LangitDjiwa1

/1/ Kidung Suluk Kawula Gusti

Di sudut kota yang bergemuruh sunyi

Puisi ku tiba lebih dulu dari bulan Juni

Ia menjelma doa

Kata-kata terlahir, menghujam sukma,

Menari di atas sujud, diantara dunia yang fana.

————————————————-

Dalam dada hamba

Tangis menyatu dalam tafakur mendalam,

Menghadap pada peraduan jiwa

Tercabik oleh derasnya arus kehidupan

Yang menderu tanpa ampun

Doa pun menjelma bagai angin,

Menyapa malam, merasuk ke relung sunyi.

———————————————

Beginikah hidup, Gusti?

Aku mengetuk-Mu

dengan dada yang kian senyap

dan jiwa yang menganga

Beginikah cinta-Mu, Gusti

Yang tak terdengar

Tapi menggetarkan

Yang tak terlihat

Tapi merengkuh ku pelan-pelan.

——————————————

Aku menangis lagi,

Karena rindu yang tak sembuh,

Karena sunyi yang tak terlalu penuh,

karena Engkau

yang terlalu jauh dan terlalu dekat

dalam waktu yang tak kusentuh.

—————————————–

Duh gusti,

Apakah kau masih bersemayam disini?

Pada hati

Pada semua janji-janji

Pada hidup, pada mati.

Kotagede, 2024

/2/ Adu Rayu

Rapal-rapal doa saya

Saut-saut tak berkesudahan

Rayu, tuhan, saya, rayu

Doa-doa adu rayu

Doa saya,

Doa hamba-hamba

Adu rayu, doa saya, doa hamba-hamba

Tuhan

Saya pilih doa lagi

Amin

The Ratan, 2025