Tag: pesantren

Antara Kebebasan Pers dan Etika Jurnalistik: Ketika Pesantren Dijadikan Komoditas Konten
Opini

Antara Kebebasan Pers dan Etika Jurnalistik: Ketika Pesantren Dijadikan Komoditas Konten

Beberapa waktu terakhir, dunia pesantren lagi-lagi jadi bahan obrolan publik. Entah kenapa, setiap kali ada isu soal pesantren, masyarakat seperti terbagi dua: yang benar-benar paham dan yang cuma ikut-ikutan rame. Mulai dari tuduhan soal “feodalisme pesantren”, kasus kekerasan seksual yang bikin miris, sampai musibah robohnya musholla Pondok Pesantren Al-Khoziny yang sempat bikin linimasa penuh ucapan duka. Belum sempat napas, eh, muncul lagi tayangan “Xpose Uncensored” di Trans7 tanggal 13 Oktober 2025 yang menyorot kehidupan pesantren dan beberapa sosok Kyai dan Bu Nyai.  Terdapat sosok KH. Anwar Manshur, pendiri Pesantren Hidayatul Mubtadi’at Lirboyo. Tayangan yang disiarkan pada 13 Oktober 2025 itu memicu kegaduhan public khususnya Masyarakat peaantren karena dianggap menampilkan n...
Menggugat Tafsir Sempit tentang Barokah
Artikel

Menggugat Tafsir Sempit tentang Barokah

Sumber : id.pinterest.com (Karya ini merupakan finalis Lomba Menulis YKD 2025 yang diselenggarakan dalam rangka menyambut HUT ke-80 Republik Indonesia) Di tengah kehidupan pesantren, istilah barokah sering dijadikan magnet motivasi santri untuk tekun berkhidmah. Barokah atau yang biasa disebut dengan berkah, secara bahasa berarti bertambahnya kebaikan dan manfaat secara berkesinambungan. Namun, dalam praktiknya, masih banyak santri yang memaknai hal tersebut secara sempit. Mereka berpikir bahwa barokah hanya diperoleh melalui ketaatan mutlak dan khidmah fisik kepada kiai. Padahal dalam khazanah Islam, barokah memiliki makna yang jauh lebih luas dan mencakup berbagai bentuk pengabdian, termasuk melalui jalan keilmuan dan intelektual. Pemahaman yang terbatas ini berpotensi mengekang kr...
Santri dan Kemerdekaan Pendidikan
Esai

Santri dan Kemerdekaan Pendidikan

Sumber: Dokumen Media PPKHM (Karya ini merupakan finalis Lomba Menulis YKD 2025 yang diselenggarakan dalam rangka menyambut HUT ke-80 Republik Indonesia) Pendahuluan Sejak dahulu, santri mendapat stereotipe sebagai kaum sarungan yang dipandang religius dan tradisional, serta tidak bisa dilepaskan dari masjid, pesantren, dan kitab kuning. Namun, fenomena santri masa kini sering kali tampak berbeda, baik dari cara berpakaian maupun gaya hidup yang dianggap semakin jauh dari kesan agamis dan tradisional. Lebih dari itu, penggunaan kitab kuning sebagai rujukan ilmu di pesantren pun kerap diragukan relevansinya di era modern. Peristiwa pertempuran Kota Surabaya 22 Oktober 1945 pun menjadi pembeda dalam dunia santri waktu itu. Ia hadir sebagai saksi dari keheroikan para santri yang d...