Jangan Ngoyo Mengubah Santri, Nanti yang Berubah Justru Emosimu Sendiri
(Sumber: Generate AI)
Suatu ketika menjelang subuh, saya kejatah piket membangunkan santri-santri pelajar. Nyalain lampu, pelan-pelan menepuk badan mereka.
“Bangun-bangun, subuh-subuh,” ucap saya sambil melihat tingkah mereka yang bermacam-macam versi. Yang kaki ketemu muka temannya, mungker seperti udang, dan sebagainya.
Mulai versi sabar, sampai versi ngamuk-ngamuk karena tak bangun-bangun juga pernah.
Kami tiap hari begitu. Bangunin santri, ngajar, jadi imam, mengawasi kegiatan, sampai bagian “oprak-oprak”.
Belum selesai di situ. Di luar pondok, kami ada yang kerja, juga kuliah.Kalau dihitung-hitung, waktu istirahat itu bukan kebutuhan, tapi kemewahan.
Dan di antara semua itu, ada satu ujian yang bikin emosi: menghadapi santri bandel.
Yang kalau dinasihati iya-iya, ...










