Ki Hajar Dewantara dan Paulo Freire: Pendidikan yang Menindas atau Membebaskan?

Sumber: Generate AI

Di Indonesia, relasi pendidikan sering kali berjalan secara timpang. Penelitian Piter dan Mitan (2020) menunjukkan bahwa sistem pendidikan di Indonesia masih cenderung menggunakan model pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher-centered learning), yakni guru diposisikan sebagai sumber utama pengetahuan dan murid lebih banyak menerima informasi secara pasif. Akibatnya, anak hanya ditempatkan sebagai penerima arahan tanpa memiliki ruang yang cukup untuk menyampaikan pendapat dan mengembangkan dirinya secara bebas.

Fenomena tersebut  menarik kembali diskusi tentang hakikat pendidikan. Pendidikan seharusnya tidak hanya dipahami sebagai proses penyampaian ilmu pengetahuan saja, tetapi juga sebagai proses memanusiakan manusia. Oleh karena itu, penting untuk melihat kembali praktik pendidikan selama ini lebih bersifat menuntun atau justru menekan kebebasan anak itu sendiri.

Memahami Makna Pendidikan

Secara etimologis, kata pendidikan berasal dari bahasa Yunani, yaitu pedagogi, yang terdiri dari kata paes (anak) dan ago (membimbing). Berdasarkan pengertian tersebut, pendidikan dapat dipahami sebagai proses membimbing anak dalam menjalani kehidupannya. Pemahaman ini sejalan dengan gagasan Ki Hajar Dewantara (2020) yang menyebut pendidikan sebagai “tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak.”

Dalam pemikiran Ki Hajar Dewantara, pengajaran dan pendidikan bukanlah hal yang sama. Pengajaran hanya merupakan bagian dari pendidikan yang berhubungan dengan pemberian ilmu pengetahuan dan keterampilan tertentu. Sementara itu, pendidikan memiliki cakupan yang lebih luas karena berkaitan dengan proses menuntun pertumbuhan anak agar berkembang sebagai manusia yang utuh.

Kata “menuntun” menjadi hal yang sangat penting untuk dipahami dalam proses pendidikan. Menuntun berarti membantu anak berkembang sesuai potensi dan kodratnya, bukan memaksa anak menjadi seperti yang diinginkan orang dewasa. Setiap anak memiliki karakter, kemampuan, dan kecenderungan yang berbeda sehingga tidak seharusnya diperlakukan dengan standar yang sama.

Namun, dalam praktiknya, banyak orang dewasa yang tanpa sadar berusaha membentuk anak sesuai harapan pribadi mereka. Anak diarahkan secara berlebihan, dibanding-bandingkan dengan orang lain, bahkan dipaksa mengikuti jalan hidup tertentu seperti yang orang dewasa mau. Kondisi tersebut dapat membuat anak kesulitan mengenali dirinya sendiri karena terlalu terbiasa hidup berdasarkan kehendak orang lain.

Ki Hajar Dewantara mengibaratkan pendidikan seperti proses seorang petani merawat tanaman. Seorang petani hanya dapat menyiapkan tanah, memberi pupuk, membersihkan gulma, dan menjaga tanaman dari hama. Akan tetapi, petani tidak dapat memaksa tanaman tumbuh sesuai keinginannya karena pertumbuhan tanaman memiliki proses alaminya (kodrat alam) sendiri.

Pendidikan yang Menindas

Pandangan mengenai pendidikan yang menekan kebebasan manusia juga dikritik oleh Paulo Freire (2008) melalui konsep “gaya bank” (banking education) dalam bukunya Pedagogy of the Oppressed yang pertama kali terbit pada tahun 1970 dan diterjemahkan ke bahasa Indonesia pada tahun 2008. Dalam pendekatan tersebut, guru dianggap sebagai pemilik pengetahuan, sedangkan murid diposisikan sebagai wadah kosong yang harus diisi. Akibatnya, proses pembelajaran berlangsung satu arah karena murid hanya mendengar, mencatat, dan menghafal apa yang disampaikan guru. Guru seakan menjadi penabung dan murid sebagai celengannya.

Menurut Paulo Freire, sisi negatif dari pendidikan gaya bank ini dapat menyebabkan dehumanisasi atau hilangnya nilai kemanusiaan dalam proses belajar. Murid tidak diberi kesempatan untuk berpikir kritis maupun memahami realitas hidupnya sendiri. Pendidikan akhirnya hanya menghasilkan peserta didik yang patuh, tetapi kurang mampu berdialog dan mengambil keputusan secara mandiri.

Meskipun demikian, pembelajaran yang berpusat pada guru tidak selalu sepenuhnya salah. Dalam kondisi tertentu, terutama pada pembelajaran dasar seperti membaca atau matematika kelas rendah, metode ceramah masih diperlukan karena lebih praktis dan mudah diterapkan.

Pendidikan yang Membebaskan

Sebagai alternatif dari pendidikan gaya bank, Paulo Freire dalam Pedagogy of the Oppressed (1970/terjemahan Indonesia 2008) menawarkan konsep pendidikan hadap-masalah (problem-posing education) atau pendidikan yang membebaskan. Pendidikan tidak lagi dipahami sebagai proses pemindahan informasi, melainkan sebagai proses dialog untuk memahami dunia bersama-sama. Dalam pendekatan ini, guru dan murid sama-sama belajar melalui diskusi, refleksi, dan pertukaran pengalaman.

Melalui pendidikan yang dialogis, murid tidak hanya menjadi pendengar pasif, tetapi juga terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Masalah-masalah nyata yang ada di lingkungan sekitar dapat dijadikan bahan diskusi untuk menemukan solusi bersama. Dengan cara tersebut, pendidikan dapat membantu murid membangun kesadaran kritis terhadap kehidupan yang mereka jalani.

Namun, pendidikan yang membebaskan bukan berarti menghapus peran guru sepenuhnya. Guru tetap menuntun dan mendampingi murid dalam proses belajar. Perbedaannya, relasi antara guru dan murid menjadi lebih manusiawi karena keduanya saling belajar dan saling menghargai melalui proses dialog yang didasari oleh rasa cinta.

Pada akhirnya, pendidikan di manapun itu berlangsung, seharusnya tidak hanya bertujuan mencetak manusia yang hanya patuh terhadap aturan semata. Tetapi, pendidikan perlu bertransformasi menjadi ruang yang membantu seseorang mengenali dirinya sendiri, mengembangkan potensinya, dan berani menyampaikan pendapatnya. Dengan demikian, pendidikan dapat menjadi jalan menuju pembebasan dan peradaban yang lebih baik lagi.

Daftar Pustaka

Ki Hajar Dewantara. (2020). Menjadi manusia merdeka. Yogyakarta: LeutikaPrio.

Paulo Freire. (2008). Pendidikan kaum tertindas (U. Dananjaya, Penerjemah). Jakarta: LP3ES.

Penulis : Indi Rida | Editor : Nuril

Tinggalkan Balasan