Pendidikan dan Literasi: Bekal Perempuan dalam Berperan

Sumber: Generated AI

“Pendidikan bukan hanya tentang gelar, tetapi juga cara berpikir dan mengambil tindakan.” Kalimat ini disampaikan oleh Lurah Pondok Pesantren Nurul Ummah Putri dalam sebuah pembuka agenda talkshow interaktif, dan menjadi penegasan bahwa pendidikan bukan sekadar capaian akhir, melainkan proses panjang yang membentuk kesadaran dan sikap.

Pemikiran tentang pendidikan dan literasi digital, sebagaimana disampaikan oleh Prof. Alimatul Qibtiyah, menunjukkan bahwa dua hal ini merupakan fondasi penting bagi perempuan di tengah arus informasi yang serba cepat dan viral. Pendidikan memberi kerangka berpikir, sementara literasi membantu memilah, memahami, dan merespons informasi secara kritis.

Ṭalabul ‘ilmi farīḍatun ‘alā kulli muslimin wa muslimatin (طلب العلم فريضة على كل مسلم ومسلمة) adalah pernyataan yang sudah sangat terkenal dalam dunia pendidikan Islam. Kalimat tersebut menjadi pijakan betapa pentingnya pendidikan bagi semua gender. Penambahan huruf ة dalam kata فرض memiliki faidah توكيد, yang menegaskan kewajiban mencari ilmu. Pernyataan ini seharusnya cukup menjadi pegangan bagi siapa pun yang masih memandang pendidikan sebagai sesuatu yang tidak mendesak bagi perempuan.

Prof. Alim mengatakan bahwa pendidikan memiliki manfaat besar bagi perempuan: menghalau budaya patriarki, melawan kemiskinan, dan membangun kemampuan berpikir kritis terhadap tafsir-tafsir yang kerap memarginalkan perempuan. Sejarah mencatat bahwa banyak peran perempuan tidak terdokumentasikan dengan baik, bukan karena peran itu tidak ada, melainkan karena belum membudaya untuk dicatat. Dahulu perempuan bukannya belum berpendidikan, tetapi memang adanya dipandang lemah. Jika bukan perempuan sendiri yang mencatat sejarahnya, lalu siapa lagi?

Pendidikan sejatinya bisa ditempuh oleh siapa pun dan di mana pun. Banyak universitas menawarkan short course, lembaga mengadakan pelatihan, dan masyarakat yang mau mengajarkan sesuatu kepada tetangganya. Pendidikan bisa ditempuh selama kita mau membuka diri, sementara literasi menjadi salah satu cara memulai lajunya. Literasi tidak hanya tentang membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan memahami sebuah informasi. Semua orang bisa membaca dan menulis, tetapi tidak semua orang mau dan mampu memahami sesuatu dengan baik. Prof. Alim juga menyampaikan bahwa literasi dapat menjadi perisai dan pedang bagi perempuan dalam hidup dan bermasyarakat. Dengan pendidikan dan literasi, perempuan dapat menyadari bahwa setiap peran memiliki nilai dan makna.

Terkadang musuh perempuan bukanlah laki-laki, melainkan diri sendiri. Perempuan harus melawan golongan sendiri untuk lepas dari zona nyaman subordinasi gender. Padahal, perempuan berhak dan mampu untuk berpendidikan. Ketika seseorang telah mencapai tujuan tertentu, hendaklah ia merangkul yang lain agar tetap setara.

Prof. Alim menegaskan bahwa perempuan yang berpendidikan tidak akan menikmati pencapaiannya seorang diri. Ia akan berbagi pengetahuan, kebermanfaatan, dan kebahagiaan kepada lingkungan sekitarnya. Dalam keluarga, perempuan berpendidikan dapat membersamai suami dalam menciptakan keluarga yang sakinah dan berilmu.

Keinginan perempuan untuk berpendidikan bukanlah upaya menyaingi laki-laki, melainkan ikhtiar untuk mengangkat derajat dan memberi manfaat bagi sesama. Kuntowijoyo bahkan berpendapat bahwa perempuan adalah pribadi yang bisa berdiri sendiri, setara dengan laki-laki. Kesetaraan adalah hal yang ingin dicapai perempuan: setara dalam pendidikan, politik, pekerjaan, beragama, dan perasaan.

Keberdayaan perempuan seharusnya tidak dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai kesempatan untuk tumbuh bersama. Kebersamaan tersebut kemudian dapat menjadi pengingat bahwa kita semua sama-sama setara dan layak. Sebuah masalah antar-gender kadang hanya perlu solusi ketersalingan. Saling memahami bahwa semua peran itu penting, begitupun pendidikan dan literasi.

Penulis: Fariha Nuril | Editor: Adhwa Nala

Tinggalkan Balasan