Figura

Sumber: Pngtree.com

Malam yang dingin. Hujan enggan berhenti membasahi hamparan bumi tua yang telah bertransformasi menjadi hutan beton. Menciptakan garis-garis air yang tergambar jelas di jendela kamar. Suara gemericiknya menemaniku yang tengah sibuk mencari buku keramat karena selesai tidaknya tugasku bergantung pada catatan di dalamnya. Satu per satu laci meja belajar kubuka. Laci pertama tak ada, laci kedua pun sama. Kemudian tepat di laci ketiga, aku menyentuh sesuatu. Kuambil benda itu, sebuah kaca persegi panjang dengan kayu penuh ukiran di setiap sisinya. Figura yang sarat cerita, bahkan membuatku lupa akan tugas yang tengah meminta haknya. Bagaimana tidak, figura itu menampilkan foto dua gadis biasa yang tidak pernah terbayangkan bagaimana akhir kisah mereka. Saling merangkul, berlatar pantai pasir putih nan menawan. Kuusap debu di figura perlahan. Semakin jelas wajahnya, senyum getir semakin tak mampu kututupi.

Figura itu berisi fotoku dan Nurul lima tahun lalu yang telah usang. Nurul Latifah, dia teman dekatku. Sangat dekat. Seseorang yang ceria, cerdas, dan memiliki hati selembut namanya–Latifah. Aku mengenalnya sejak MTs, dan sebagian besar waktuku habis bersamanya. Di mana ada gula di situ ada semut, di mana ada Nurul di situ pula ada aku. 

Nurul adalah sosok perempuan yang selalu hadir dengan senyuman bagaimanapun kondisinya. Bahkan, ketika ia terpeleset di depan kelas pun, senyum itu tetap bersemayam di wajahnya. Seakan-akan, ia tak rela membagi kesedihannya pada orang lain. Kecuali pada episode lain seperti ketika ujian matematika, sejenak ia akan menanggalkan senyum indahnya.

Namun, semenjak dua tahun terakhir, tak jarang aku melihat ia menyendiri. Ia  melamun, lalu menangis tanpa alasan yang jelas. Diakui atau tidak, aku telah membersamainya sekian lama sehingga aku tahu betul bagaimana karakternya. Kucoba menormalisasi psikisnya sebagai seorang perempuan, tapi tetap tidak masuk logika jika seorang yang periang ini selalu menangis karena alasan sepele.

“Tidak mungkin hanya karena pensilmu patah, kamu menangis terisak-isak seperti ini. Aku tahu sifatmu Nurul, kamu tidak secengeng itu,” ucapku padanya.

Tidak hanya sekali dua kali. Berulang kali aku melihatnya menangis ketika sedang sendiri. Kemudian, ia akan kembali menampakkan senyumnya ketika di keramaian. Rahasia apa yang sebenarnya ia sembunyikan? Seprivasi itukah hingga aku tak berhak mengetahuinya? Sebenarnya, tak mengapa jika privasi itu tidak berpengaruh pada kondisi mentalnya. Namun, rasanya ada yang beda. Tak kutemukan lagi Nurul yang dulunya sering mengajakku mengerjakan tugas bersama. Tak ada lagi Nurul yang dulunya selalu sabar mendengarkan keluh kesahku. Alih-alih mendengarkanku, kini ia justru lebih sering menimpaliku dengan nada tinggi. Di mana Nurul yang selalu memaksaku bermain catur dengan papan kesayangan pemberian ayahnya? Di manakah dirinya yang dulu menjadi tempatku bertukar cerita? Kutarik napas panjang. Tak terasa bulir air luruh di pipi yang sesaat kemudian terpaksa kuusap karena orang yang tengah kupikirkan kini tengah datang menghampiri. Ia membawa dua mangkuk bakso dan perlahan duduk di sampingku. Menemaniku yang sedari tadi termenung di tengah bisingnya kantin sekolah. 

“Pesananmu, Ra,” ujarnya sambil menyodorkan mangkuk bakso.

“Yaps, makasih.”

Suasana cair seperti biasa. Aku menikmati baksoku, begitu juga Nurul dengan celetuk-celetuk ringan yang saling kami lontarkan. Hingga ia tiba-tiba melontarkan pertanyaan kecil yang luput kusadari makna di baliknya.

“Rara, jika aku melakukan kesalahan yang sangat besar, kamu mau memaafkanku?” 

Spontan aku menjawab, “tentu saja.” 

“Maafkan aku ya, Ra.”

Hei, apa ini? Minta maaf atas apa? Aku tidak marah padanya, Idulfitri juga belum tiba. Belum sempat aku menanyakannya, mata Nurul terbelalak memandang lurus ke depan. Seketika ia berdiri sambil berteriak dengan ekspresi tegang di wajahnya. 

“Ayah, Ibu, mengapa … mengapa bertengkar di sini? Bagaimana ini, Ra. Lihatlah itu. Itu … itu ayah dan ibuku.”

Nurul panik sekali. Ia menarik-narik tanganku sambil menunjuk ke arah ibu kantin. Padahal, orang tuanya saja tidak ada di sana. Bagaimana ceritanya ia bisa melihat mereka bertengkar? Itulah keanehan lain yang Nurul alami. Sudah beberapa kali ini ia berhalusinasi melihat sesuatu yang tidak ada di depannya. Pohon cemara yang ada di dalam kelas, gajah yang duduk di perpustakaan, dan sekarang, ibu kantin yang berubah menjadi ayah ibunya. 

“Nurul, bukan, itu ibu kantin. Di sini tidak ada ayah dan ibumu. Sudahlah, ayo ke kelas. Kamu capek, ya?”

Kupegang lengannya, kuusap-usap punggungnya, berharap tindakanku bisa sedikit menenangkan. Kemudian, kutuntun ia menuju ruang kelas, meski pandangannya masih menempel pada ibu kantin. 

~000~

Esok lusa, di pagi yang cerah. Berseri-seri wajahku yang telah siap menyambut Nurul dengan paper bag biru sebagai hadiah spesial atas keberhasilannya merebut kejuaraan catur di kancah nasional. Jangankan diriku, semua warga sekolah pun siap memberi sanjungan padanya. Namun, realitanya berbeda. Nurul berjalan memasuki kelas dengan tatapan kosong. Ia tidak menyadari bahwa berpuluh-puluh pasang mata tertuju padanya. Seorang Nurul yang pantang menampakkan diri tanpa senyum, kini hadir murung, tanpa sapa, juga tanpa reaksi atas ucapan selamat yang menyambutnya. Aku yakin bahwa sesuatu telah menimpanya hingga ia begitu terpuruk di hari yang seharusnya membahagiakan. Namun, percuma saja kutanyakan sekarang karena pastilah diam yang akan menjadi responsnya. 

Kubiarkan Nurul duduk di sampingku tanpa mengganggunya dengan pertanyaan-pertanyaan. Biarkan ia tenang, barulah nanti kuajak bicara. Kami mengikuti kegiatan belajar mengajar seperti biasa dan tak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Sampai pada detik ia berada di ujung pertahanan, fisiknya tak sanggup lagi menanggung semua beban mental. Nurul pun terkulai lemas di meja ketika guru sedang menjelaskan pelajaran.

“Nurul! Bangun Nurul, banguun …!” 

~000~

Jam tujuh malam. Aku bersandar pada dinginnya kursi tunggu IGD sembari tak henti merapal doa. Tak ubahnya orang-orang di sekelilingku, mereka pun berkali-kali menghela napas sambil sesekali menengadahkan kepala–entah untuk merengek pada-Nya atau menahan air mata. Mereka keluarga Nurul: ayah, ibu, juga adik kecilnya yang baru berusia enam tahun. Sejak pagi tadi kami menunggu perkembangan Nurul, tapi ia belum juga sadar. Bahkan, dokter melarang kami untuk menemuinya. Sampai pada masa ketika seorang dokter keluar dari pintu kaca IGD sambil melepas maskernya, membawa kabar yang tak pernah ingin kami dengar.

“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.” Air mataku tak dapat terbendung lagi pecah membasahi seluruh pipi. Meski berkali-kali aku menyangkal, harus kuakui bahwa takdir ini nyata. Nurul pergi jauh sekali, bahkan tanpa sepatah kata untuk terakhir kalinya.

Dalam suasana kalut itu, adik Nurul diam-diam menghampiriku, bermaksud menyampaikan barang yang Nurul titipkan untukku. Betapa terkejutnya diriku saat mengetahui apa yang dititipkan Nurul. Bukan secarik kertas, bukan sebuah foto, bukan pula papan catur, melainkan sebungkus kecil serbuk putih–semacam obat penenang. Aku tak tahu pasti jenisnya, tapi memegangnya saja membuat tanganku gemetar. Tak kusangka Nurul menyimpannya, atau bahkan menggunakannya?

“Aku tidak tahu apa itu, Kak. Tapi kata kakak, ia menggunakannya semenjak ibu menikah lagi dengan ayah kami yang sekarang.”

Ya Rabb … aku tak kuasa mendengarnya. Satu hal yang kuingat tentang ayah Nurul, ia meninggal karena kecelakaan, kemudian ibunya menikah lagi.

“Dik, kamu tahu tidak, apakah kemarin malam kak Nurul menangis?”

“Iya, ia menangis lama sekali. Kakak pulang membawa piala dan papan catur peninggalan mendiang ayah, tapi piala dan papan catur itu patah akibat ayah ibu yang terus bertengkar.”

Nurul, benarkah ini terjadi padamu? Nurul mengalami depresi berat akibat ayah dan ibunya menyambut dengan pertengkaran saat ia pulang membawa juara. Ditambah lagi, papan catur pemberian mendiang ayahnya rusak akibat pertengkaran itu, membuat ia kembali mengonsumsi obat terlarang hingga tak sadarkan diri esok harinya. Menjadi jelaslah bahwa Nurul telah mengenal obat-obatan terlarang sejak beberapa tahun lalu, ketika pertengkaran ibu dengan ayah tirinya terus dipertontonkan di depannya. Akibatnya, ia mengalami perubahan emosi dan sering berhalusinasi karena efek jahat obat itu. Kini kupahami arti permintaan maafnya padaku. Ia tahu bahwa perbuatannya salah, tapi karena tekanan yang dialami, ia tetap melakukannya. Ia berpikir obat itu akan meringankan depresinya, tapi lupa efek ganas yang bahkan kini telah merebut nyawanya.

~000~

Kupeluk erat figura yang ada di tanganku. Obat terlarang itu telah berhasil memporak-porandakan kisahku, memecahnya menjadi puing-puing tajam. Obat itu telah mengambil paksa jiwa dan raga Nurul dariku, meninggalkanku yang terus memeluk erat ingatan tentangnya dalam kesendirian. Padahal, semua ini bukan sepenuhnya salah Nurul, tapi entah mengapa harus dia yang menanggung akibatnya.

Malam yang dingin tanpamu, Nurul. Namun, kuharap kau tetap merasa hangat dan tenang di sana. Jangan kaurindu aku ya … karena Al-Fatihah-ku selalu ada di sampingmu.

Penulis: Isti Kamila | Editor: Nayla Sya