Tak Sekadar Takbiran, Ada yang Berbeda di Idul Adha Tahun Ini

Sumber: Media PPNU-Pi

YKD – Gema takbir terdengar di Pondok Pesantren Nurul Ummah Putri pada malam Idul Adha 2026. Sejak usai shalat Isya, para santri mulai memenuhi area kegiatan di Pendopo Al Khodijah untuk mengikuti rangkaian perayaan Idul Adha yang dimulai pada malam 10 Dzulhijjah.

Acara Gema Takbir dimulai pukul 20.00 WIB dan dipandu oleh Duo Shofia, yakni Shofia Karisa dan Shofia Nayirotul, dengan Ibu Nina dan Ibu Hanifah sebagai dewan juri. Sejak awal acara, Pendopo Al Khodijah telah dipenuhi para santri yang antusias menyaksikan penampilan dari masing-masing kompleks.

undefinedPenampilan komplek Hafshah dengan replika untanya.

Komplek Hafsoh menjadi penampil pertama dengan konsep yang cukup meriah. Dua replika unta dihadirkan dalam penampilan mereka, sementara para penabuh mengenakan topi berbentuk sapi. Selain membawakan tabuhan takbir, mereka juga menyampaikan pesan tentang makna berkurban, bahwa kurban bukan hanya soal menyembelih hewan, tetapi juga tentang keikhlasan dan kerelaan mengorbankan sesuatu yang dicintai karena Allah Swt. Selama penampilan berlangsung, replika unta terus bergerak mengikuti irama tabuhan dan diarak mendekati penonton serta dewan juri, sehingga suasana terasa semakin hidup.

Penampilan berikutnya berasal dari Komplek Nurussalam. Meski sebagian besar anggotanya masih berusia muda, penampilan mereka terdengar matang dan penuh semangat. Harmonisasi suara yang kompak berhasil menghadirkan suasana malam takbiran yang syahdu dan menyentuh. Sementara itu, Komplek Aisyah tampil sebagai penutup dengan konsep yang lebih sederhana, tetapi tetap berkesan. Mengenakan busana bernuansa abaya yang seragam, mereka membawakan lantunan takbir dengan lembut dan penuh penghayatan. Penampilan tersebut berhasil menghadirkan suasana yang hangat sekaligus mengingatkan akan kebahagiaan datangnya Hari Raya Idul Adha. Setelah seluruh komplek selesai tampil, dewan juri memberikan apresiasi dan evaluasi kepada masing-masing peserta. Acara Gema Takbir kemudian ditutup sekitar pukul 21.30 WIB.

Keesokan harinya, suasana pondok kembali hidup sejak sebelum matahari terbit. Sekitar pukul 05.30 WIB, gema takbir kembali terdengar. Para santri mulai berdatangan sambil membawa sajadah masing-masing dan menyusun shaf dengan rapi sembari menunggu shalat dimulai. Sekitar pukul 06.30 WIB, imam mulai memimpin salat Idul Adha. Seluruh jama’ah mengikuti shalat dengan khusyuk. Setelah shalat selesai, khutbah Idul Adha disampaikan dengan pesan tentang kemuliaan berkurban dan pentingnya meneladani keikhlasan Nabi Ibrahim a.s. dalam menjalankan perintah Allah Swt. Usai khutbah, para santri bersalaman dengan Ibu Nyai dan warga sekitar dalam suasana hangat penuh keakraban sebelum kemudian mengabadikan momen melalui sesi foto bersama di halaman masjid.

Proses pengolahan daging kurban di Pondok Pesantren Nurul Ummah Putri

Rangkaian Idul Adha di Pondok Pesantren Nurul Ummah Putri berlanjut setelah seluruh rangkaian ibadah selesai. Pada siang hingga sore hari, para santri kembali disibukkan dengan proses pengolahan hewan kurban. Panitia membagi jadwal kerja ke dalam beberapa kloter sehingga seluruh santri dapat terlibat secara bergantian. Aktivitas berlangsung dari pukul 09.00 hingga 17.00 WIB, mencakup berbagai pekerjaan, mulai dari pemotongan daging hingga persiapan sate pada sore hari.

Meski melelahkan, suasana kerja terasa ringan berkat kebersamaan yang terjalin. Seluruh proses dilakukan secara gotong royong, diselingi alunan lagu-lagu populer yang diputar melalui pengeras suara sehingga menciptakan suasana yang lebih hidup. Di sela-sela pergantian kloter, para santri beristirahat sambil menikmati hidangan yang telah disiapkan panitia. Tawa dan obrolan ringan terdengar di berbagai sudut, membuat aktivitas yang padat itu tetap terasa menyenangkan.

Kebersamaan tersebut berlanjut dalam agenda sangitan yang menjadi salah satu momen paling dinantikan. Tahun ini, sangitan digelar sebanyak dua kali, yakni pada malam pertama dan malam kedua Idul Adha.

Awalnya, kegiatan ini hanya direncanakan berlangsung pada malam kedua. Namun, atas arahan Ibu Nyai, sangitan juga dilaksanakan pada malam pertama sebagai bentuk rasa syukur sekaligus sarana mempererat ukhuwah antar santri. Meski merupakan agenda tambahan, pelaksanaan pada malam pertama tetap berlangsung hangat dan disambut dengan antusias oleh para santri. Sementara itu, sangitan pada malam kedua tetap dilaksanakan sesuai rencana.

undefinedAcara sangitan para santri Nurul Ummah Putri

Malam sangitan menjadi salah satu momen yang paling dinantikan para santri. Aroma daging bakar yang mengepul dari berbagai sudut pondok berpadu dengan suara tawa dan obrolan yang tak putus sepanjang acara. Di bawah cahaya malam, kebersamaan terasa mengalir tanpa sekat, membuat suasana pondok menjadi lebih hangat dari biasanya. Meski sangitan pertama digelar secara mendadak, kegiatan tersebut tetap berlangsung dalam suasana yang hidup. Perbedaan paling mencolok dari dua kali pelaksanaan sangitan tahun ini terletak pada hidangan utama yang disajikan: malam pertama menggunakan daging kambing, sementara malam kedua menggunakan daging sapi.

Antusiasme para santri terhadap kegiatan ini perlahan tumbuh. Suasana yang awalnya terasa biasa saja berubah menjadi lebih cair, penuh canda, dan hangat dalam kebersamaan. Momen ini kemudian menjadi salah satu bagian yang paling membekas dalam rangkaian Idul Adha tahun ini. Vina, ketua panitia kegiatan, mengakui bahwa pada awalnya sangitan pertama sempat kurang mendapat respons antusias karena digelar secara mendadak. Namun, suasana berubah seiring berjalannya acara.“Awalnya memang banyak yang kurang antusias karena sangitan pertama diadakan secara mendadak. Tapi alhamdulillah, saat acara berlangsung, teman-teman tetap menikmati kegiatannya dan suasananya jadi ramai serta seru,” ujarnya.

Rangkaian Idul Adha 2026 di Pondok Pesantren Nurul Ummah Putri akhirnya tidak hanya menjadi perayaan hari besar keagamaan, tetapi juga ruang pertemuan rasa tentang kebersamaan, keikhlasan, dan syukur yang tumbuh dari hal-hal sederhana. Dari gema takbir hingga sangitan, setiap prosesnya meninggalkan kesan yang sama yakni kehangatan yang membuat para santri merasa pulang.

Editor:Deri

Tinggalkan Balasan