Resensi

Bedah Novel “Samarkand”: Menelusuri Manuskrip Rubaiyat dalam Dua Zaman
Resensi

Bedah Novel “Samarkand”: Menelusuri Manuskrip Rubaiyat dalam Dua Zaman

(Sumber: id.pinterest.com/forgedbybooks) Samarkand adalah novel sejarah karya Amin Maalouf (1988) yang menghubungkan dua zaman lewat satu benang merah: manuskrip asli Rubaiyat karya Omar Khayyam. Bagian pertama berlatar Persia abad ke-11, mengisahkan pertemuan Khayyam—matematikawan dan astronom—dengan Hassan-i Sabbah, pendiri sekte Assassins. Bagian kedua melompat ke abad ke-20, mengikuti perjalanan manuskrip itu hingga akhirnya tenggelam bersama RMS Titanic pada 1912. Maalouf tidak menulis biografi Khayyam secara literal. Ia meramu narasi fiksional yang membingkai puisi-puisi Khayyam ke dalam konflik politik dan teologis zamannya, memakai tokoh nyata seperti Khayyam, Sabbah, dan Nizam al-Mulk untuk menunjukkan bagaimana sebuah karya bisa bertahan lebih lama daripada penciptanya—dan ...
Apa pun Tentang Film Pesta Babi
Opini, Resensi

Apa pun Tentang Film Pesta Babi

Sumber: Jubi.id Jagad maya kembali lagi ramai dengan perbincangan hangat mengenai sebuah tontonan yang mampu membuat resah pemerintah, bahkan beberapa pengusaha. Tidak se-konyol paranoid terhadap anime One Piece yang terjadi tahun lalu. Kali ini, sebuah film dokumenter yang cukup serius berhasil mendokumentasikan gambaran kolonialisme yang masih eksis pada era modern ini di Indonesia, tepatnya di tanah Papua. Secara ironis, bukan lagi bangsa lain yang bisa kita gugat atau harus dilawan. Siapakah yang harusnya bertanggung jawab atas kolonialisme yang terjadi di tanah Papua? Film “Pesta Babi” yang akan menjawab dan menjelaskannya secara mendalam. TENTANG FILM Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita adalah film dokumenter investigatif hasil kolaborasi dua sutradara lintas generasi,...
Siapa yang Lebih Buas? Membaca Harimau! Harimau! Karya Mochtar Lubis 
Resensi

Siapa yang Lebih Buas? Membaca Harimau! Harimau! Karya Mochtar Lubis 

Identitas buku Judul : Harimau! Harimau! Penulis : Mochtar Lubis  Halaman : 216  Penerbit : Pustaka Obor Indonesia Tahun terbit : Cetakan pertama 1992    Cetakan kedua belas 2025  When people say, “mulutmu harimaumu,” Mochtar Lubis says, “sebelum kalian membunuh harimau yang buas itu, bunuhlah lebih dahulu harimau dalam hatimu sendiri.” Kalimat sakti itu datang dari rekomendasi seorang teman di awal Desember lalu. "Ceritanya 'gong' banget, Ka Didi harus baca!" katanya. Begitu melihat nama sang maestro, Mochtar Lubis, bertengger di sampul, saya langsung tertarik membacanya. Maka, segera setelah carut-marut UAS usai, buku ini resmi saya "lahap". Hasilnya? Saya kembali dibuat terpukau oleh kelihaian Mochtar Lubis dalam memainkan dinamika m...
Menjaga Kewarasan Ala Fahruddin Faiz
Resensi

Menjaga Kewarasan Ala Fahruddin Faiz

Sumber: Dokumentasi pribadi Identitas buku Judul : Menjaga Kewarasan Penulis : Fahruddin Faiz Penerbit : MJS Press Halaman : xiv + 122 Ukuran : 13 x 19 cm Sebagai pecinta sejati, ngga dong… fans berat pak Faiz, belum afdol rasanya kalau ngga beli buku beliau, kan ya? Buku ini saya beli saat ada bazar di belakang Grahatama, mungkin harganya 11 12 dengan biasanya, tapi tak apa, saya lebih menikmati suasana yang ada. Awalnya saya ngga berniat beli buku, karena agak eman-eman aslinya untuk membeli buku tanpa ada “karena” atau alasan yang jelas urgent banget. Apalagi bagi saya yang tidak hobi baca dan lebih mempertimbangkan aspek fungsional daripada untuk koleksi. Tapi, lagi-lagi batinku memberi masukan “rapapa, pisan-pisan, melbu meng bazar, masa ora tuku apa-apa?” translitenya “nggapapa, seka...
Resensi Buku “Sejarah Lengkap Perang Dunia II” Karya Rizem Aizid
Resensi

Resensi Buku “Sejarah Lengkap Perang Dunia II” Karya Rizem Aizid

Identitas Judul Buku : Sejarah Lengkap Perang Dunia II Penulis : Rizem Aizid Penerbit : DIVA Press Tahun Terbit : Cetakan pertama, Februari 2025 Jumlah Halaman : 156 halaman; 14 x 20 cm Genre : Social Sciences Sinopsis Perang Dunia I usai tahun 1918. Kemenangan berpihak pada Blok Sekutu. Mereka adalah Inggris, Prancis, Rusia, dan sekutu-sekutunya. Tetapi, berbagai kebijakan dianggap tidak adil bagi negara-negara yang kalah perang. Sehingga, perdamaian tak kunjung datang. 1939 Perang Dunia II meletus. Ini merupakan akibat dari kebijakan yang merugikan negara-negara yang kalah pada Perang Dunia I. Dengan kata lain, Perang Dunia II menjadi “ajang balas dendam” negara-negara yang kalah dalam perang sebelumnya. Buku ini secara eksklusif menyajikan pembahasan det...