
Sumber: Generated AI
Bolehlah seorang Zuhda adalah abdi ndalem (santri yang berkhidmah di rumah kyai). Namun, di sisi lain, ia juga makhluk Tuhan yang bebas berpendirian, merokok, dan berkokok dengan nalar sehatnya jika mendengar ungkapan yang bergejolak.
Satu momen ketika pengajian Sahih Bukhari, Zuhda adalah individu yang bersemangat bukan untuk dirinya saja, tetapi juga teman se-atapnya di asrama. Dia mendengar satu penjelasan menggelitik, yaitu “Jika kita dekat dengan Allah, maka hati kita akan dingin.” (terjemahan ke bahasa Indonesia dari Jawa). Tidak lama kemudian, Zuhda berkomentar, “Kalau tidak punya uang apakah hati bisa dingin?” (terjemahan juga, tapi coba sambil bayangkan bagaimana ekspresi Zuhda, ditambah suaranya yang tegas berbalut nada Jawa ala Gunungkidul dengan mengenakan helm Pogo dan duduk di sebelah rekan karibnya, Bagus). Nalar ini tentu seolah antitesis untuk argumen awal Abah Yai. Namun, mana yang harus kita ikuti dalam hal ini, K.H. Munir Syafa’at selaku pengasuh pesantren dengan ratusan santri, atau Syekh Zuhda sebagai pengasuh kamar Anonim beranggotakan Nurdin dan Manda?
Sungguh pertanyaan rumit bagi manusia yang sedang menapaki dunia saat diberi tawaran: istana dengan koleksi harta tanpa batas atau pahala yang berpotensi membawa seseorang ke surga? Pemilih istana setidaknya akan berpikir bahwa dengan kekayaan, mereka tetap bisa beramal untuk mendapatkan pahala. Namun sebaliknya, pemilih pahala menunjukkan bahwa kecintaan seorang hamba kepada Allah SWT itu murni tanpa iming-iming janji yang tak pasti. Dalam artian, ia bisa langsung mengakuisisi pahala tanpa bergantung pada janji amal yang belum tentu ditepati.
Memang, salah satu alasan manusia diciptakan istimewa adalah karena mereka diberi kesempatan untuk memilih, baik itu mimpinya, makanannya, pendidikannya, maupun jodohnya. Tidak ada landasan sentimental ketika seseorang memilih kaya agar bisa beramal, maupun ketika seseorang memilih menjadi kolektor pahala tanpa keinginan memiliki harta duniawi. Namun satu hal yang pasti, muslim yang baik tidak boleh melanggar kewajibannya kepada Allah SWT.
Oke, sekarang mari kita telaah opsi awal pada paragraf pertama. Manusia akan berhati dingin (tenang) apabila dekat dengan Allah SWT. Secara tekstual, makna yang terselip pada kalimat ini cukup jelas. Bahwa beribadah, baik yang wajib maupun sunah, harus benar-benar menjadi prioritas seorang muslim.
Belum cukup, kepercayaan ini juga menyampaikan pesan bahwa tidak ada hal lain yang lebih penting daripada membersihkan diri dari iming-iming dunia yang sering kali menjerumuskan dan mengalihkan pandangan manusia dari Allah SWT. Dengan ini, kepercayaan mendalam yang terbangun atas ibadah dan amal akan mengkonstruksi harmoni yang kuat, bahwa Allah SWT akan hadir bersama hambanya di mana pun dan kapan pun—menciptakan ketenangan tanpa batas antara hamba dan Allah SWT.
Opsi kedua berbunyi, “Apakah hati bisa dingin jika tidak punya uang?” Mari selaraskan pemahaman terlebih dahulu bahwa ucapan ini kurang lebih bermaksud menanyakan apakah hati manusia bisa tenang jika tidak punya uang, sekalipun sudah beribadah. Pertanyaan ini sudah pasti berdasar pada realitas bahwa segala pemenuhan kebutuhan materiel primer dan sekunder harus selalu ditebus dengan uang, bukan doa.
Pahit tapi nyata, sebagaimana ilustrasi dalam cerpen masyhur karya A.A. Navis bertajuk Robohnya Surau Kami. Seorang Haji Saleh diceritakan meninggal dunia dan dimasukkan ke dalam neraka akibat egonya yang hanya mementingkan ibadah vertikal hingga membiarkan keluarganya jatuh miskin dan menderita. Seseorang sering kali tidak menikmati ibadahnya disebabkan ia belum selesai dengan kebutuhan pokok keluarganya. Walaupun Al-Qur’an sudah jelas memerintahkan untuk meninggalkan urusan dunia saat azan dikumandangkan, manusia tetap saja bertransaksi, karena ada pundi-pundi rupiah di sela-sela azan yang bisa mereka kais dari pelanggan pada waktu itu.
Walaupun banyak ayat Al-Qur’an yang menjelaskan fenomena di atas, penulis akan sajikan satu narasi dalam Q.S. Al-Qashash yang artinya: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” (Q.S. Al-Qashash ayat 77)
Selain itu, terdapat pula satu hadis yang berbunyi, “Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya. Dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok pagi.” (HR. Ibnu Umar)
Dari kedua dalil ini, dapat disimpulkan bahwa manusia masih sangat diperbolehkan untuk menuntut urusan duniawinya. Namun, merekalah yang pada akhirnya bisa menaruh restriksi sejauh mana mereka akan tenang, baik dengan cara dekat dengan Allah SWT maupun sebab sejumlah uang yang mereka usahakan. Tumpang tindih tanggung jawab vertikal dan horizontal ini tentu tidak layak untuk penulis justifikasi secara personal. Oleh karena itu, silakan dikontemplasi mandiri. Satu hal yang pasti, muslim yang baik tidak boleh melanggar kewajibannya kepada Allah SWT.
Part 2 menyusul saat Zuhda mengeluarkan punchline lainnya.
Penulis: Sohi | Editor: Adhwa Nala
