
https://pngtree.com
Penulis: Muhammad Fatih | Editor: Adhwa Nala
Desember, D-nya “ditinggal ndekne pas lagi serius-seriuse ngapalke 1002 bait alfiyah” (di-ghosting doi tatkala serius menghafal 1002 bait alfiyah), masyaallah tabarakallah hehe. Kalau dalam peribahasa Jawa, Desember memiliki arti “deres-derese sumber” (deras-derasnya sumber/mata air). Seperti yang kita tahu, bulan Desember sudah pasti dihiasi miliaran tetes air hujan yang mengguyur manusia-manusia hopeless romantician dengan seribu quotes galaunya. Sedang bagi beberapa manusia yang lain, hujan di bulan Desember menjadi sebuah alarm akan datangnya musibah tahunan yang selalu menghantui mereka.
Tragedi
Beberapa waktu yang lalu, komplek belakang Ponpes Kotagede Hidayatul Mubtadi-ien ikut runtuh bersama derasnya hujan yang menerpa malam itu. Syukurnya, hanya bagian luar yang roboh, bukan atap bagi mereka yang tidur di bawahnya. Hal ini patut disyukuri, tapi juga ditindaklanjuti, mengingat hanya tinggal satu tiang yang menentukan nasib bangunan rapuh tersebut. Ironisnya, saya mendengar sebuah ungkapan nir-empati dari seseorang yang pada dasarnya begitu dekat secara emosional dengan para santri. Bahwa runtuhnya atap tersebut disebabkan penghuninya yang banyak dosa dan gemar maksiat.
Kebetulan, saya adalah salah satu penunggu kompleks reyot tersebut. Perlu diketahui, kompleks itu berisi santri-santri yang selalu bersemangat untuk khidmah ke pondok. Selain itu, mereka pula tak jarang mengisi shaf kajian yang kosong sebelum oprak-oprak kembali digalakkan. Bahkan merekalah yang menginisiasi agar kedisiplinan santri kembali dibenahi. Kang Rahmat, santri lawas yang sudah seperti anak Abah Yai sendiri pun tidur di situ. Sebagai pribadi yang masih memiliki selera humor di tengah dunia yang mudah tersinggung, tentu ungkapan tersebut terdengar seperti candaan belaka, mengingat keluarnya dari orang yang dekat dengan kami. Namun, bagaimana jika itu dicerna sebagai ungkapan serius dan menjadi doktrin untuk men-judge orang lain atas musibah yang menimpanya?.
Sebelumnya, kita mendengar berita tentang musibah robohnya musala Ponpes Al-Khoziny, Sidoarjo ketika sedang menunaikan salat Ashar. Apakah salat termasuk sebuah perbuatan maksiat? Selain itu, bencana banjir Sumatra yang sekarang korbannya mencapai seribu jiwa ketika tulisan ini dibuat, apakah karena penduduknya merupakan ahli maksiat? Oleh karena itu, anggapan bahwa musibah terjadi disebabkan oleh perbuatan maksiat pelanggaran syariat, bagi penulis hanyalah bentuk simplifikasi sebuah tragedi. Lantas bagaimana petuah yang menganjurkan kita untuk ber-muhasabah ketika terjadi musibah atas dosa-dosa yang telah diperbuat?
Justifikasi
وَمَاۤ اَصَابَكُمۡ مِّنۡ مُّصِيۡبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتۡ اَيۡدِيۡكُمۡ وَيَعۡفُوۡا عَنۡ كَثِيۡرٍؕ
Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan kesalahanmu). (QS As-Syura : 30)
Ayat tersebut banyak dijadikan landasan untuk menetapkan sebuah musibah disebabkan oleh perbuatan maksiat. Hanya saja, kemaksiatan tidak hanya berupa pelanggaran syariat yang biasa kita dengar, seperti mabuk-mabukan, berjudi, zina, dsb. Kemaksiatan juga bisa berupa dosa dari perbuatan merusak alam.
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. Ar-Rum : 41)
Melansir NU Online, Imam Jalaludin dalam Tafsir Jalalain menafsirkan بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ (karena perbuatan tangan manusia) dengan مِنَ الْمَعَاصِى (karena maksiat). Artinya bahwa kerusakan alam yang terjadi dikarenakan ulah manusia, sebab kemaksiatan yang mereka lakukan. Dengan merusak alam, secara tidak langsung telah menyiapkan bencana pada masa yang akan datang. Jika maksiat diartikan seperti itu, maka tidak ada ingkar itu maujud bagi penulis. Hal-hal perusakan ini dalam hukum kausalitas (sebab-akibat) lebih bisa diinvestigasi untuk dievaluasi, alih-alih disimplifikasi menjadi kelalaian manusia dalam hal spiritual.
Jika kemaksiatan yang dimaksud seperti halnya perusakan alam, apakah penulis setuju bahwa musibah disebabkan oleh perbuatan maksiat?
Pada dasarnya, saya tidak menentang pandangan tersebut. Sebagai muslim yang berlabel santri, sangat tidak mungkin saya menentang firman Tuhan. Tapi jika pandangan tersebut dijadikan dalil untuk menjustifikasi orang lain, bukan sebagai wahana introspeksi, di situlah letak masalahnya. Apalagi jika hanya justifikasi terhadap ketakwaan seseorang. Kalau justifikasi tersebut dilontarkan atas kemaksiatan pihak-pihak yang mengeksploitasi alam, mungkin saya malah sepakat, karena sifatnya lahiriah. Sehingga bisa ditelusuri faktor-faktor penyebabnya, yang seharusnya bersinggungan juga dengan hukum positif negara. Terlepas itu, saya yakin seorang mukmin yang baik tidak akan melakukan maksiat dengan menzalimi (merusak) alamnya.
Introspeksi
Mengutip Kiai Hairus Salim dalam Islami.co, mengembalikan bencana sebagai suatu hukuman akibat dosa-dosa yang dilakukan terlalu menyederhanakan masalah. Hal ini mencerminkan kepribadian yang pesimis daripada optimis. Kepribadian yang malas berpikir dan lalai untuk merenung, kekurangan perspektif maupun perbandingan. Menurutnya, bencana bukan hukuman, tapi sarana mengingat dan muhasabah tentang banyak hal.
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ
“Barang siapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan maka Allah akan memberikan musibah/cobaan”. (HR Bukhari)
Sudah seharusnya setiap musibah yang datang menjadi media untuk berzikir dan muhasabah, sehingga kita dapat mengambil sisi positifnya. Khususnya dalam meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. Perlu kita renungi, apakah bencana ini merupakan ujian atau teguran, keduanya merupakan love language dari-Nya. Bila berupa ujian, maka harus kita hadapi dengan tawakal. Sedangkan bila itu teguran, maka harus kita kurangi kemaksiatan dan dosa. Saya menggunakan kata “kita” bukan “mereka”, karena sesungguhnya justifikasi berbeda dengan introspeksi.
Tapi penulis tidak akan pernah membenarkan anggapan sebuah bencana yang menimpa orang mukmin sebagai sebuah azab, meskipun menimpa hamba yang paling fasik. Karena mengikuti dawuh Kiai Sya’roni Ahmadi Kudus, bahwa azab hanya menimpa orang kufur, sedang bagi orang mukmin adalah sebuah musibah.
Empati
Kembali ke topik bin bapak selamet, bahwa poin utama yang mau saya sampaikan yaitu terkait cara menyikapi sebuah musibah. Pada zaman yang mengagungkan data ini, jangan sampai jumlah korban suatu musibah hanya menjadi angka statistik karena kealfaan hati dan empati. Jika para pejabat bisa pencitraan dalam mengungkapkan bela sungkawanya. Jika banyak orang rela bergerilya mengumpulkan donasi kemanusiaan, meskipun kadang hanya ikut-ikutan. Jangan sampai seorang santri malah merasa paling suci dengan menghakimi korban bencana sebagai ahli maksiat, hanya karena kita tidak tercantum dalam daftar para korban.
Pun kalau segala kemalangan itu memang disebabkan maksiat yang kita perbuat, seperti mengubah hutan menjadi lautan sawit, janganlah dianggap sebagai sebuah hukuman. Tapi hadiah spesial penuh cinta kasih dari Sang Maha Pengasih, agar kita berbenah dan lebih sering muhasabah, terlebih peduli antar sesama. Pada titik tersebutlah dapat tercapai hubungan: hablu minallah, hablu minannas, dan hablu minal ‘alam. Wallahu a’lam..
Sekian.
Selamat merayakan tahun baru 2026 selagi masih bisa dirayakan (dibaca: disyukuri).
Referensi:
Abdul Manap. 2022. Memaknai Musibah, Muhasabah, dan Mahabbah. NU Online.
Ahmad Niam Syukri. 2024. Musibah Semata Karena Perbuatan Manusia. NU Online.
Hairus Salim. 2018. Bencana Bukan Hasil Syirik atau Hukuman: Ini Kisah Saya. Islami.co.
Mukafi Niam. 2010. Kemaksiatan datangkan Musibah. NU Online.
