Umi Hannah: “Mondok Kui Penting, Ngaji Kui Penting”

Sumber: Media An Nur Ngrukem

YKD – Sabtu malam  (11/07), halaman Kampus Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) An Nur Yogyakarta dipenuhi oleh ribuan santri. Mereka berjalan serentak, khidmat menghadiri Majelis Haul ke-23, KH. Basyir Abdul Fattah, Lc, Pendiri Pondok Pesantren An Nur Komplek Khodijah. 

Pukul 19.00, rangkaian acara dibuka dengan hadroh. Para tamu undangan berangsur memenuhi setiap sudut tempat. Panitia bidang Konsumsi VIP, Khamidatus Sa’adah, menjelaskan,  “untuk tamu undangan ada Bapak Bupati Bantul, seluruh Dzuriyah Simbah Nawawi, warga sekitar, alumni komplek Khadijah dan seluruh santri An Nur, baik putra maupun putri. dan pada tahun ini, kami juga mendapat kehormatan atas kehadiran Ibu Nyai Hj. Nur Hannah Zamzani dari Lirboyo yang berkenan rawuh didampingi suami beliau, KH. Hasan Syukri Zamzani Mahrus.”

Seremonial acara pun dibuka oleh MC, dilanjutkan pembacaan ayat suci Al-Quran oleh Ghifar Jinaldi Pratama, santri An Nur. Selanjutnya, Dr. KH. Khoirun Niat, Lc, MA. selaku Shohibul Bait, dalam sambutannya menyampaikan selamat datang kepada tamu undangan yang telah hadir, utamanya para sesepuh, khususnya KH. Hasan Syukri Zamzami Mahrus, Pengasuh Pondok Pesantren Al Baqoroh, Lirboyo, Kediri.

Potret kebersamaan Shohibul bait bersama tamu undangan sebagai wujud mempererat tali silaturahmi.

“Semoga dengan acara ini, benar-benar menjadi do’a kepada kita semua, khususnya KH. Basyir Abdul Fattah, semoga beliau senantiasa diberi ampunan dan rahmat oleh Gusti Allah.”Ia pun melanjutkan sedikit kisah tentang kepribadian Almarhum, yakni suka membantu. “Sejak Almarhum studi di Mekkah, setiap ada pelajar baru yang datang di Mekkah, maka beliau senantiasa membantu, baik mencarikan tempat tinggal maupun mengurus administrasi. Sebagai orang Jepara, ketika di Jogja, beliau berkiprah untuk ngopeni perkumpulan orang-orang Jepara yang ada di Jogja.”

Inti acara diisi dengan tahlil yang dipimpin KH. Muthi Nawawi, dan doa oleh KH. Yasin Nawawi. Hal ini sebagai wasilah untuk mengirimkan hadiah pahala untuk seluruh masyayikh dan leluhur.  Puncak acara adalah mauidhoh hasanah yang disampaikan oleh KH. Hasan Syukri Zamzami Mahrus, “Ada 4 perkara yang dapat menjadikan seseorang menjadi mulia. Yang pertama adalah ilmu, yang kedua yaitu adab, yang ketiga yaitu as-shidqu / jujur, dan yang keempat adalah amanah”. Maka, dengan memiliki empat perkara tersebut, diharapkan setiap santri mampu meneladani nilai-nilai luhur para masyayikh serta tumbuh menjadi pribadi yang berilmu, beradab, jujur, dan amanah dalam menjalani kehidupan.

Kemeriahan dilanjutkan dengan deresan bersama dan sesi sholawat yang dipimpin langsung oleh Ny. Hj. Nur Hannah Zamzami. Suasana semakin khidmat, ketika Umi Hannah, sapaan akrab beliau membuka deresan dengan tawasul kepada para alim ulama dan dilanjutkan deresan lima lembar surat Al Baqarah dan diikuti oleh ribuan santri. Setelah deresan dilantunkan, beberapa hadiah dari Ibu Ny Ummi Azizah Nawawi, istri almarhum dan Umi Hannah memberikan hadiah kepada santri yang berhasil menjawab kuis seputar mauidah hasanah serta kuis sambung ayat Al-Qur’an.

Di penghujung acara sholawat, Umi Hannah memberikan motivasi kepada para santri. Berlandaskan firman Allah Ta’ala dalam Surat Maryam ayat 12 [ يَٰيَحْيَىٰ خُذِ ٱلْكِتَٰبَ بِقُوَّةٍ ], beliau menjelaskan bahwa belajar harus dijalani dengan penuh kesungguhan dan ketekunan. Beliau pun berpesan, “Riyadhohnya santri sekarang itu adalah tekun, rajin, mempeng, jangan cuman mengandalkan tirakat guru.”

“Satu lagi pedomannya, mondok itu penting, ngaji itu penting. Jangan dibalik. Karena jika dibalik yang penting mondok maka tidak ada rekosonya/tirakatnya/tidak mau susah payah. Karena ilmu yang dicari dengan susah payah itu berkah.”

Antusiasme dan kebersamaan seluruh peserta terekam dalam sesi foto bersama usai pelaksanaan acara.

Selain itu, ada pesan juga dari salah satu santri senior, Khamidatus Sa’adah, menyampaikan perlu adanya kerja keras dalam khidmat di pondok pesantren. “Semangat selalu buat adek-adek santri semua, termasuk adek-adek santri khadijah. Niatkan kerja keras kalian di acara haul Abah ini sebagai bentuk memuliakan guru, membahagiakan guru-guru kita, termasuk Umi dan putra putrinya. Karena ndak ada yang lebih indah, melihat umi, guru kita bahagia karena hal2 yang dilakukan oleh kita walaupun hanya hal kecil. Semangat pokoknya.”

Tema Birrul Walidain diangkat sebagai wujud takzim dan penghormatan kepada para guru yang telah dianggap sebagai orang tua. Melalui tema ini, para santri ingin mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih atas segala bimbingan, arahan, ilmu, serta kasih sayang yang senantiasa diberikan. Lebih dari sekadar ungkapan terima kasih, tema ini menjadi pengingat akan besarnya jasa para guru yang telah mendidik, membina, dan membersamai setiap proses belajar para santri dengan penuh keikhlasan.

Editor:Deri
Dilla Azkiya

Dadio wong lirkadyo Isim Mu'rob

Tinggalkan Balasan