
Dokumentasi Tim MDC Nurul Ummah Putri
Penulis: Indi Rida | Editor: En Sya
Haul sering kali dipahami sebagai agenda rutin yang khusyuk dan diakhiri dengan doa. Namun, puncak Haul Al-Maghfurlah K.H. Asyhari Marzuqi tahun ini menunjukkan bahwa mengenang seorang kiai bukan semata perkara menundukkan kepala dan menengadahkan tangan, melainkan juga menghidupkan kembali nilai-nilai kehidupan dalam keseharian.
Salah satu kisah yang menarik datang dari Muhammad Yamin, Lc., santri asal Banyuwangi yang pernah membersamai K.H. Asyhari Marzuqi semasa di Baghdad. Kota itu bukan hanya pusat peradaban Islam, tetapi juga saksi perang Iran–Irak yang menjadikannya ruang penuh kecemasan. Negara-negara berlomba memproduksi senjata, menyuplai konflik, dan menghitung keuntungan di balik kehancuran. Salah satunya adalah rudal Exocet buatan Prancis yang dikenal canggih dan mematikan.
Uniknya, di tengah atmosfer itu, Bu Nyai Barokah—istri K.H. Asyhari Marzuqi—justru membuat sambal yang diberi nama “Sambal Exocet”. Bukan untuk mengejek perang, apalagi meromantisasi senjata, melainkan seolah menyederhanakan sesuatu yang menakutkan menjadi hidangan yang bisa dinikmati bersama. Ketegangan dunia disikapi dengan kewarasan, bahkan dari hal yang terlihat sederhana.
Nilai-nilai serupa kembali ditegaskan dalam mau‘izhah hasanah yang disampaikan oleh K.H. Ahmad Hadidul Fahmi, Lc. Beliau menjelaskan bahwa setiap manusia memiliki dua sudut pandang: wijhatun khususiyah dan wijhatun basyariyah. Sisi pertama adalah keistimewaan: istiqamah, keluasan ilmu, kedalaman spiritual, dan keteladanan. Sementara yang kedua adalah sisi kemanusiaan: makan, lelah, dan berbagai kebutuhan biologis yang melekat pada manusia. Bahkan para wali, kiai, hingga nabi sekalipun memiliki dua sisi ini. Mengakui sisi basyariyah bukan berarti merendahkan, melainkan justru menjaga adab dalam memuliakan—agar tidak sampai menempatkan manusia pada posisi ketuhanan.
Selain itu, beliau juga menukil kalimat dari Abu Yazid al-Busthami dan menjelaskan bahwa orang yang paling sedikit mengambil berkah dari seorang syaikh/ulama justru adalah istri dan anaknya. Bukan karena kurang cinta, melainkan karena kedekatannya. Pergaulan yang terlalu intens kadang mengaburkan sisi khususiyah, hingga yang terlihat hanya rutinitas sehari-hari. Analogi sederhana pun disampaikan: pada masa awal jatuh cinta, pasangan tampak begitu istimewa. Namun, seiring berjalannya waktu, mata menjadi terbiasa. Bukan karena keindahan itu hilang, melainkan karena kedekatan membuatnya jadi biasa saja. Contoh lain, banyak anak kiai yang justru dipondokkan di tempat lain, bukan di rumahnya sendiri, karena dikhawatirkan kedekatan berlebih membuat nilai dan kewibawaan menjadi terasa biasa. Pesan ini bisa menjadi pengingat kita semua agar menempatkan ulama secara tepat, memuliakan tanpa mengkultuskan, menghormati tanpa menutup nalar, dan mencintai tanpa kehilangan logika.
Selain pengajian dan doa, puncak haul kali ini juga diramaikan oleh bazar santri. Meja-meja berjajar menjajakan berbagai dagangan: risol, cilung, sempol, jus segar, merchandise, hingga photobooth. Sekilas tampak terlalu duniawi, tetapi sesungguhnya menyimpan pesan mendalam. Santri tidak hanya diajarkan mengaji, tetapi juga terjun dalam mencari rezeki dari Tuhan sebagai bentuk ikhtiar. Berdagang bukanlah lawan dari mengaji dan kemandirian bukanlah penghalang keberkahan. Meskipun aktivitas itu seperti kedunyan (terlalu duniawi), nyatanya kita tetap membutuhkan dunia sebagai kendaraan untuk kembali kepada-Nya.
Lebih dari itu, haul menjadi ruang perjumpaan kembali. Alumni hadir, saling menyapa, mengenang masa mondok di Yogyakarta, dan tertawa atas cerita yang hanya dipahami mereka yang pernah hidup dalam satu atap. Di malam itu, haul bukan hanya tentang mengenang K.H. Asyhari Marzuqi, tetapi juga tentang pulang—pulang pada ingatan, nilai, dan rasa kebersamaan yang mungkin lama terjeda karena jarak yang ada.
Acara boleh usai, lampu panggung boleh padam, tetapi nilai yang diwariskan harus tetap hidup: dalam cerita Baghdad, dalam sambal sederhana, dalam nasihat ulama, dalam bazar santri, dan dalam pertemuan manusia-manusia yang kembali mengingat tempat di mana mereka pernah berjuang bersama.
Haul, pada akhirnya, bukan sekadar mengenang siapa yang telah wafat, tetapi memastikan bahwa nilai yang beliau hidupkan tidak ikut dikubur oleh waktu.
