
Sumber: Media Pondok
Ketenangan pikiran tak hanya lahir dari belajar, tetapi juga dari hubungan batin antara santri dengan guru. Itulah salah satu insight yang bisa diambil dari seminar bertajuk “Memperkuat Koneksi Spiritualitas (Rabithah Ruhiyah) Santri dan Guru di Pesantren”, Kamis malam (27/11) lalu. Acara ini digelar di Pendopo Al-Khadijah dengan mengundang salah satu alumni PP. Nurul Ummah Putri, yakni Ibu Hj. Iffat, Lc., M.Ag.
Tabuhan seperangkat rebana oleh hadroh Azkiya Syakira tetap setia mengawali acara. Pukul 20.22, Ahyana Etika Muliani sebagai master of ceremony memulai rangkaian acara dengan piawai. Setelah dibuka dengan bacaan basmalah, acara dilanjutkan dengan penyampaian sambutan oleh Ibu Sabyla Mafaticha Rizki. Dalam sepatah dua patah katanya, beliau menyampaikan bahwa koneksi spiritualitas bisa menghasilkan keberkahan ilmu yang didasarkan pada nilai adab serta mahabbah. Hal ini menjadi catatan mengapa seminar ini akan memberikan banyak goresan penting di lembaran kehidupan para santri.
Berikutnya, Niti Sasmina Zaezafi sebagai moderator dihadirkan untuk memandu sesi seminar yang merupakan acara inti. Terlebih dahulu Sasmin memaparkan curriculum vitae dari pembicara. Dalam perjalanannya, beliau telah menempuh pendidikan hingga ke negeri Yaman, serta menuntut ilmu di beberapa pondok pesantren. Para santri bertepuk tangan ketika almamater mereka disebut, menciptakan binar bahagia bahwa mereka juga dapat menjadi sosok yang inspiratif seperti Bu Iffat.
Seminar berlangsung interaktif. Bu Iffat menyampaikan materi secara runtut, mulai dari selayang pandang dunia pesantren, nilai-nilai dasarnya, hingga tantangan Gen Z di era digital. Beliau mengutip ucapan salah satu guru bahwa dunia maya sejatinya mengganti kehidupan manusia di dunia nyata. Itulah yang menjadi salah satu bentuk masalah yang dihadapi pemuda masa kini, selain bahwa mereka membutuhkan alasan rasional dari setiap hal yang akan dilakukan.
Selain itu, Bu Iffat juga mengupas istilah rabithah ruhiyah dari segi etimologi maupun terminologi. Lebih jelasnya, istilah ini dimaknai sebagai koneksi spiritual, yakni hubungan tarbawi-imani yang bertujuan pada tazkiyah, tahdzib akhlaq, dan menuntun murid pada ma’rifatullah. Dipaparkan berbagai landasan syara’ terkait rabithah ruhiyah, seperti QS. Al-Baqarah ayat 129 dan hadits nabi tentang berbuat baik kepada guru.
Dalam koneksi spiritualitas, terdapat beberapa poin penting: al-qolb atau hati yang berpikir, suhbah atau kebersamaan, juga mahabbah atau rasa cinta. Syekh Muhanna mengatakan bahwa hati manusia itu saling tarik menarik dengan ilmu. Oleh karena itu, siap tidaknya hati akan mempengaruhi mudah tidaknya ilmu masuk ke dalam wadah yang kita punya.
Koneksi spiritualitas menjadi penting dengan eksistensinya sebagai pondasi utama dari pesantren. Sementara itu, transfer spiritualitas ideal dilakukan dengan menghidupkan ruh pondok melalui kegiatan mengaji. Mengutip dawuh Simbah K.H. Maimoen Zubair: “Pondok iku dunyo, sing akhirat iku ngajine. (Pesantren itu dunia, kecuali ngajinya.)”
Demi menciptakan lingkungan dengan koneksi spiritual yang baik, diperlukan adanya aspek-aspek seperti rasa cinta (mahabbah), kehadiran (hudhur) baik secara fisik maupun emosional, sistem (nidzom) meliputi irsyad, ilzam, tasyji’, tawazun, dan mulahazah, serta teladan (qudwah). Segalanya perlu diupayakan bersama agar rabithah ruhiyah dapat terbangun.
Memasuki sesi tanya jawab, empat orang santri mendapat kesempatan untuk menyampaikan pertanyaan yang sejak tadi mengusik benak mereka. Ahyana menanyakan masih tidaknya terdapat relevansi antara pondok pesantren dengan teknologi. Bu Iffat menjelaskan bahwa sejak berdirinya pesantren pada abad ke-18, keberadaannya tetap relevan. Andaikata tidak, tentu pesantren sudah lama ditinggalkan. Hal yang penting diperhatikan adalah bagaimana pesantren mampu menawarkan solusi, bukan justru menjadi beban masyarakat.
Susiyanti menanyakan apakah terdapat korelasi antara spiritualitas dengan intelektualitas. Hal ini divalidasi oleh pemateri. Beliau menyampaikan contoh sederhana bahwa terdapat perbedaan antara belajar dengan AI (Artificial Intelligence) dibanding dengan guru. Spiritualitas hanya bisa didapat dari interaksi dengan guru. Sementara, koneksi spiritualitas yang telah terbentuk antar keduanya mendukung terciptanya pikiran yang tenang. Dengan begitu, santri dapat lebih mudah berpikir dan meningkatkan sisi intelektualnya.
Sementara itu, Indi bertanya tentang kiat memotivasi diri sendiri ketika dari orang lain tak mempan. Menurut Bu Iffat, ketiadaan motivasi biasanya muncul karena tidak adanya tujuan. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menentukan goals. Sebagai contoh, beliau berprinsip bahwa setiap harinya harus ada sesuatu yang bertambah bagus meskipun hanya sedikit.
Menutup sesi tanya jawab, Aini bertanya tentang keterkaitan antara pesantren dengan barokah. Secara makna, barokah adalah ziyadatul khoir, atau bertambahnya kebaikan. Sementara itu, kegiatan di pesantren seluruhnya ada untuk kebaikan. Contoh hadirnya barokah misal hafalan yang sebelumnya susah menjadi mudah, ketidakpahaman menjadi paham, atau bahkan sesederhana tidak suka terong menjadi suka. Sementara, barokah tidak bisa hadir bila kita tidak husnudzon. Sebab, dzon yang buruk cenderung menghalangi hati dalam menerima ziyadatul khoir.
Sesi tanya jawab dipungkas oleh moderator bahwa barokah tidak harus datang di awal, tetapi bisa di suatu saat nanti. Acara kemudian dikembalikan kepada master of ceremony, dilanjutkan dengan penyerahan sertifikat, pembacaan doa, serta pengambilan dokumentasi. Berakhirlah seminar pada malam hari itu, meninggalkan catatan panjang baik di buku maupun sanubari para santri

Reporter: N Sya | Editor: Dere
