Sastra

Figura
Cerpen, Sastra

Figura

Sumber: Pngtree.com Malam yang dingin. Hujan enggan berhenti membasahi hamparan bumi tua yang telah bertransformasi menjadi hutan beton. Menciptakan garis-garis air yang tergambar jelas di jendela kamar. Suara gemericiknya menemaniku yang tengah sibuk mencari buku keramat karena selesai tidaknya tugasku bergantung pada catatan di dalamnya. Satu per satu laci meja belajar kubuka. Laci pertama tak ada, laci kedua pun sama. Kemudian tepat di laci ketiga, aku menyentuh sesuatu. Kuambil benda itu, sebuah kaca persegi panjang dengan kayu penuh ukiran di setiap sisinya. Figura yang sarat cerita, bahkan membuatku lupa akan tugas yang tengah meminta haknya. Bagaimana tidak, figura itu menampilkan foto dua gadis biasa yang tidak pernah terbayangkan bagaimana akhir kisah mereka. Saling merangkul, ...
LangitDjiwa 2
Puisi, Sastra

LangitDjiwa 2

Suasana toko buku akik. Foto : Tias /3/ Dilarang Mencintai Kesedihan Kepada: Van Deventer Doa ku berceceran, jatuh disana Ia menjelma kesiur yang berhembus dimana-mana Jalin-menjalin, raga, sukma  Riuhnya bagai nyayian lara Yang memeras air mata -------------------------------------- Adakah secercah harap yang kerap kalap Adakah yakin di tengah kepercayaan yang miskin Inikah yang aku perjuangkan Tuhan? Tapi bagaimana caranya bertahan? C13, 2025  /4/ Gaduh Wirid-wirid ku kini luruh bahasa pikiran yang gaduh terperosok jauh jatuh ----------------------------------------- Peradaban kelelahan waras berakal ketidakjelasan egoisme mematikan fikir dan dzikir bersuara dicaci diam menjadi-jadi. ----------------...
LangitDjiwa1
Puisi, Sastra

LangitDjiwa1

Dok. Pribadi penulis. Sumber : (Diah Nurasih) /1/ Kidung Suluk Kawula Gusti Di sudut kota yang bergemuruh sunyi Puisi ku tiba lebih dulu dari bulan Juni Ia menjelma doa Kata-kata terlahir, menghujam sukma, Menari di atas sujud, diantara dunia yang fana. ------------------------------------------------- Dalam dada hamba Tangis menyatu dalam tafakur mendalam, Menghadap pada peraduan jiwa Tercabik oleh derasnya arus kehidupan Yang menderu tanpa ampun Doa pun menjelma bagai angin, Menyapa malam, merasuk ke relung sunyi. --------------------------------------------- Beginikah hidup, Gusti? Aku mengetuk-Mu dengan dada yang kian senyap dan jiwa yang menganga Beginikah cinta-Mu, Gusti Yang tak terdengar Tapi menggetarkan Yang tak...
“Coba Ulang?”
Puisi, Sastra

“Coba Ulang?”

Dari balik batas tembus pandang,Agaknya harapan yang mulai usang itu melayang-layang,Melambai-lambai ingin ditantang,"Hei, kemari! mana dirimu yang giat meramu mimpi di pulau seberang?"Lirih suara bagai radio yang usang,Agaknya kausalitas pendengar dan pengucapan belum hilang,Balasannya begini: "apa katamu? coba ulang!"…Dari balik batas tembus pandang,Setidaknya bukan amukan karena balasan nada menantang,Menjawab tersenyum sambil bersenang,"Hei, kemari! mana dirimu yang giat meramu mimpi di pulau seberang?"Nyaring suara bagai gitar park jong seong yang berdendang,Agaknya harapan usang itu masih, sedang, bahkan tetap menjadi piutang,Balasannya begini : "Tenang, sebenarnya aku juga tidak ingin curang".…Dari balik batas tembus pandang,Nyatanya zona nyaman terkadang perlu menghilang. Sajak ...
Rembulan Pagi
Cerpen, Sastra

Rembulan Pagi

Sumber: Generated AI Memilih jodoh itu ibarat kita memilih pakaian. Setiap detailnya harus luwes, pantas. Juga harus melihat budget, jangan memaksakan kehendak. Toh pakaian itu mau semewah dan semahal apapun kalau dipakai tidak nyaman, ya tetap gak bakalan bikin percaya diri. Tapi ya jangan terus milih yang murah jelek, kita perlu melibatkan selera. Pokoknya semuanya harus benar-benar dipertimbangkan. Nggak usah buru-buru, nantikan ada waktunya sendiri. Ada saatnya kamu merasa yakin bahwa Dialah yang terbaik. Ku buka kembali  pesan Whatsapp  ibuk satu minggu yang lalu. Nasihatnya masih terngiang-ngiang di kepalaku. Belakangan ini memang emosionalku sering di aduk-aduk. Banyak peristiwa yang membuatku semakin bertanya-tanya. Apa salahnya masih melajang di umur 29 tahun? Per...
Ketupat
Cerpen, Sastra

Ketupat

Sumber: Bola.com Sayup-sayup tak lagi terdengar bait-bait syair burdah yg biasanya didendangkan bersama oleh santriwati di Pendopo Khadijah saat kajian bersama Gus Amun. Juga suara tenang Gus Minan saat membacakan kitab Kifayatul Atqiya. Atau gema bacaan tadarus Al Quran di masjid lantai satu Al Faruq. Perlahan semua sepi, hanya ada beberapa santri yg tinggal hingga hari ini. Mayoritas mereka pulang setelah menyelesaikan taftis RFM di kantor pusat."Kamu nggak pulang nduk?" Sapaku sambil melipat mukena. Sudah menjadi tradisi di Pesantren kami bagi siapapun yg menjadi lurah atau pengurus harus rela pulang akhir atau lebaran pertama di tempat. Sembari tersenyum ceria, bocah kecil itu menjawab. Aku pulang kok, ini masih menunggu jemputan Baba dan Bubu. Katanya tadi sudah otw dari bandara...