
(Sumber: Generate AI)
Suatu ketika menjelang subuh, saya kejatah piket membangunkan santri-santri pelajar. Nyalain lampu, pelan-pelan menepuk badan mereka.
“Bangun-bangun, subuh-subuh,” ucap saya sambil melihat tingkah mereka yang bermacam-macam versi. Yang kaki ketemu muka temannya, mungker seperti udang, dan sebagainya.
Mulai versi sabar, sampai versi ngamuk-ngamuk karena tak bangun-bangun juga pernah.
Kami tiap hari begitu. Bangunin santri, ngajar, jadi imam, mengawasi kegiatan, sampai bagian “oprak-oprak”.
Belum selesai di situ. Di luar pondok, kami ada yang kerja, juga kuliah.
Kalau dihitung-hitung, waktu istirahat itu bukan kebutuhan, tapi kemewahan.
Dan di antara semua itu, ada satu ujian yang bikin emosi: menghadapi santri bandel.
Yang kalau dinasihati iya-iya, tapi besok diulang lagi.
Yang kalau ditegur, mukanya kayak paham… tapi cuma mukanya, aslinya ya ndak tahu.
Yang bikin kita kadang sampai di titik:
“Ini anak butuh nasihat… atau butuh install ulang? Kirim aja ke barak militer kali ya, wkwk.”
Di titik itu, saya merasa benar-benar capek. Bukan capek fisik saja, tapi juga capek batin. Kebetulan saya juga sopir Abah Yai. Namun, jarang sekali saya berkeluh kesah dari masalah kehidupan meskipun sering kali satu mobil dengan Abah dan kesempatan itu ada. Tidak untuk kali ini, saya merasa hampir menyerah dan puncaknya saya cerita ke Abah. Dengan harapan dapat jawaban yang… teknis dan strategis: “Boyongke wae.”
Tapi jawaban beliau sederhana. “Kirimkan al-Fatihah setiap hari.” Selesai.
Jujur, waktu itu saya agak bengong. Dalam hati saya bilang, “Lho… ini saya butuh solusi, bukan amalan tambahan.”
Tapi makin ke sini, saya mulai mikir… jangan-jangan justru di situ letak solusinya.
Coba kita pelan-pelan pahami.
Selama ini, mungkin tanpa sadar, kita merasa punya “tugas besar”: mengubah santri.
Membuat mereka jadi baik.
Membuat mereka jadi disiplin.
Kalau perlu, jadi versi ideal yang ada di kepala kita.
Masalahnya, ketika realita tidak sesuai ekspektasi, emosi kita yang duluan meledak.
Nasihat Abah Yai untuk “mengirimkan al-Fatihah” kepada santri setiap hari bukanlah sekadar amalan tambahan, melainkan sebuah strategi spiritual yang mendalam. Berikut beberapa catatan saya setelah membaca Tafsir Ibn Katsir, bahwa al-Fatihah mengandung pelajaran berharga yang dapat mengubah cara seorang pendidik memandang tugasnya dan menghadapi perilaku murid didikannya.
- Menghadirkan Keberkahan dan Melemahkan Gangguan Emosi
إِنْ كَانَ قياما أو قعودا أو أكلا أو شرابا أَوْ قِرَاءَةً أَوْ وُضُوءًا أَوْ صَلَاةً فَالْمَشْرُوعُ ذِكْرُ اسْم اللَّهِ فِي الشُّرُوعِ فِي ذَلِكَ كُلِّهِ تَبَرُّكًا وَتَيَمُّنًا وَاسْتِعَانَةً عَلَى الْإِتْمَامِ وَالتَّقَبُّلِ
Basmalah dibaca di awal setiap pekerjaan atau ucapan untuk mengharapkan keberkahan (tabarruk), memohon pertolongan (isti’anah) agar urusan tersebut selesai dengan baik, serta agar amal tersebut diterima oleh Allah.
Ketika seorang ustadz memulai harinya dengan mendoakan santri melalui basmalah, ia sedang meminta keberkahan Allah ke dalam interaksi tersebut.
Selain itu, dalam redaksi yang lain, Ibn Katsir menyebutkan riwayat Imam Ahmad.
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَاصِمٍ قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا تَمِيمَةَ يُحَدِّثُ عَنْ رَدِيفِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ «2» : عَثَرَ بِالنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم [حِمَارُهُ] «3» . فَقُلْتُ تَعِسَ الشَّيْطَانُ فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم:
«لَا تَقُلْ تَعِسَ الشَّيْطَانُ، فَإِنَّكَ إِذَا قُلْتَ تَعِسَ الشَّيْطَانُ تَعَاظَمَ وَقَالَ بِقُوَّتِي صَرَعْتُهُ، وَإِذَا قُلْتَ بِاسْمِ اللَّهِ تَصَاغَرَ حَتَّى يَصِيرَ مِثْلَ الذُّبَابِ»
Bismillah dapat membuat setan (yang sering memicu amarah dan rasa putus asa) menjadi kecil dan tak berdaya “seperti seekor lalat”. Ini membantu kita menjaga emosinya agar tetap stabil saat menghadapi perkara yang memicu amarah.
- Menyerahkan Hasil Akhir kepada Pemilik Kekuatan
قَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: الْفَاتِحَةُ سِرُّ الْقُرْآنِ، وَسِرُّهَا هَذِهِ الْكَلِمَةُ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ فَالْأَوَّلُ تَبَرُّؤٌ مِنَ الشِّرْكِ، وَالثَّانِي تَبَرُّؤٌ مِنَ الحول وَالْقُوَّةِ وَالتَّفْوِيضِ إِلَى اللَّهِ عز وجل
Ulama salaf menyebutkan bahwa ayat “Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin” adalah “rahasia Al-Fatihah”, yang mana bagian pertama merupakan pembebasan diri dari kesyirikan, dan bagian kedua adalah pembebasan diri dari ketergantungan pada daya dan upaya sendiri (at-tabarru’ minal hawli wal quwwah) serta penyerahan urusan sepenuhnya kepada Allah.
Artinya apa?
Mungkin Abah ingin bilang:
“Kamu ini terlalu merasa berperan besar.”
Padahal, hidayah itu bukan di tangan kita.
Perubahan itu bukan hasil tekanan.
Dan manusia, termasuk santri punya prosesnya sendiri.
Al-Fatihah itu seperti rem halus untuk ego kita.
Kelelahan batin kita muncul karena ia merasa punya “tugas besar” untuk mengubah santri dengan tangannya sendiri. Ayat ini mengajarkan bahwa meskipun kita berusaha mengajar, kekuatan untuk mengubah hati seseorang hanya milik Allah.
Dengan mendoakan santri lewat ayat ini, ustadz sedang melepaskan beban ekspektasinya dan mengakui bahwa ia hanyalah perantara, bukan penentu hasil akhir.
- Permohonan Hidayah sebagai Kebutuhan yang Terus-Menerus
Ayat “Ihdinas siraatal mustaqiim” (Tunjukkanlah kami jalan yang lurus).
فإن قيل فكيف يَسْأَلُ الْمُؤْمِنُ الْهِدَايَةَ فِي كُلِّ وَقْتٍ مِنْ صَلَاةٍ وَغَيْرِهَا وَهُوَ مُتَّصِفٌ بِذَلِكَ؟ فَهَلْ هَذَا مِنْ بَابِ تَحْصِيلِ الْحَاصِلِ أَمْ لَا؟
فَالْجَوَابُ أَنْ لَا، وَلَوْلَا احْتِيَاجُهُ لَيْلًا وَنَهَارًا إِلَى سؤال الهداية لما أرشده الله تعالى إِلَى ذَلِكَ، فَإِنَّ الْعَبْدَ مُفْتَقِرٌ فِي كُلِّ سَاعَةٍ وَحَالَةٍ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى فِي تَثْبِيتِهِ عَلَى الْهِدَايَةِ وَرُسُوخِهِ فِيهَا وَتَبَصُّرِهِ وَازْدِيَادِهِ مِنْهَا وَاسْتِمْرَارِهِ عَلَيْهَا فَإِنَّ الْعَبْدَ لَا يَمْلِكُ لِنَفْسِهِ نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ فَأَرْشَدَهُ تَعَالَى إِلَى أَنْ يَسْأَلَهُ فِي كُلِّ وَقْتٍ أَنْ يَمُدَّهُ بِالْمَعُونَةِ وَالثَّبَاتِ وَالتَّوْفِيقِ، فَالسَّعِيدُ من وفقه الله تعالى لسؤاله فإنه قَدْ تَكَفَّلَ بِإِجَابَةِ الدَّاعِي إِذَا دَعَاهُ وَلَا سِيَّمَا الْمُضْطَرُّ الْمُحْتَاجُ الْمُفْتَقِرُ إِلَيْهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ
Ibn Katsir menjelaskan bahwa hamba diperintahkan meminta hidayah di setiap waktu karena manusia sangat membutuhkan bantuan Allah untuk keteguhan (tsabat), kesinambungan (istimrar), dan peningkatan dalam petunjuk tersebut. Manusia tidak memiliki kendali atas manfaat atau mudarat bagi dirinya sendiri kecuali atas kehendak Allah.
Jika kita sendiri menyadari bahwa diri kita masih butuh didoakan agar tetap di jalan yang lurus, maka kita akan lebih berempati pada santri yang masih berproses.
Doa ini memindahkan fokus kita dari “marah karena santri tidak paham” menjadi “memohonkan agar Allah memberikan pemahaman” kepada santri tersebut.
- Meneladani Sifat Kasih Sayang (Ar-Rahman Ar-Rahim)
قال القرطبي «2» : إنما وصف نفسه بالرحمن الرحيم بعد قوله رب العالمين ليكون من باب قرن الترغيب بعد الترهيب كما قال تَعَالَى: نَبِّئْ عِبادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ. وَأَنَّ عَذابِي هُوَ الْعَذابُ الْأَلِيمُ
Ibn Katsir mengutip Imam a-Qurthubi bahwa Allah menyertakan sifat ini setelah menyebutkan diri-Nya sebagai “Rabbil ‘alamin” (Tuhan Semesta Alam) untuk menggabungkan antara rasa segan/takut (tarhib) dengan harapan/kasih sayang (targhib).
Sebagai pengajar, kita mungkin sering menonjolkan sisi otoritas kita. Namun, dari narasi tersebut dapat mengingatkan bahwa otoritas harus dibarengi dengan kasih sayang yang luas.
Mendoakan santri setiap hari dengan Al-Fatihah melunakkan hati ustadz agar tetap melihat santri dengan kacamata rahmah (kasih sayang), sehingga pendidikan yang diberikan bukan didasari oleh emosi, melainkan ketulusan untuk membawa mereka menuju kebaikan.
Ini bukan berarti kita jadi pengurus yang santai-santai saja.
Tetap bangunin santri.
Tetap ngajarin.
Tetap negur kalau salah.
Tapi bedanya, sekarang kita tidak lagi merasa harus jadi “penyelamat”.
Kita ini… ya pendamping.
Bukan penentu akhir.
Mungkin kalau dianalogikan, kita itu bukan tukang service yang tugasnya bikin laptop langsung normal. Lebih mirip… teknisi yang membantu mereka mengerti cara pakai sistemnya sendiri.
Kadang dibenerin, kadang di-restart, kadang… ya dibiarkan loading dulu.
Jadi, kalau kamu hari ini lagi capek menghadapi santri, atau merasa usaha kamu seperti nggak ada hasilnya, coba tanya ke diri sendiri: “Selama ini aku mendidik atau memaksa?”
Dengan mengamalkan nasihat Abah tersebut, kita sebenarnya sedang “menginstal ulang” niat dan kondisi batin agar tidak hancur oleh ekspektasi, sambil terus mengetuk pintu langit agar Allah-lah yang bekerja mengubah hati para makhuk-Nya.
Penulis: Alfian Hamid | Editor: Adhwa N
