Manaqib Kubro JATMAN DIY, Wali Kota Yogyakarta Soroti Peran Thariqah dalam Penguatan SDM dan Kepemimpinan

Reporter: Alfian Hamid | Editor: Adhwa Nala 

YKD – Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu‘tabarah An-Nahdliyah (JATMAN) Idaroh Wustho Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar Manaqib Kubro, Istighotsah, Temu Mursyid, dan Pengajian Akbar pada Ahad (21/12). Kegiatan yang diikuti oleh ribuan jamaah dari berbagai wilayah ini berlangsung khidmat di Pendopo Al-Khadijah, Pondok Pesantren Nurul Ummah Putri.

Acara dimulai sejak pagi hari dengan pra-acara berupa registrasi peserta dan penyambutan jamaah. Pembukaan diawali dengan penampilan hadroh santri Pondok Pesantren Kotagede Hidayatul Mubtadi-ien, dilanjutkan dengan pembacaan kalam ilahi dan sholawat thariqiyyah, serta menyanyikan lagu Indonesia Raya, Syubbanul Wathon, dan Jatman Bangkit.

Hadir dalam kegiatan tersebut para ulama, kiai, mursyid thariqah, santri, serta jajaran pemerintah daerah. Wali Kota Yogyakarta Dr. (H.C.) dr. H. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) turut hadir dan menyampaikan sambutan.

Dalam sambutannya, Hasto Wardoyo menyampaikan apresiasi kepada JATMAN dan seluruh panitia atas terselenggaranya kegiatan keagamaan tersebut. Menurutnya, rangkaian Manaqib Kubro tidak hanya menjadi agenda ritual, tetapi juga sarana penguatan spiritual dan sosial umat.

“Pada kesempatan yang baik ini, tentu kami atas nama pemerintah mengucapkan terima kasih karena rangkaian acara Manaqib Kubro, Istighotsah, Temu Mursyid, dan Pengajian Akbar ini akan menjadi sarana penguat secara spiritual, memperkokoh tali persaudaraan, serta memperteguh akidah dan memperdalam akhlak dalam kehidupan,” ujarnya.

Ia menilai tradisi thariqah memiliki peran penting dalam membangun kualitas sumber daya manusia (SDM) yang utuh, tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara karakter.

“Hari ini kita diukur dari kualitas SDM. Itu tidak hanya soal ilmu dan skill, tetapi juga karakter. Karena itu ada ukuran yang disebut Human Capital Index, yaitu bagaimana seseorang memiliki daya ungkit yang tinggi bagi lembaganya,” jelasnya.

Namun demikian, Hasto mengingatkan bahwa pembangunan manusia tidak boleh hanya berfokus pada aspek fisik semata.

“Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya. Masalah hari ini bukan hanya stunting, bukan hanya soal tinggi badan, tapi yang kurang waras juga banyak,” ucapnya disambut senyum jamaah.

Pada bagian lain sambutannya, Wali Kota Yogyakarta juga menyelipkan refleksi kepemimpinan dengan gaya ringan tetapi penuh makna. Ia mengangkat pesan para kiai tentang pentingnya kepemimpinan yang meneladani nilai-nilai keteladanan dan menghindari konflik.

“Arahan para kiai ini luar biasa, bagaimana kepemimpinan itu harus zero conflict. Menang tanpa ngasorake, ngluruk tanpa bala, sugih tanpa banda, jajan tanpa bayar,” ungkapnya. Ungkapan Jawa tersebut bermakna kepemimpinan yang mengedepankan kebijaksanaan, keteladanan, dan integritas tanpa kekerasan maupun pamrih.

Ia menegaskan bahwa dakwah dan kepemimpinan idealnya tidak melahirkan pertentangan, melainkan membangun resonansi nilai di tengah masyarakat.

“Kalau sesama thariqah itu ketemu di mana saja mudah beresonansi, karena sudah diwarnai nilai-nilai ilahiyah,” lanjutnya.

Hasto kemudian mengaitkan nilai spiritual tersebut dengan konsep Manunggaling Kawula Gusti, yang menurutnya dapat diterjemahkan dalam konteks sosial-politik sebagai kedekatan antara pemimpin dan rakyat.

“Dalam skala kecil, manunggaling itu bisa dimaknai sebagai dekatnya pemimpin dengan rakyat. Dalam ilmu pemerintahan ada istilah Power Distance Index. Kalau jarak penguasa dan rakyatnya bagus, demokrasinya juga bagus,” jelasnya.

Ia menyebut Indonesia termasuk negara dengan indeks demokrasi yang tinggi, meskipun tantangan kesejahteraan masih perlu terus diperjuangkan bersama.

Menutup sambutannya, Hasto Wardoyo memohon doa kepada para ulama dan jamaah agar para pemimpin diberi kekuatan untuk berlaku jujur dan adil, serta mampu mengemban amanah dengan sebaik-baiknya. Sambutan ditutup dengan pantun khas dan ajakan moral yang disampaikan dengan gaya santai tetapi bermakna.

Rangkaian acara inti dilanjutkan dengan Istighotsah, Pembacaan Manaqib dari berbagai thariqah mu’tabarah, serta Pengajian Akbar yang disampaikan oleh Prof. Dr. Mahmutarom HR, S.H., M.H. (Wakil Mudir Aly JATMAN Idaroh Aliyah). Acara ditutup dengan doa yang dipimpin oleh K.H. Munir Syafa’at.

Kegiatan Manaqib Kubro JATMAN DIY ini diharapkan semakin mengokohkan peran thariqah sebagai pilar penguatan spiritual, moral, dan kebangsaan di tengah kehidupan masyarakat.



    

Tinggalkan Balasan