
Dokumentasi: Panitia Haul PPNU-Pi
YKD – Momen satu tahun sekali ketika pintu coklat bagian barat Masjid Al-Faruq terbuka lebar, lengkap dengan penataan layar monitor beserta sofa dan meja di tengah-tengahnya. Seperti tahun-tahun yang lalu, sarasehan kembali digelar dalam rangkaian peringatan haul K.H. Asyhari Marzuqi yang ke-22, Rabu malam (10/12).
Sarasehan kali ini bertemakan “Menapak Jejak Khidmah K.H. Asyhari Marzuqi untuk Nahdlatul Ulama” dan menghadirkan dua narasumber dengan kisah nyantrinya saat K.H. Asyhari Marzuqi masih hidup. Menariknya, mereka merupakan salah dua santri yang pernah diberikan kepercayaan untuk membersamai K.H. Asyhari Marzuqi ketika bepergian.
Luqman Arifin Fathul Huda, Ketua Tanfidziyah Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Kulon Progo, masuk Pondok Pesantren Nurul Ummah pada tahun 1990. Ia banyak bercerita seputar keseimbangan K.H. Asyhari Marzuqi ketika menjadi organisator sekaligus seorang guru yang menyebarkan ilmu kepada para santri.
“Saya yakin Romo Yai (Red: K.H. Asyhari Marzuqi) masuk ke (struktural) NU berawal dari latar belakang beliau yang menuntut ilmu lalu terinspirasi oleh gurunya.” Diceritakan oleh Luqman, Romo Yai nyantri dengan K.H. Ali Maksum Krapyak, yang merupakan Rois Syuriah Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) 1980-1984, dan Rois ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) 1981-1984, sebelum menuntut ilmu ke salah satu kota Timur Tengah, Baghdad.
Romo Yai ialah sosok yang sangat haus akan ilmu. Kecintaannya terhadap ilmu dibuktikan dengan beribu koleksi kitab yang berjejer rapi di rak-rak aula ndalem. Beliau juga sempat menerjemahkan Kitab Risalah Dakwah karya tokoh Ikhwanul Muslimin, Hasan Al-Banna, dan memberinya judul Risalah Dakwah Hasan Al-Banna: Baiat, Jihad, dan Dakwah. Luqman melihat, apa yang dipelajari Romo Yai dari risalah itu menumbuhkan kuatnya jiwa organisasi dalam diri beliau. Tiga konsep yang diangkat Hasan Al-Banna tersebut sejalan dengan karakter NU sebagai jam’iyyah diniyyah wal mujtami’iyyah (organisasi keagamaan dan kemasyarakatan).
Di samping itu, Muhammad Hanafi Royhan, aktivis di Lembaga Dakwah Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Imogiri, Bantul, menjadi santri ndalem selama tujuh tahun. Hanafi bercerita tentang keikhlasan, semangat, dan teladan yang luar biasa pada jiwa Romo Yai.
Tahun 1992-1997, periode pertama Romo Yai menjadi Rois Syuriah PCNU DIY berpasangan dengan K.H. Shofwan Hilmi. Konsep demokratis yang Romo Yai bawa pada kepengurusannya serta sikap pro regenerasi menjadikan beliau tetap diyakini dan dipilih sebagai Rois Syuriah di dua periode selanjutnya, yakni 1997-2002 dan 2002-2006. Namun, pada tahun 2004, di tengah masa periode ketiganya, Romo Yai berpulang ke rahmatullah.
Di sisi lain, Hanafi bercerita, “Keteladanan Romo Yai ialah kedisiplinan. Saya masih ingat ketika mengantar beliau ke salah satu rapat, Romo Yai adalah orang pertama yang datang di tempat.” Kedisiplinan itu berjalan seiring dengan keikhlasan beliau dalam menjaga paham Ahlusunnah wal Jama’ah (Aswaja), sebagai wujud pengabdiannya li i‘ilaai kalimatillah (untuk meninggikan kalimat Allah).
Pesan Romo Yai kepada santrinya ialah “Sesok nek wis boyong golek’o wadah kanggo berjuang.” (Besok kalau sudah keluar dari pondok carilah wadah untuk berjuang). Menurut Hanafi, wadah yang sudah jelas adalah berjuang atau khidmah di NU. Bukan untuk membesarkan diri, tetapi untuk membesarkan Jam’iyyah agar semakin baik.
Pada kesehariannya, Romo Yai beserta istrinya terkenal bersikap entengan (dermawan). Sesuai cerita supir ndalem ini, Romo Yai hampir selalu menyempatkan hadir dalam berbagai acara kemasyarakatan, mulai dari takziyah, menjenguk orang sakit (nilik), hingga memenuhi undangan warga. Setiap ijaabatud da’wah (menerima/menghormati undangan), beliau selalu membawa buah tangan sebagai bentuk ketulusan dan penghargaan kepada sesama. Begitu juga, keikhlasan Romo Yai dalam menyebarkan ilmu tergambar dari cerita bahwa beliau tidak pernah membuka bisyaroh (buah tangan) untuk keuntungan pribadinya, melainkan digunakan untuk pembangunan pondok pesantren.
Tak tanggung-tanggung, rapat rutinan PCNU Kota Yogyakarta pada masa itu selalu diadakan di ndalem sesuai dengan keinginan Romo Yai. Akomodasi pun ditanggung oleh beliau dan istri. Setiap bulannya, beliau juga rutin mewakafkan atau mendonasikan hartanya untuk keperluan jam’iyyah NU.
Hanafi menceritakan bahwa ia pernah sangat terenyuh ketika menyaksikan betapa besar perhatian Romo Yai terhadap pentingnya jamaah. Di suatu hari, ketika sedang sakit dan tak mampu berjalan, Romo Yai bahkan merangkak menuju mushola demi menjalankan sholat bersama. Dikisahkan pula, beliau yang terkenal sangat tawadhu’ itu enggan merepotkan santrinya. Ketika santrinya hendak menggendong, beliau dengan halus menolak dan lebih memilih berusaha sendiri sebisanya.
Luqman kemudian membacakan salah satu syi’ir, pedoman hidup yang ia dapat ketika ngaji bersama Romo Yai:
جَدِّدِ السَّفِينَةَ فَإِنَّ الْبَحْرَ عَمِيقٌ، وَخُذِ الزَّادَ كَامِلًا فَإِنَّ السَّفَرَ بَعِيدٌ
“Perbaruilah perahumu (perbaikilah amalmu), karena lautan itu dalam. Ambillah bekal yang sempurna, karena perjalanan itu jauh.”
Syi’ir ini menjadi pengingat bahwa meningkatkan potensi diri setiap hari adalah kebutuhan sekaligus kewajiban. Keteladanan K.H. Asyhari Marzuqi baik dalam berorganisasi, berkhidmah di jam’iyyah NU, maupun dalam laku sehari-harinya seperti keikhlasan, semangat, dan kedisiplinan, layak dijadikan pedoman bagi siapa saja yang ingin terus bertumbuh, menebar kemanfaatan, menghadirkan maslahat, dan menjaga cahaya ajaran Aswaja tetap hidup di tengah masyarakat.
Penulis: Dilla Azkiya | Editor: Nayla Sya
