Bedah Novel “Samarkand”: Menelusuri Manuskrip Rubaiyat dalam Dua Zaman

(Sumber: id.pinterest.com/forgedbybooks)

Samarkand adalah novel sejarah karya Amin Maalouf (1988) yang menghubungkan dua zaman lewat satu benang merah: manuskrip asli Rubaiyat karya Omar Khayyam. Bagian pertama berlatar Persia abad ke-11, mengisahkan pertemuan Khayyam—matematikawan dan astronom—dengan Hassan-i Sabbah, pendiri sekte Assassins. Bagian kedua melompat ke abad ke-20, mengikuti perjalanan manuskrip itu hingga akhirnya tenggelam bersama RMS Titanic pada 1912.

Maalouf tidak menulis biografi Khayyam secara literal. Ia meramu narasi fiksional yang membingkai puisi-puisi Khayyam ke dalam konflik politik dan teologis zamannya, memakai tokoh nyata seperti Khayyam, Sabbah, dan Nizam al-Mulk untuk menunjukkan bagaimana sebuah karya bisa bertahan lebih lama daripada penciptanya—dan penghancurnya.

Tiga Pemuda di Nishapur

Cerita dimulai dari masa muda Khayyam, Sabbah, dan Nizam al-Mulk yang belajar bersama di sebuah madrasah di Nishapur. Khayyam lebih tertarik pada hitungan matematika dan astronomi ketimbang perdebatan teologis. Sabbah, anak pejabat lokal yang ambisius, sejak muda sudah menunjukkan hasrat mengendalikan orang lain. Nizam al-Mulk kelak menjadi perdana menteri di bawah Sultan Malik-Shah.

Ketika Nizam al-Mulk berkuasa, ia menawari Khayyam jabatan kepala observatorium di Isfahan—tawaran yang diterima karena Khayyam butuh dukungan untuk risetnya. Di sisi lain, Sabbah yang tengah merencanakan pemberontakan terhadap Seljuk meminta Khayyam menghitung waktu terbaik untuk menyerang. Khayyam menolak tegas. Momen ini jadi titik balik novel: seorang ilmuwan yang memilih tetap di jalurnya sendiri, menolak jadi alat bagi kekuasaan siapa pun. Sejak itu, hubungan mereka bertiga merenggang.

Dari Tangan Khayyam ke Tangan Kolektor

Setelah pelindungnya, Sultan Malik-Shah, wafat, posisi Khayyam melemah dan ia dituduh sesat oleh para ulama. Ia mulai menulis puisi diam-diam, menghimpunnya sebagai “Rubaiyat”—syair tentang anggur, cinta, dan keraguan pada takdir yang ia sadari akan dianggap sesat, sehingga tak pernah ia edarkan.

Sepeninggal Khayyam, manuskrip itu berpindah tangan: disalin, dicuri, dijual, melewati invasi Mongol dan pergantian dinasti, hingga akhirnya mengembara ke Eropa dan Amerika di tangan pedagang yang menghargainya bukan karena isinya, melainkan karena nilainya.

Titanic dan Akhir Perjalanan Manuskrip

Di 1912, manuskrip itu ada di tangan Benjamin O. Lesage, kolektor Amerika yang membelinya di Persia dan membawanya naik Titanic dari Southampton. Lesage digambarkan lebih bangga memiliki benda langka ketimbang memahami isinya. Saat kapal menabrak gunung es, ia berusaha menyelamatkan manuskripnya—dan gagal. Manuskrip itu tenggelam bersama ribuan penumpang lainnya.

Pesan yang saya tangkap: sebuah karya bisa bertahan lebih lama dari penciptanya, tapi tidak akan bertahan jika hanya diperlakukan sebagai benda mati. Khayyam menulis Rubaiyat sebagai pelipur lara pribadi, tapi setelah ia tiada, manuskripnya justru diperebutkan orang-orang yang hanya peduli pada prestise dan kepemilikan—hingga tenggelam sebagai sekadar koleksi mewah. Menjaga sebuah karya bukan cuma soal menyimpan bendanya, tapi terus mendiskusikan dan menyebarkan gagasan di dalamnya.

Penilaian Akhir

Saya membaca Samarkand atas rekomendasi guru sejarah saya. Adegan yang paling membekas: saat Khayyam menolak membantu Sabbah—keputusan berat, menolak teman masa muda yang tahu bisa jadi sangat berbahaya. Bagian Titanic juga terasa menyedihkan: setelah bertahan berabad-abad, manuskrip itu hilang begitu saja di pelayaran pertama kapal yang diklaim “tak bisa tenggelam”.

Novel ini memang padat, terutama di bagian pertama yang sarat nama dan istilah Persia—tapi justru di situlah letak kekuatannya. Saya beri 8 dari 10. Dua poin hilang karena bagian kedua terasa kurang seimbang dan beberapa dialog agak terlalu modern untuk zamannya. Tetap saya rekomendasikan untuk siapa pun yang suka cerita sejarah berbalut konflik ideologi—dan jangan buru-buru membacanya, terutama di bagian pertama.

Aditiya Widodo Putra

Seorang penulis lintas bidang berusia 18 tahun dari Kota Semarang—kota yang mengajarkan saya bahwa pantai dan perbukitan bisa berdampingan dalam satu pandangan, sebagaimana suka dan duka bisa tinggal bersama dalam satu dada. Pemilik akun Instagram @adit_widodoputra.

Tinggalkan Balasan