Melangkah Ceria, Menggapai Cita-Cita: Santri TK Nurul Ummah Resmi Diwisuda

Sumber: Dokumentasi Panitia

Pagi itu, suasana Ruang Pertemuan Madu Nusantara sudah ramai sejak awal. Para orang tua berdatangan, kamera siap di tangan, wajah-wajah antusias memenuhi kursi penonton. Di balik panggung, barisan kecil berseragam tentara, polisi, dokter, perawat, pilot, pemadam kebakaran, guru, dan CEO bersiap melangkah dengan bangga. Bukan pawai kostum biasa, itulah cara para santri TK Nurul Ummah menjawab pertanyaan yang selalu orang dewasa lontarkan kepada mereka: “Besok mau jadi apa?”

Haflah Akhirussanah TK Nurul Ummah resmi digelar pada Kamis, 11 Juni 2026, menandai selesainya perjalanan para santri di jenjang taman kanak-kanak. Tema tahun ini, “Melangkah Ceria Menggapai Cita-Cita” bukan sekadar slogan, tapi terwujud nyata dalam kostum profesi yang dikenakan para santri sejak pagi.

Bagi Kepala TK Nurul Ummah, Ibu Umi Badriyah, acara ini menyimpan makna yang jauh lebih dalam dari sekadar seremonial. “Dulu anak-anak ini diserahkan oleh para wali santri kepada kami. Maka dengan acara wisuda ini, secara resmi kami kembalikan kepada orang tua masing-masing,” ujarnya. Dan di antara seluruh rangkaian acara, prosesi penyerahan ijazah oleh Bu Umi itulah yang paling membekas. Satu per satu nama dipanggil, satu per satu langkah kecil maju ke depan, dan di barisan kursi penonton, mata para orang tua mulai berkaca-kaca.

Suasana semakin hangat ketika panggung beralih ke penampilan tari dan hadroh dari para santri. Tepuk tangan riuh menyambut setiap gerakan. Grup hadroh membawakan lagu-lagu bernuansa Nahdliyin yang sedang viral. “Bapakku NU, Ibu Muslimat, Kangmasku Anshor, Mbakyu Fatayat ….” Tampak senyum tak berhenti mengisi ruangan.

Tak hanya lewat penampilan, para santri juga menunjukkan prestasi dari sisi lain. Beberapa santri mendapat penghargaan atas capaian hafalan Al-Qur’an mereka, di antaranya santri yang telah menghafal dari Surah An-Nas hingga As-Syams, dan santri yang hafalannya telah sampai Al-Lail. Pencapaian yang tidak kecil untuk anak-anak seusia mereka. “Walaupun belum Juz 30 utuh, kami tetap berikan apresiasi. Biar anak-anak yang lain terpacu untuk semangat menghafal,” ucap Bu Umi.

Haru yang sama terpancar dari wajah para orang tua yang menyaksikan. Di antara mereka, Ibu Nur Laila tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Putrinya, Aina Shafiatun Nisa, hari itu resmi diwisuda setelah tiga tahun bersama TK Nurul Ummah. “Senang, bahagia banget. Rasanya kayak berair-air,” ujarnya sambil tersenyum. Ia pun menitipkan pesan untuk para guru yang telah menemani Aina selama tiga tahun. “Terima kasih buat ibu guru TK Nurul Ummah semuanya atas bimbingannya. Sudah mendidik jadi anak-anak yang pintar.”

Menutup rangkaian acara yang penuh haru, Abah KH. Munir Syafa’at, pengasuh Pondok Pesantren Nurul Ummah Putri, menyampaikan mau’idzoh hasanah yang menjadi pengingat bagi seluruh orang tua yang hadir. Di tengah arus modernisasi yang terus bergerak cepat, beliau mengingatkan bahwa tanggung jawab orang tua tidak selesai di gerbang sekolah. Dua pesan sederhana namun dalam beliau titipkan: berilah anak nama yang baik, dan bekali mereka dengan ilmu Al-Qur’an, agama, akidah, sekaligus ilmu pengetahuan sains dan teknologi agar mampu menjalani hidup di dunia yang semakin modern.

Ketika ditanya satu kalimat untuk TK Nurul Ummah, Bu Umi menjawab dengan sebuah tekad. “Kami ingin mewujudkan taman kanak-kanak yang biasa menjadi luar biasa dan anak-anak yang biasa menjadi luar biasa.”

Puluhan langkah kecil telah resmi dilepas hari itu. Ke mana pun mereka melangkah kelak, mimpi mereka sudah mulai tumbuh jauh sebelum mereka bisa mengeja namanya sendiri.

Penulis: HN Sidik | Pewawancara: Muhammad Fatih | Editor: Nayla Sya 

Tinggalkan Balasan