal jauh sebelum datangnya Islam. Dalam banyak catatan sejarah keagamaan, seperti pada masyarakat Mesir Kuno, Babilonia, hingga bangsa Aztek, praktik persembahan dilakukan sebagai bentuk pendekatan diri kepada dewa-dewa, bahkan dengan cara yang menyimpang seperti menyembelih manusia. Al-Razi mengatakan ketika kebiasaan masyarakat Jahiliyyah -dalam hal kurban- melumuri berhala dan dinding ka'bah dengan darah dan daging kurban, Maka Allah menjelaskan apa tujuan sebenarnya dari penyembelihan hewan kurban melalui Q.S. al-Hajj ayat 37. Allah menjelaskan bahwa yang benar-benar sampai kepada-Nya dan yang terangkat kepada-Nya dari amal orang yang diberi petunjuk baik berupa ucapan, penyembelihan, maupun ibadah-ibadah lainnya adalah ketakwaan kepada Allah, bukan dagin...
Menyulam Kitab di Jalan Sunyi Perubahan
Esai

Menyulam Kitab di Jalan Sunyi Perubahan

Foto diambil ketika acara Harlah Madrasah Diniyah Hidayatul Mubtadi-ien Yogyakarta oleh Tim Media MDHM Agent of Change, julukan yang sering disematkan kepada mahasiswa untuk menjadi pelaku inisiatif dalam mewujudkan suatu perubahan ke arah yang lebih baik. Tapi bagaimana jika julukan tersebut dinisbahkan kepada santri? Tulisan ini akan merangkum buah pembicaraan dari acara peringatan hari lahir Madrasah Diniyah Hidayatul Mubtadi-ien Yogyakarta yang ke-14. Sebuah topik yang mampu membuat seluruh santri terdiam dan khusyuk untuk menyimak setiap kata yang disampaikan pembicara malam itu. Harlah MDHM Peringatan Harlah Madrasah Diniyah Hidayatul Mubtadi-ien (MDHM) Yogyakarta ke-14 diselenggarakan pada 1 Juni 2025. Bertempat di Aula Al-Munawwir Pondok Pesantren Kotagede Hidayatul Mubtad...
“Coba Ulang?”
Puisi, Sastra

“Coba Ulang?”

Dari balik batas tembus pandang,Agaknya harapan yang mulai usang itu melayang-layang,Melambai-lambai ingin ditantang,"Hei, kemari! mana dirimu yang giat meramu mimpi di pulau seberang?"Lirih suara bagai radio yang usang,Agaknya kausalitas pendengar dan pengucapan belum hilang,Balasannya begini: "apa katamu? coba ulang!"…Dari balik batas tembus pandang,Setidaknya bukan amukan karena balasan nada menantang,Menjawab tersenyum sambil bersenang,"Hei, kemari! mana dirimu yang giat meramu mimpi di pulau seberang?"Nyaring suara bagai gitar park jong seong yang berdendang,Agaknya harapan usang itu masih, sedang, bahkan tetap menjadi piutang,Balasannya begini : "Tenang, sebenarnya aku juga tidak ingin curang".…Dari balik batas tembus pandang,Nyatanya zona nyaman terkadang perlu menghilang. Sajak ...
Menjadi Santri di Era Sibuk! Belajar Diam dari Ulama Terdahulu
Artikel

Menjadi Santri di Era Sibuk! Belajar Diam dari Ulama Terdahulu

@nanik.rhma.(2024). Santri sedang membaca buku. Instagram post. Diakses Minggu, 1 Juni 2025 .https://www.instagram.com/p/C2cJNVcPARz/?img_index=1&igsh=bnd0aXY4cm82Ymls Nupipress - Menjadi santri hari ini bukan hanya tentang duduk bersarung di koridor lantai dua masjid atau kemana - mana membawa kitab kuning. Di tengah zaman hiruk dan riuh oleh distraksi digital, menjadi santri adalah perjuangan sunyi. Menjaga hati agar tetap hidup dalam ilmu dan menjaga waktu agar tak hanyut dalam kesia-siaan. Di antara gempuran notifikasi, jadwal yang padat, dan rasa ingin tahu yang melompat-lompat, kita perlu kembali belajar dari para ulama terdahulu, seperti imam syafi’i dan imam bukhori. Pasalnya beliau-beliau menjadikan diamnya sebagai bahasa kekuatan dan waktu sebagai amanah yang suci. Mas...
Menggali Pemikiran Nahwu dan Sorof dalam Pesantren Salaf: Estetika Bahasa sebagai Jembatan Dakwah di Era Modern
Esai

Menggali Pemikiran Nahwu dan Sorof dalam Pesantren Salaf: Estetika Bahasa sebagai Jembatan Dakwah di Era Modern

Pict: Kitab Alfiyah Ibnu Malik (Koleksi Penulis) Di balik tradisi luhur pesantren salaf, terdapat kekayaan ilmu yang tidak hanya berfungsi untuk memahami bahasa Arab, tetapi juga membuka pintu-pintu pemahaman lebih dalam terhadap teks-teks agama yang hidup. Nahwu, sorof, dan nadhom Alfiyah bukan sekadar alat pendidikan; mereka adalah jendela yang menghubungkan santri dengan kedalaman spiritualitas dan pemahaman agama yang lebih universal. Dalam dunia yang semakin canggih ini, pemahaman mendalam tentang ketiga ilmu ini tidak hanya relevan, tetapi juga menjadi alat penting untuk memahami pesan dakwah yang lebih dinamis dan efektif. Nahwu dan Sorof: Fondasi yang Membawa Makna ke Permukaan Nahwu dan sorof lebih dari sekadar alat untuk menguasai bahasa Arab; keduanya adalah kunci untuk...
Ilmu Itu Tidak Netral
Esai

Ilmu Itu Tidak Netral

Pict: Kitab Karya KH. Hasyim Asy’ari dalam Adab al-‘Ālim wa al-Muta‘allim (Koleksi Penulis) Di suatu malam yang dingin di pondok, aku membuka kembali lembaran kitab Ta‘līm al-Muta‘allim. Di sela-sela huruf gundul yang mulai akrab, aku menemukan satu kalimat yang membuatku berhenti: “La yanalul-‘ilma birāhatil-jism” ilmu tidak bisa diperoleh dengan tubuh yang bersantai. Tapi entah kenapa malam itu aku justru terdiam bukan karena rasa lelah, tapi karena pertanyaan yang muncul diam-diam: "Ilmu yang dicari ini, arahnya ke mana?" Sejak kecil, kita diajari bahwa menuntut ilmu itu mulia. Tapi jarang yang mengajak kita berpikir bahwa ilmu itu tidak pernah benar-benar netral. Ia bukan benda mati. Ia punya arah. Ia bisa membimbing, tapi juga bisa membutakan. Lalu, kita yang sedang menuntutnya—...
Oprec TBD 2025 Resmi Ditutup, 13 Santri Mengikuti Outbound dan Pembaitan Anggota Baru
Berita

Oprec TBD 2025 Resmi Ditutup, 13 Santri Mengikuti Outbound dan Pembaitan Anggota Baru

Anggota baru sedang membaca ikrar anggota TBD di pantai Cemara Sewu pada Minggu, 18/05 Nupipress — Open Recruitment anggota  Tim Bina Desa (TBD) Pondok Pesantren Nurul Ummah Putri tahun 2025 resmi ditutup. Dari 23 santri yang mendaftar, terdapat 13 santri yang lolos setelah mengikuti beberapa tahapan seleksi. Santri yang telah dinyatakan diterima, selanjutnya mengikuti kegiatan Outbond dan Pembaiatan di Pantai Cemara Sewu pada Minggu, 18/05. Zidna Amalia, selaku panitia divisi acara memaparkan bahwa alur seleksi tahun ini tidak jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Tahapan pertama seleksi administrasi, pendaftaran bisa dilakukan secara online melalui link dan offline melalui formulir kertas. Kemudian pada tahap kedua peserta akan mengikuti tes tertulis dan wawancara. &nbs...
Menilik Kembali Mubes : Implementasi Evaluasi Nurul Ummah Putri
Berita

Menilik Kembali Mubes : Implementasi Evaluasi Nurul Ummah Putri

Nupipress - Evaluasi adalah kunci keberlanjutan organisasi. Tanpa adanya evaluasi, dinamika kerja bisa stagnan alias statis dan kehilangan arah. Itulah yang mendasari Musyawarah Besar (Mubes) Pondok Pesantren Nurul Ummah Putri digelar bulan Februari lalu. Menghadirkan pengurus pusat Pondok Pesantren Nurul Ummah Putri (PPNU Pi) dan pengurus Madrasah Diniyah Nurul Ummah Putri (MDNU Pi), Mubes menjadi ajang evaluasi tengah periode yang berlangsung selama satu tahun terhitung sejak 2024 awal. Berhubung sifatnya sebatas evaluasi, sesi yang disediakan hanya berisi penyampaian program kerja, baik yang sudah maupun yang belum terlaksana. Sesi tanya jawab yang diadakan juga dibatasi dua termin dengan masing-masing tiga penanya agar tidak membludak. Terdapat Hafna Nashifatul Azkiya’ sebagai moder...
Tiga Tahapan dalam Menghadapi Kesalahan Orang Lain Menurut Quraish Shihab
Artikel

Tiga Tahapan dalam Menghadapi Kesalahan Orang Lain Menurut Quraish Shihab

Kata maaf di dalam al-Qur'an hadir dengan istilah yang berbeda-beda. Terkadang al-Qur’an menggunakan kata safhun (berarti lapang atau lembaran baru). Al-Qur’an juga menggunakan kata ghufrun (berarti ampunan). Dan terkadang pula al-Qur’an menggunakan kata ’afwun untuk menunjukkan makna maaf.  Menurut  Ibnu Mandzur dalam Lisanul Arab ‘afwun memiliki arti menghapus atau menghilangkan. Itulah sebabnya orang yang memaafkan dianggap sedang menghapus atau menghilangkan kesalahan orang lain terhadap dirinya. Kata al-’afwu di dalam al-Qur’an telah disebutkan sebanyak 35 kali dalam 11 surat. Di antara ayat yang berbicara tentang maaf ialah firman Allah SWT dalam surat Ali Imran ayat 133-134: ۞ وَسَارِعُوۡۤا اِلٰى مَغۡفِرَةٍ مِّنۡ رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالۡاَرۡضُۙ اُعِدَّت...