
Sumber: Dokumentasi pribadi
Catatan di Tepi Zaman yang Kehilangan Rumongso
Tidak pernah dalam sejarah manusia, informasi sebanyak ini bisa diakses semudah ini.
Satu ketukan jari dan kamu bisa membaca laporan ilmiah dari universitas terkemuka di dunia. Satu scroll pendek dan kamu sudah “tahu” tentang konflik geopolitik, teori fisika kuantum, atau resep masakan tradisional dari negeri yang belum pernah kamu kunjungi.
Kita hidup di puncak gunung informasi. Yup! Abad ke 20. Tapi anehnya, justru di puncak inilah kita mulai kehilangan sesuatu yang jauh lebih tua dari teknologi, yakni kemampuan untuk merasa belum tahu.
Di akhir penghujung tahun 2025, untuk pertama kalinya secara masif, ketika ramainya berita tentang peperangan antara Iran dengan Amerika Serikat, manusia tidak bisa lagi memastikan apakah sebuah gambar itu nyata atau buatan mesin. Wajah yang tidak pernah ada. Kejadian yang tidak pernah terjadi. Suara yang tidak pernah terucap. Deepfake bukan lagi mainan teknisi. Bahkan saat ini kita mengetahui sudah ada di linimasa, bercampur dengan foto kelulusan, video pernikahan, dan breaking news. Dan yang paling mengerikan bukan soal teknologinya. Yang paling mengerikan adalah kita tetap merasa yakin. Kita tetap men-share. Tetap berkomentar. Tetap berdebat atas sesuatu yang mungkin tidak pernah ada.
Inilah wujud paling modern dari rumongso iso. Merasa bisa menilai. Merasa sudah paham. Padahal kemampuan untuk ragu — yang justru tanda kecerdasan paling mendasar — perlahan terkikis. 2030. 2050. Lalu Bagaimana? Tidak ada yang tahu pasti. Tapi ada satu skenario yang diam-diam sudah berjalan: ketika mesin berpikir semakin canggih, manusia perlahan menyerahkan tugasnya untuk berpikir. Bukan karena dipaksa. Tapi karena nyaman.
Kenapa susah-susah menganalisis kalau AI bisa menyimpulkan? Kenapa repot-repot mengingat kalau Google selalu ada? Kenapa perlu ragu kalau feed sudah memilihkan mana yang “relevan” untukmu? Kenyamanan ini berbahaya bukan karena ia menyakiti — tapi justru karena ia tidak terasa sakit sama sekali.
Otak yang jarang dipakai untuk meragukan, lama-lama kehilangan kemampuan meragukannya. Dan manusia yang kehilangan kemampuan meragu adalah manusia yang paling mudah dikendalikan oleh algoritma, oleh narasi, oleh siapa pun yang paling keras berteriak di ruang panggung digitalnya.
Di tengah semua ini, ada sebuah kalimat tua dari tradisi pesantren yang terasa makin relevan: “Tetep iso rumongso. Ora rumongso iso.” Tetaplah bisa merasa. Jangan merasa bisa. Kalimat ini bukan ajakan untuk bodoh. Bukan ajakan untuk tidak percaya diri. Ia adalah pengingat bahwa kecerdasan sejati selalu dimulai dari kesadaran akan batasan diri sendiri.
Orang yang iso rumongso tidak langsung percaya pada satu sumber. Ia berhenti sebentar sebelum men-share. Ia bertanya “benarkah ini?” bahkan ketika seluruh linimasa sudah meyakininya. Ia tahu bahwa gambar bisa dibuat, video bisa diedit, dan keyakinan yang tidak diuji adalah keyakinan yang rapuh. Sedangkan orang yang rumongso iso — ia adalah pengguna yang paling disukai algoritma. Paling mudah dipancing. Paling cepat tersulut. Paling yakin, justru pada hal yang paling perlu diragukan. Bukan Soal Bodoh atau Pintar.
Pertanyaannya, bukan lagi apakah manusia semakin pandai atau bodoh. Pertanyaannya adalah: apakah manusia masih mau bersusah payah untuk tidak pasti?
Karena di zaman yang menjual kepastian instan di setiap sudut layar, memilih untuk ragu adalah tindakan yang butuh keberanian. Memilih untuk bilang “aku belum tahu” di tengah kebisingan orang-orang yang merasa sudah tahu — itu bukan kelemahan. Itu mungkin satu-satunya bentuk kecerdasan emosional yang tidak bisa digantikan mesin. Semakin dalam ilmu, semakin dalam rasa tidak tahunya. Semakin canggih zamannya, semakin dibutuhkan manusia yang mau merasa. Iso rumongso di zaman yang paling rumongso iso.
Penulis: S. Khoirunnisa | Editor : Dere
