Terima Kasih, Para Pahlawan RI!

Sumber: Dokumentasi Media Pondok

YKD – Malam itu, Pendopo Al-Khadijah, tempat kegiatan santri Pondok Pesantren Nurul Ummah Putri Kotagede alangkah cantiknya terhias ramai bendera merah putih mengelilingi lampu tengah ruangan. Terpasang rapi latar belakang bertuliskan “Dirgahayu 81 Tahun Republik Indonesia” di bawahnya. Gema sholawat pun menemani pembukaan acara berjudul “Malam Tirakatan” ini.

“Ciri bangsa besar adalah bangsa yang pandai berterima kasih serta menghormati pengorbanan, perjuangan, dan jasa para pendahulunya,” ucap K.H. Munir Syafaat, pengasuh Pondok Pesantren Nurul Ummah Putri dan Pondok Pesantren Kotagede Hidayatul Mubtadi-ien, mengawali mauidzoh hasanah dalam tradisi “Malam Tirakatan” kemerdekaan Republik Indonesia bersama segenap santri, Ahad malam (16/08).

Sehubungan dengan peringatan kemerdekaan RI, Malam Tirakatan sudah menjadi tradisi turun menurun. Suasana khidmah dalam proses tahlil dan do’a bersama menjadi refleksi malam tirakatan delapan puluh satu tahun Indonesia diproklamasikan kemerdekaannya. 

Abah Munir, sapaan akrab K.H. Munir Syafaat, dalam sambutannya menyampaikan tentang refleksi kemerdekaan. “Kegiatan doa bersama dan pembacaan tahlil pada malam tirakatan merupakan bentuk syukur kepada Allah SWT dan penghormatan kepada para syuhada serta pendiri bangsa yang telah bertaruh nyawa untuk Indonesia.”

Ungkapan syukur tersebut berlanjut hingga keesokan harinya (17/08). Pukul 07.00, telah berbaris rapi para santri Pondok Pesantren Kotagede Hidayatul Mubtadi-ien dan Pondok Pesantren Nurul Ummah Putri di halaman SMA Islam Darussalam. Tak lupa turut serta para tamu undangan, di antaranya Ibu Nyai Hj. Barokah Nawawi, Agus Minanullah, dan para pengurus Yayasan Kotagede Darussalam lainnya. 

Segenap petugas upacara melaksanakan prosesi upacara dengan lancar, meliputi pimpinan upacara, pembawa baki, hingga grup paduan suara. 

Dalam amanatnya, Abah Munir selaku pembina upacara menekankan pentingnya terus menghaturkan syukur kepada Allah SWT atas anugerah kemerdekaan yang telah dirasakan selama 81 tahun, agar bangsa Indonesia senantiasa diberkahi dan dirahmati. “Upacara ini bertujuan untuk mengenang pengorbanan para pendiri bangsa yang telah mencurahkan harta, air mata, hingga nyawa demi kemerdekaan. Hal ini diharapkan menumbuhkan jiwa hubbul wathan (cinta tanah air).”

“Masa depan bangsa ada di tangan generasi muda,” lanjutnya di hadapan para santri. “Bertanggung jawab dalam menjaga, melestarikan, dan mengisi kemerdekaan adalah suatu keniscayaan agar Indonesia menjadi negara yang kuat, makmur, dan berdaulat.”

Potret Abah Munir sebagai Pembina Upacara 17 Agustus

Dalam penutupan pembacaan amanat, Abah Munir menyampaikan pentingnya strategi mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mengisi kemerdekaan harus dimulai dengan membangun sisi spiritual dan jiwa melalui ilmu, agama, serta akhlak, baru kemudian membangun sisi fisik atau pembangunan negara.

Upacara berlangsung kurang dari satu jam, hingga petugas upacara membubarkan barisan. Selanjutnya diadakan sesi foto bersama pengasuh dengan para santri. 

Refleksi kemeriahan peringatan kemerdekaan Republik Indonesia setiap tanggal 17 Agustus merupakan pendorong bagi bangsa Indonesia agar terus menjaga kedaulatan negara, mencintai  tanah air, serta tidak melupakan perjuangan para pahlawan kemerdekaan Indonesia. Terima kasih, para pahlawan dan pejuang negara!

Editor:Nuril
Dilla Azkiya

Dadio wong lirkadyo Isim Mu'rob

Tinggalkan Balasan