Haflah Khotmil Al-Qur’an XXIV PP. An-Nur Ngrukem: Khotmil Bukanlah Sebuah Akhir, Melainkan Sebuah Permulaan

Sumber: Media An-Nur Ngrukem

Sabtu (15/8), acara syahdu nan khidmah digelar sebagai bentuk rasa syukur atas titik penting perjuangan santri Pondok Pesantren An-Nur Ngrukem dalam menghafalkan Al-Qur’an. Haflah Khotmil Qur’an ke-XXIV menandai selesainya proses santri menempuh pembelajaran Al-Qur’an pada tingkat juz 30 bil ghoib, 30 juz bin nadzri, 30 juz bil ghoib, dan 30 juz bi qira’ati sab’ah

Haflah tahun ini terasa semakin istimewa karena bertepatan dengan peringatan setengah abad Pondok Pesantren An-Nur Ngrukem. Untuk menyambut momentum tersebut, panitia dan dzurriyah menyusun rangkaian acara selama dua hari dua malam. Malam pertama diisi dengan peringatan harlah melalui penampilan santri, tasyakur harlah, serta pengumuman pemenang lomba pre-event. Sementara malam kedua diisi dengan rangkaian Haflah Khotmil Qur’an. Bagi Mbak Umi, salah seorang panitia, perayaan ini terasa istimewa sekaligus menjadi pengalaman pertamanya terlibat dalam kepanitiaan bagian acara setelah empat tahun menjadi santri di An-Nur. 

Menambah kekhidmatan, rangkaian Haflah Khotmil Qur’an dilanjutkan dengan lantunan do’a khotmil oleh Ibu Nyai Hj. Barokah Nawawi, pengasuh Pondok Pesantren Nurul Ummah Putri. Setelah pembacaan do’a, prosesi wisuda bagi khotimin 30 juz bil ghoib dan 30 juz bi qira’ati sab’ah dipimpin oleh Bapak Kiai Muslim Nawawi serta Ibu Nyai Umi Azizah Nawawi, kemudian dilanjutkan dengan foto bersama dzurriyah Ngrukem. 

Potret Khatimat sedang khidmat berdo’a

Setelah rangkaian acara wisuda Khotmil Qur’an, lantunan tilawah dikumandangkan oleh Ustaz Choirul Munada. Acara kemudian disambung dengan pembacaan tahlil oleh K.H.R. Abdul Hamid Abdul Qadir, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak. 

Bapak Kiai Muslim Nawawi kemudian menyampaikan sambutan sebagai Pengasuh Pondok Pesantren An-Nur Ngrukem. Beliau menekankan bahwa acara khotmil ini bukanlah sebuah akhir, melainkan sebuah permulaan dari perjalanan panjang dalam menjaga kalam suci. Al-Qur’an seharusnya tidak sekadar untuk dibaca, tetapi juga perlu diketahui lafaz dan maknanya. Oleh karena itu, beliau berpesan kepada para santri agar tidak terburu-buru meninggalkan pondok pesantren, karena menjaga Al-Qur’an sampai lancar bukanlah sebuah kemudahan. 

Beliau juga melanjutkan bahwa proses pembelajaran tidak berhenti hanya pada pembelajaran Al-Qur’an. Pentingnya mengetahui makna menunjukkan bahwa langkah selanjutnya adalah mempelajari kitab turats yang seharusnya dilakukan di awal sebelum pembelajaran Al-Qur’an, seperti para masyayikh

Sambutan selanjutnya disampaikan oleh Bapak H.M. Agus Nafi’ sebagai perwakilan wali santri. Beliau mengungkapkan rasa terima kasih kepada para guru yang telah membimbing para khotimin dan khotimat, tak lupa juga meminta do’a untuk para santri. 

Potret Dzurriyyah bersama Khatimat bil hifdzi 30 juz

Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan mauidhoh bersama Abah Abdul Nasir Badrus Sholeh, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikmah Purwoasri Kediri. Menjaga Al-Qur’an dari rumah itu sangat sulit, sehingga beliau membenarkan pesan dari Kiai Muslim bahwa jangan terburu-buru untuk boyong ke rumah. Ibadah yang seharusnya diberikan kepada mata kita adalah melihat Al-Qur’an. Beliau berpesan bahwa penghafal Al-Qur’an seharusnya meniatkan lima hal, yakni qari’an (orang yang membaca), muqri’an (orang yang membacakan), mustami’an (orang yang saling mendengarkan), sami’an (orang yang mendengarkan) dan mustasmi’an (orang yang mengharapkan untuk didengarkan). 

Qari’an (orang yang membaca) maksudnya adalah orang yang selalu mengulang-ulang untuk membaca Al-Qur’an. Kita harus selalu memiliki keinginan untuk membaca dan mengharap Al-Qur’an. Muqri’an (orang yang membacakan) maksudnya adalah memiliki teman yang juga senantiasa membacakan ayat Al-Qur’an, sedikit saja salah memilih jodoh akan mengancam keberlangsungan Al-Qur’an. Mustami’an (orang yang saling mendengarkan) maksudnya adalah tidak selamanya kita ingin didengarkan, tetapi kita juga harus suka mendengarkan bacaan Al-Qur’an orang lain seperti hadir di majelis-majelis simakan. Sami’an (orang yang mendengarkan) maksudnya adalah kita harus selalu mendengarkan hal-hal baik. Hati harus selalu diisi dengan kebaikan seperti Al-Qur’an, sebaik-baiknya hati adalah hati yang tidak kemasukan hal-hal buruk. Mustasmi’an (orang yang mengharapkan untuk didengarkan) maksudnya kita harus selalu menjadi orang yang diharapkan untuk didengarkan bacaan Al-Qur’annya. Bumi Allah ini tidaklah sempit hingga ilmu bacaan Al-Qur’an yang kita miliki tidak dibutuhkan oleh siapa pun.

Mauidhoh ditutup dengan pembacaan Fatihah untuk khotimin dan khotimat serta dilanjutkan dengan do’a oleh Abah Nashir.

Editor:Nayla Sya

Tinggalkan Balasan