Artikel

Tak Hanya Tentang Nilai, tetapi Juga Kesungguhan dalam Bertanggung Jawab: Potret Evaluasi Imtihan Semester Gasal Madrasah Diniyah Nurul Ummah Putri
Berita

Tak Hanya Tentang Nilai, tetapi Juga Kesungguhan dalam Bertanggung Jawab: Potret Evaluasi Imtihan Semester Gasal Madrasah Diniyah Nurul Ummah Putri

(Dokumentasi Media Pondok) Jalan-jalan ke kota lamaJangan lupa singgah membeli bukuJika di kampus mencari gelar sarjanaMaka di madrasah kalian menata kalbu (Pantun yang disampaikan oleh Ibu Ani Khumaeroh, Kepala Madrasah Diniyah Nurul Ummah Putri, saat menutup sambutannya) YKD – Kamis (17/9), Madrasah Diniyah Nurul Ummah Putri merayakan keberhasilan pembelajaran kitab kuning selama satu semester dalam acara “Penerimaan Rapor Semester Gasal”. Sebelum acara dibuka, penampilan hadroh Azkiya Syakira hadir menemani para peserta dan tamu undangan. Acara dipandu oleh Ibu Rifka Nasyifatul dan Ibu Siti Solehah sebagai Master of Ceremony. Pembacaan ummul qur’an menjadi agenda pertama dalam acara ini, yang kemudian dilanjutkan oleh pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Sarah Jane. Setelahnya,...
Tujuan Besar, Langkah yang Buyar: Menyelami 3 Objek Pengaruh Diri
Esai, Opini

Tujuan Besar, Langkah yang Buyar: Menyelami 3 Objek Pengaruh Diri

Sumber: Generate AI Apa cita-cita Anda? Apakah cita-cita yang Anda miliki hari ini masih sama dengan cita-cita ketika kecil? Sudah sejauh mana Anda berjalan untuk menjemputnya? Hampir setiap orang memiliki tujuan hidup. Kita menyusun rencana, membuat daftar impian, bahkan menentukan jalan yang menurut kita paling tepat untuk mencapainya. Kita membayangkan diri kita lima atau sepuluh tahun ke depan. Menjadi seseorang yang berhasil, dihormati, dan hidup sebagaimana yang selama ini kita impikan. Namun hidup sering kali terasa berjalan ke arah yang berbeda. Semakin waktu berlalu, cita-cita itu justru tampak semakin jauh. Bukan karena kita tidak mampu meraihnya. Bukan karena jalur yang kita atur itu ngelantur. Mimpi yang kita idamkan bukan juga dari buah tidur. Da...
Bunga Perangkap
Puisi, Sastra

Bunga Perangkap

Sumber: Unsplash - Rebecca Matthews Jauh, tak pasti jaraknya Suara auman terdengar riuh Seperti kawanan terbebas Dari jerat yang menipu Matanya menyapu lantai merah; Melotot tanpa kedip Tersapu angin pilu Tertahan serpih tanah Jantungnya berdegup kencang Semakin panas napas terburu Bersiap jika terulang perang Melawan ulah kawan baru Ia adalah pekerja kebun palsu Pandai menabur kembang Yang wanginya semerbak Semu rekah memukau mata Berwujud jimat pemikat nurani Sungkan dilawan apalagi ditentang Hingga sekujur raga menolak enyah, terpaku pada pijak terakhir: beku (Cilacap, Agustus 2026)
Warisan dari Bukit yang Dijanjikan
Cerpen, Sastra

Warisan dari Bukit yang Dijanjikan

Sumber: Generated AI Angin dari lereng Gunung Lawu masih menempel di jubah Rororesmi ketika rombongan terhenti di sebuah hutan rimba yang belum bernama. Kabut tipis menggantung di antara pepohonan yang menjulang, suara jangkrik bersahutan seolah menyambut kedatangan mereka dengan curiga. Rombongan mereka sudah berbulan-bulan berjalan untuk menemukan tempat istirahat. Sejak malam ketika Trowulan diliputi tangis dan asap atau yang biasa dikenal sirna ilang kertaning bumi. Rororesmi yang merupakan salah satu selir Prabu Brawijaya V tak sempat lagi menoleh terakhir kalinya untuk melihat istana yang megah. Ia hanya berbekal keberanian dengan menggenggam tangan kedua putranya, serta sisa para prajurit yang masih setia meski dunia yang mereka kenal telah runtuh. Onggoloco dan Gading Mas ada...
Sering Ribut karena Batal Wudhu Tersentuh Pasangan? Ini Pandangan Fikihnya
Esai, Opini

Sering Ribut karena Batal Wudhu Tersentuh Pasangan? Ini Pandangan Fikihnya

Sumber: pinterest.com/patimatismailova04 Dalam kehidupan rumah tangga, ada satu momen sederhana yang sering kali memicu pertengkaran: saat suami atau istri baru saja berwudhu, lalu tanpa sengaja kulit mereka bersentuhan. ​Seketika timbul perdebatan klasik yang terus berulang, loh kog disentuh sih batal kan wudhu lagi ini. Jika kejadian ini hanya sekali tentu tidak akan ada pertengkaran kecil, namun bagaimana jika sering terjadi? Bukan tidak mungkin karena kita tinggal satu rumah dengan istri tentu gesekan, senggolan atau sentuhan tidak dapat dihindari, niat hati menjaga wudhu malah batal, baru selesai wudhu wajah masih basah tanpa sengaja tersentuh lagi. Muncul pertanyaan klasik yang membingungkan: Aduh, batal tidak sih sebenarnya ini, gara-gara batal wudhu mala...
Takzim Maulid Nabi SAW 1448 H: Merawat Mahabbah kepada Baginda Nabi di Malam Rabiul Awal
Berita, Feature

Takzim Maulid Nabi SAW 1448 H: Merawat Mahabbah kepada Baginda Nabi di Malam Rabiul Awal

Sumber: Dokumentasi Media Pondok Malam di Kotagede terasa begitu teduh pada Senin malam Selasa, 12 Rabiul Awal 1448 H/24 Agustus 2026. Di Pendopo Al-Khadijah, para santri berkumpul dengan kitab maulid di tangan. Selepas menunaikan sholat Isya berjamaah, satu per satu mereka memenuhi lokasi untuk mengikuti Takzim Maulid Nabi Muhammad SAW Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 20.30 WIB tersebut menjadi salah satu momentum bagi para santri untuk kembali mengingat sosok Baginda Nabi Muhammad SAW, sekaligus merawat rasa cinta dan rindu kepada beliau melalui lantunan sholawat dan pembacaan maulid. Rangkaian acara diawali dengan lantunan sholawat oleh Tim Hadroh Sabilus Syafaat. Wulidal Huda dan Wulidal Musyarrof turut dilantunkan untuk membuka suasana malam. Setelah itu, pembacaan Simtudd...
Puisi Bulan Maulid
Puisi, Sastra

Puisi Bulan Maulid

Sumber: pinterest.com/Manju Nur Ya... Nabi Di tengah zaman yang semakin cepat, di tengah zaman yang semakin ramai, di tengah zaman yang semakin menjauh dari iman. Aku... umatmu, wahai Nabi, terjerat kebingungan, tercekik hawa nafsu. Ke mana arahnya, wahai Nabi? Kepada siapa umatmu harus bercerita? Sedang tak pernah sedetik pun kutatap wajahmu? Kutanya pada temanku, “terserah,” ucapnya. Kutanya pada keluargaku, “kau sudah dewasa,” katanya. Kutanya pada guruku, “kau sendiri adalah guru bagi dirimu sendiri,” dawuhnya. Lalu bagaimana? Aku sendiri sudah hilang arah. Kubaca ulang kisahmu dalam kalam-kalam-Nya. Kutemukan cahaya dalam hatiku. Ketika kusebut berulang kali, berulang-ulang kali namamu dalam setiap napas, ...
Setulus Semesta Mencintai
Puisi, Sastra

Setulus Semesta Mencintai

Sumber: pinterest.com/beyzabetull Setulus semesta mencintai hujan Tetap setia ketika langit tak berawan Engkau tetap menjadi tujuan Di kala badai tak berkesudahan Setulus semesta mencintai pelangi Yang menjadikan indahnya abadi Ia tak membiarkan kau sendiri  Dan aku ada di sini Setulus semesta mencintai gerhana Cahaya merambat mengalirkan rasa Menjadikannya tetap ada Tak pernah sirna
Haflah Khotmil Al-Qur’an XXIV PP. An-Nur Ngrukem: Khotmil Bukanlah Sebuah Akhir, Melainkan Sebuah Permulaan
Berita, Feature

Haflah Khotmil Al-Qur’an XXIV PP. An-Nur Ngrukem: Khotmil Bukanlah Sebuah Akhir, Melainkan Sebuah Permulaan

Sumber: Media An-Nur Ngrukem Sabtu (15/8), acara syahdu nan khidmah digelar sebagai bentuk rasa syukur atas titik penting perjuangan santri Pondok Pesantren An-Nur Ngrukem dalam menghafalkan Al-Qur’an. Haflah Khotmil Qur’an ke-XXIV menandai selesainya proses santri menempuh pembelajaran Al-Qur’an 30 juz, yang terbagi menjadi 3 kategori: bin nadzri, bil ghoib, serta bi qira’ati sab’ah.  Haflah tahun ini terasa semakin istimewa karena bertepatan dengan peringatan setengah abad Pondok Pesantren An-Nur Ngrukem. Untuk menyambut momentum tersebut, panitia dan dzurriyah menyusun rangkaian acara selama dua hari dua malam. Malam pertama diisi dengan peringatan harlah melalui penampilan santri, tasyakur harlah, serta pengumuman pemenang lomba pre-event. Sementara malam kedua diisi dengan rangk...
Gema Kemerdekaan di Tanah Pesantren: Keseruan, Tradisi, dan Persahabatan Mendunia
Berita, Feature

Gema Kemerdekaan di Tanah Pesantren: Keseruan, Tradisi, dan Persahabatan Mendunia

Sumber: Dokumentasi Media Pondok YKD - Tujuh belas Agustus selalu menghadirkan magis tersendiri. Di bawah naungan langit kemerdekaan yang membentang luas, udara pagi bergetar oleh derap langkah antusiasme santri yang tumpah ruah ke lapangan. Tahun ini, perayaan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia terasa kian istimewa, memadukan gelora sportivitas tradisional dengan kehangatan sapaan dunia internasional, tatkala tawa riuh berpadu dalam harmoni kebersamaan yang tulus. Kemeriahan pagi dibuka dengan semangat gotong royong yang kian berkobar melalui spider ball, sebuah permainan kolaboratif yang menuntut gotong royong dalam mencapai tujuan. Dalam permainan ini, lima orang bergerak seirama, menopang sisi-sisi sarung yang menjadi wahana penyeimbang, sementara seorang rekan bertelungkup di a...