Sowan Dzurriyyah: Nge-charge Energi Ala Santri

Sumber: Dokumentasi Pribadi

YKD — Masih dalam suasana lebaran, beberapa santri Nurul Ummah Putri mengikuti kegiatan rutin sowan dzurriyyah pondok pesantren. Tepatnya pada Jum’at (3/4), bertepatan dengan 14 Syawal 1447 H, pukul delapan pagi mereka sudah mengenakan jas merah kebanggaan disertai jilbab senada. Semangat menyambung silaturahmi tetap bersemi meskipun jadwal kembali ke pondok tersisa beberapa hari lagi. 

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Satu bus berisi rombongan santri membelah jalan menuju Krapyak. Pertama, mereka mengunjungi ndalem Ibu Nyai Hj. Ida Fatimah Zaenal, pengasuh Komplek R2 Al-Munawwir. Beliau adalah istri Al-Maghfurlah KH. Zainal Abidin Munawwir, saudara seayah ibunda dari Ibu Nyai Hj. Barokah Nawawi, Al-Maghfurlaha Nyai Hj. Walidah Munawwir. Karena Ibu Nyai Hj. Ida Fatimah sedang ada udzur, para santri ditemui oleh suami dari Ning Khumairo’ (Ning Elok), putri bungsu Al-Maghfurlah KH. Zainal Abidin Munawwir. 

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Berikutnya, para santri mengunjungi ndalem Ibu Nyai Hj. Umi Salamah, pengasuh Komplek IJ (Al-Masyhuriyyah) Al-Munawwir. Beliau merupakan cucu dari Al-Maghfurlah KH. Muhammad Munawwir bin Abdullah Rosyad, sehingga juga merupakan saudara sepupu Ibu Nyai Hj. Barokah Nawawi.

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Setelah itu, bus beserta rombongan melanjutkan perjalanan menuju Ngrukem, Bantul. Dzurriyyah yang dikunjungi di sana adalah KH. Muslim Nawawi, adik Ibu Hj. Barokah Nawawi. Beliau merupakan pengasuh Pondok Pesantren An-Nur Ngrukem Komplek Pusat. 

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Menjelang zuhur, perjalanan kembali dilanjutkan menuju Giriloyo. Para santri berziarah terlebih dahulu ke Maqbaroh Al-Maghfurlah KH. Marzuki Romli sembari menunggu pelaksanaan sholat Jum’at selesai. Setelahnya, mereka mengunjungi ndalem KH. Ahmad Zabidi Marzuki, pengasuh Pondok Pesantren Ar-Ramly yang merupakan adik Al-Maghfurlah KH. Asyhari Marzuki. Di sana, beliau sempat menceritakan tentang kisah Sultan Agung yang bercita-cita wafat di Makkah. Akan tetapi, karena Sultan Agung ditugaskan untuk memimpin rakyat Jawa, dikirimlah tanah Makkah ke tanah Jawa sebagai gantinya. 

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Setelah menunaikan sholat zuhur, para santri melanjutkan perjalanan menuju Pondok Pesantren Al-Muna, Giriloyo. Mereka kemudian disambut oleh KH. Muslih Asy’ari dan Ny. Hj. Hannah Marzuki. Ibu Nyai Hj. Hannah Marzuki merupakan adik dari Al-Maghfurlah KH. Asyhari Marzuki, juga putri bungsu Al-Maghfurlah KH. Marzuki Romli. Kurang lebih pukul setengah dua, rombongan santri berpamitan dan kembali ke Pondok Pesantren Nurul Ummah Putri.

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Adapun setiap sowan ndalem dzurriyyah, perwakilan santri akan menyampaikan maksud silaturahmi, salam Abah dan Ibu, memohon maaf lahir dan batin, serta meminta doa dan restu. Para santri mengikuti rangkaian sowan dengan khidmah, berharap memperoleh berkah dan kebaikan, serta tak lupa mengabadikan momen dengan senyuman.

“Sowan dzurriyyah seperti ini bermakna banget. Selain sebagai pengerat silaturahmi dengan keluarga orang tua di pondok (pengasuh), rasanya seperti nge-charge energi sebelum menuntut ilmu lagi. Karena beberapa waktu tidak bertemu dengan teman-teman sepondok karena liburan. Lalu, bertemu dalam acara sowan dzurriyyah jadi senang banget.” ucap salah seorang santri. 

Harapannya, semoga kegiatan ini bisa terus dilaksanakan, baik saat maupun di luar momen lebaran. Kegiatan ini juga memberikan kesan indah bagi para santri sebagai perjalanan napak tilas dan kedekatan batin antara santri dengan pengasuh serta dzurriyyah dan keluarganya. Semoga para santri dapat terus menyambung sanad batin, menjaga tali yang erat dengan wasilah silaturahmi.

Penulis: Adhwa N | Editor: Nuril

Tinggalkan Balasan