Puisi

Puisi

Satu Malam Bersama Ibu
Puisi, Sastra

Satu Malam Bersama Ibu

Sumber: Dokumentasi Panitia Harlah 2026 Kita rayakan malam ini bersama Ibu Karena untuk apa merayakan kelahiran bangunan, tanpa merayakan panjangnya perjuangan? Lalu siapa lagi kalau bukan sosok pejuang di baliknya, yang akan kita rayakan, tapi nyatanya sering kita lupakan. ... Akankah kita paham? Telah banyak derai air mata yang Ibu lalui Malam-malam panjang yang telah Ibu jalani Bahkan gedoran bukti cinta yang sering kali salah kita pahami ... Akankah kita merasakan? Betapa beratnya Ibu berjuang untuk mempertahankan pondok tercinta ini? Tapi tidak, tidak ada kata menyerah Ibu bukanlah sosok yang mudah putus asa Niat yang kuat, lillah karena-Nya, pastilah menjadi penguatnya ... Dan kita… kita… Kita bersama-sama melanjutkan perjua...
Gersang
Puisi, Sastra

Gersang

Sumber: kibrispdr.org Serak suara hati Terseok-seok merambak sunyi Memaksa berjalan tanpa jeli Ini tentang perangai yang sudi Sudi memberi sinar semi Sudi memberi petuah selembut kain sari Sudi memberi sinyal tajamnya duri Sudi memberi nasihat sehangat mentari Naas, perangai itu terlanjur jauh dari musim semi Gersang, kering, tanpa asri Maka ia serak meneriaki Memberi sudi terlampau sunyi Tak ada lantang menemani Sungguh ia menangis dan berbisik sendiri Berbisik pada gersang yang menyelimuti Berharap hujan turut serta berbaik hati Memberi guyuran rasa syukur yang sangat mahal dari Rabbi Guyuran rasa syukur atas indahnya muka bumi Maka, gersang jauh pergi Subur lalu asri telah mati suri. Penulis: Dilla Azkiya
LangitDjiwa 2
Puisi, Sastra

LangitDjiwa 2

Suasana toko buku akik. Foto : Tias /3/ Dilarang Mencintai Kesedihan Kepada: Van Deventer Doa ku berceceran, jatuh disana Ia menjelma kesiur yang berhembus dimana-mana Jalin-menjalin, raga, sukma  Riuhnya bagai nyayian lara Yang memeras air mata -------------------------------------- Adakah secercah harap yang kerap kalap Adakah yakin di tengah kepercayaan yang miskin Inikah yang aku perjuangkan Tuhan? Tapi bagaimana caranya bertahan? C13, 2025  /4/ Gaduh Wirid-wirid ku kini luruh bahasa pikiran yang gaduh terperosok jauh jatuh ----------------------------------------- Peradaban kelelahan waras berakal ketidakjelasan egoisme mematikan fikir dan dzikir bersuara dicaci diam menjadi-jadi. ----------------...
LangitDjiwa1
Puisi, Sastra

LangitDjiwa1

Dok. Pribadi penulis. Sumber : (Diah Nurasih) /1/ Kidung Suluk Kawula Gusti Di sudut kota yang bergemuruh sunyi Puisi ku tiba lebih dulu dari bulan Juni Ia menjelma doa Kata-kata terlahir, menghujam sukma, Menari di atas sujud, diantara dunia yang fana. ------------------------------------------------- Dalam dada hamba Tangis menyatu dalam tafakur mendalam, Menghadap pada peraduan jiwa Tercabik oleh derasnya arus kehidupan Yang menderu tanpa ampun Doa pun menjelma bagai angin, Menyapa malam, merasuk ke relung sunyi. --------------------------------------------- Beginikah hidup, Gusti? Aku mengetuk-Mu dengan dada yang kian senyap dan jiwa yang menganga Beginikah cinta-Mu, Gusti Yang tak terdengar Tapi menggetarkan Yang tak...
“Coba Ulang?”
Puisi, Sastra

“Coba Ulang?”

Dari balik batas tembus pandang,Agaknya harapan yang mulai usang itu melayang-layang,Melambai-lambai ingin ditantang,"Hei, kemari! mana dirimu yang giat meramu mimpi di pulau seberang?"Lirih suara bagai radio yang usang,Agaknya kausalitas pendengar dan pengucapan belum hilang,Balasannya begini: "apa katamu? coba ulang!"…Dari balik batas tembus pandang,Setidaknya bukan amukan karena balasan nada menantang,Menjawab tersenyum sambil bersenang,"Hei, kemari! mana dirimu yang giat meramu mimpi di pulau seberang?"Nyaring suara bagai gitar park jong seong yang berdendang,Agaknya harapan usang itu masih, sedang, bahkan tetap menjadi piutang,Balasannya begini : "Tenang, sebenarnya aku juga tidak ingin curang".…Dari balik batas tembus pandang,Nyatanya zona nyaman terkadang perlu menghilang. Sajak ...