S, L, U, C: Jalan Menuju Soro-soro

Sumber: pinterest.com / Freepik

“Aku nggak bisa nulis cerpen.”

“Nggak apa-apa, tulis aja pengalamanmu.”

“Udah dicoba, tapi susah nyusun kalimatnya.”

“Yaudah, deh. Terserah mau nulis apa, resensi juga boleh. Yang penting kamu ada sumbangsih tulisan di bulan ini, ya, Kirana.”

Percakapan tadi adalah awal kisah Kirana, sudah satu bulan ini ia tergabung dalam komunitas menulis di asramanya. Mahasiswa semester 3 Prodi Akuntansi di UWAW tersebut malah banyak berselancar di dunia kesusastraan, memandang lautan tulisan di buku-buku usang, dan menulis puisi. Aneh, ya? Tapi tak apa. Menulis itu kebutuhan. Tidak peduli apa jurusanmu di kampus, berbakat menulis atau tidak, menulis adalah perihal bisa karena terbiasa. Itu kata salah satu jurnalis senior Kirana.

Namun, tetap saja, setiap kali diminta menulis, Kirana selalu bingung.

“Kak Nay, aku beneran nggak tahu mau nulis apa.”

“Kenapa nggak soal demo kemarin?” sahut Nayma, teman sekaligus kakak tingkatnya.

“Eh, tapi kalau di-publish, kan nunggu antrean dulu, ya? Yah, basi dong.” Kirana mengkritisi ucapannya sendiri. Nayma mengangguk-angguk sambil menikmati semangkuk bakso di hadapannya, sesekali membenarkan kacamata. “Terserah pokoknya, Kirana. Lagi pula, nanti masuk editor juga, kan?” ucapnya. 

Mendengar itu, Kirana yang sibuk memasukkan bakso ke mulut asal menjawab, bibirnya membentuk huruf O. “Hooh, hooh, Kok Noy.”

Di tengah-tengah meja warung bakso Kang Larno, dua porsi bakso hampir habis, berikut es jeruk yang sudah tidak sabar diseruput. Ketika tandas es jeruk Kirana di sedotan kelima, ia berbunyi lagi. 

“Kak Nay, Kak Nay, ayo ke air terjun Soro-soro, kayaknya bagus, deh.” Kirana memperlihatkan layar ponselnya. Tampak akun @jogjaexplorercihuy__ menawarkan lokasi destinasi wisata hidden gem.

“Mau kapan?” Nayma ini kalau dimirip-miripkan hampir sama seperti kakak panitia pendaftaran lomba di film Jumbo, raut wajahnya datar, tapi tetap merespons baik.

“Hmm, satu hari ke depan mungkin, habis acara maulidan di asrama,” ucap Kirana.

“Oke, insyaallah.” Anggukan Nayma menciptakan sorak hore dari Kirana yang super excited. Dalam hati Nayma membatin, “Dasar Kirana, si paling intrusive thought.”

Asrama mereka tak jauh dari kampus UWAW, hanya sekitar dua kilometer. Jika berlari dengan kecepatan atlet 18 km/jam, jarak itu bisa ditempuh dalam enam menit. Tapi dengan sandal jepit di kaki, mereka memilih berjalan santai sekitar setengah jam sambil menikmati sunset di tengah kota Jogja.

Asrama itu sederhana, nyaris seperti pesantren. Kegiatan ngaji, shalat berjamaah, dan dzikir sudah jadi rutinitas harian. Malam ini, suasananya sedikit berbeda. Dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad saw., asrama yang diasuh Wakil Rektor Bidang Kepesantrenan UWAW mengadakan mauidhoh hasanah. Penceramahnya adalah Pak Salim, pria 50 tahun berwajah Timur Tengah dan berperawakan tinggi, dikenal ramah dan kharismatik.

Di tengah mauidhoh hasanah, Pak Salim membahas ayat Al-Qur’an surah Yunus ayat 58. “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Dengan Karunia Allah dan rahmat-Nya itu, hendaklah mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.’” 

“Ketika bahagia, kita akan bersyukur dan berdzikir kepada Allah Swt. Menjadi bahagia itu ketika kita bisa mensyukuri nikmat Allah yang sudah diberikan, tidak perlu membandingkan diri dengan orang lain,” ucap Pak Salim teduh. 

Anggukan anak asrama–sebut saja santri–tampak berirama mengiyakan ucapan Pak Salim. Di antara kurang lebih delapan puluh santri tersebut, duduk di tengah-tengah semi belakang, Kirana dan Nayma. “Nah, tuh, kita harus bahagia,” ucap Kirana seraya menyenggol kaki Nayma. Dikira Kirana ini, Nayma tak pernah bahagia, apa, ya? Memang, mata Nayma yang sebenarnya berbinar itu terhalang oleh kacamata. Ditambah dengan wajah sedatar papan tulis itu, lagi-lagi hanya anggukan yang diberikan Nayma untuk Kirana.

“Besok kita harus bangun pagi, sih, terus langsung otw ke air terjun Soro-soro,” ucap Kirana. Hingga tak lama kemudian, usailah mauidhoh hasanah Pak Salim. Gemuruh salam para santri memenuhi lobi asrama.

Pukul 04:00.

Ting… Ting… Ting… 

Bunyi hanger yang didentingkan di botol bekas mulai terdengar. Adalah rutinitas yang dilakukan oleh Bu Salma, istri Pak Salim, untuk membangunkan anak-anak asrama guna berjamaah subuh. Agaknya ke-excited-an Kirana yang beragenda jalan-jalan menjadikan matanya langsung ‘jreng’. Sedangkan Nayma, jangan ditanya lagi dia di mana, jikalau bukan sholat tahajud di mushola dengan mukena pinknya.

Langkah Kirana langsung menuju kamar mandi, mengambil handuk, dan selesai mandi dalam waktu kurang dari sepuluh menit.

Sajadah demi sajadah berbaris rapi di Asrama Putri Al-Kitti. Takbir, qunut, hingga salam terlantun khusyuk.

Jelang jam enam pagi, Kirana, Nayma, ditambah Elen dan Biya sudah berada di area parkir motor asrama. Jika ditanya mengapa Elen dan Biya ikut, sudah pasti diajak oleh Kirana yang setengah memaksa dan excited mendeskripsikan ekspektasinya.

“Kalau aku lihat di maps ya, perjalanan dari Jogja kota ke air terjunnya sekitar 1 jam 30 menit,” ujar Biya.

“Oh, ini yang deket Gunung Gedung, bukan?” Elen yang sedang mengamati layar ponselnya merespons.

“Betul, El,” jawab Biya dan Kirana bersamaan.

Sembari memakai helm, Nayma ikut bicara juga. “Nanti mampir ke minimarket dulu ya, beli makanan dan minuman.” Berbarengan tiga orang yang ada di sekelilingnya merespons, “OK”.

Perjalanan dimulai. Kalau kisah ini masuk ke dalam video klip, agaknya sudah cocok memakai soundtrack Running – Gaho, sebab energik sekali empat sekawan ini. 

Mampir di minimarket, Kirana berdiri di depan di kulkas, menimbang-nimbang antara susu rasa cokelat atau full cream. Elen dan Nayma mengambil snack, sementara Biya memilih-milih roti yang bisa dimakan untuk berempat. Beranjak dari situ, perjalanan ke arah barat kota Jogja ini memaparkan keindahan hijaunya hamparan sawah di kiri kanan jalan raya. Dua motor matic menjadi saksi bisu ember dopamin empat mahasiswa itu terisi.

Satu jam terlewati dengan Kirana sebagai penyetir motor terdepan berboncengan dengan Nayma yang menjadi penunjuk arah. Disusul oleh Biya yang menjadi penyetir dan Elen yang dibonceng.

“Belok kanan.” Itu suara navigasi dari GPS ponsel Nayma, Kirana cepat tanggap membelokkan motornya dengan hati-hati. Diikuti oleh Biya. 

Jalanan mulai berganti semen dengan lebar satu setengah meter. Kemiringan yang awalnya bersudut dua sampai lima derajat, berganti menjadi lima sampai sepuluh derajat. Jarang-jarang ada motor yang berpapasan di situ. 

“Elen, lihat knalpot motor Kirana, asapnya keluar hitam gitu,” ucap Biya.

“Ya Allah, iya eh, kuat nggak ini kira-kira?” Elen ikut khawatir.

Namun, tikungan demi tikungan bagaikan wajib adanya. Jalanan dengan bentuk bak huruf S, L, U, C, dan sebagainya itu semakin sering mereka dapati. Sadar tak sadar, sudah lima belas menit mereka menanjak di situ. 

“Belok kanan, belok kanan.” GPS berbunyi lagi. Kirana reflek menarik tuas rem kiri, mengontrol laju motor agar berhenti perlahan. “Hah? Nggak ada belokan ke kanan, tuh. Cuma ke kiri, kanan tuh jurang,” ujarnya. 

“Eh, kok jalannya udah batu-batu gini, sih?!” seru Biya. Motor mereka sudah mulai bersandingan di depan pertigaan. Area kanan hanyalah pepohonan semi jurang, sedangkan lurus seperti memasuki area hutan dengan jalan setapak dan bebatuan. Sebelah kiri, berdiri sebuah gapura suatu desa.

“Kirana, ini jaringannya udah susah, sisa satu garis doang.” Nayma berusaha me-reload jaringannya, lantas dua motor itu berhenti.

Cocoklah sudah di sisi gapura ada seorang ibu berjilbab abu-abu. Ia sedang duduk dengan karung berisi rumput di sampingnya. Kirana pun bertanya, “Maaf Bu, izin bertanya, kalau mau ke air terjun Soro-soro jalannya yang mana, ya?”

“Soro-soro? Walah, Mbak. Sampean wis kebablasan jauh,” ungkap sang ibu.

Hening sejenak, ia menunjuk ke jalan setapak bebatuan. “Sampean kalu lurus ke situ, jalannya jelek pol, Mbak.” Logat Jawa yang kental mewarnai kepanikan empat orang yang mendengarnya. 

“Nanti to ini, putar balik saja, Mbak,” saran ibu itu, Kirana lantas mengucapkan terima kasih. 

Berbaliklah mereka dengan rasa campur aduk antara bingung, sedih, senang, dan penasaran. Motor tetap melaju dengan hati-hati, tapi motor Kirana tak bisa seimbang di turunan berliuk seperti huruf S itu. Motor Biya, yang semula di belakang, melaju dan meluncur mendahului. Kirana mengerem sekuat tenaga pada lahan yang ada di tikungan. Optimismenya luluh lantak, ketar-ketir tidak sanggup menuruni jalan beralas semen.

Gemuruh menjadi-jadi. Angin kencang. Cahaya matahari tertutup awan. Dalam hutan seperti ini, hawanya sudah seperti film horor. Biya berhasil menghentikan laju motornya di sudut tikungan jalan. Tidak dengan Kirana yang masih mencengkram erat tuas rem kanan dan kiri. Napasnya dua kali lebih cepat berembus di balik kaca helm, begitupun dengan Nayma. Sholawat yang mereka lantunkan menemani udara hutan. Rem Kirana tak baik-baik saja. Motor berguncang. Hingga sampai di jalan yang agak datar, mereka berhasil berhenti.

Ciit.. 

Roda motor berbunyi nyaring. Gonggongan anjing terdengar dan mulai lantang. Di sebelah kiri jalan, atap rumah berbahan genteng yang cukup tua terlihat jelas.

“Kak Nay, Biya dan Elen gimana?” Kirana menunjuk-nunjuk atas sambil memegang motornya agar seimbang. Nayma turun dari motor, tergopoh-gopoh berbalik arah berniat melihat keadaan dua temannya itu.

Kirana panik, standar samping motornya terpeleset, gagal menopang motor di pinggir jalan semen. Lima detik kemudian motor jatuh menghempas tubuh kurus Kirana. Keduanya terjatuh. Gonggongan anjing terdengar semakin kencang.

“Tolong.. Kak Nay… Tolong…” Kirana berteriak. Nayma yang sudah berlari ke jalanan atas itu, sisa pucuk tasnya saja yang terlihat sebelum ia berbelok di persimpangan jalan. 

Sendirilah Kirana di TKP tersebut. Tak begitu lama, suara dua pasang sandal jepit terdengar mendekat. Agaknya, si pemilik rumah yang hanya kelihatan genteng cokelat dari jalan itu datang. Dua orang laki-laki paruh baya, berbaju cokelat dan biru.

“Wah akamsi ini,” batin Kirana.

Terharu. Bagaimana tidak? Di jalan kecil yang nyaris tak ada rumah, ketika motornya tergeletak seakan sedang bersembah sujud–ah tidak–sedang rebahan di samping jalan, pertolongan datang. Kirana ingin berdiri tapi benar-benar tidak kuat untuk membangunkan motornya sendiri. 

“Mbak, gapapa?” Lelaki berbaju biru bertanya. Kirana mengangguk canggung dan meminta tolong. Ia tersenyum sedih sembari membersihkan bawahannya yang terkena pasir. Sementara itu, lelaki berbaju cokelat membangunkan motor dan memarkirkannya di pinggir jalan. “Emang mau ke mana, Mbak?” tanyanya.

Di sisi lain, Nayma berlari-lari bak trekking. Ia menghampiri dua temannya: Biya, yang tampak lega meski motor yang ditumpanginya sedikit penyok setelah menabrak pohon di sudut tikungan; dan Elen, yang mulutnya terus komat-kamit. Siapa pun yang melihat mungkin akan berujar, “Masyaallah sekali Elen ini!” Rupanya ia sedang membaca dzikir dan shalawat, sebab tubuhnya masih bergetar hebat.

“Mbak Biya, sampean turunnya sendiri dulu, aku jalan kaki aja,” ucap Elen bergetar. 

“Kalian gimana, ada yang parah, nggak?” tanya Nayma sedikit panik.

“Aman, Nay,” jawab Biya. Biya dan Nayma ini satu angkatan. Sama-sama mahasiswa semester lima Prodi Sastra Indonesia di UWAW. Sementara Elen adalah mahasiswa semester 3 PGSD, hanya spill. 

“Kak Nay… Nggak jadi aja, ya, ke air terjunnya… Kita pulang aja…” Elen merengek dengan wajah takut-takut. 

“Nggak apa-apa, Elen. Bisa, yuk. Bismillah,” ucap Biya.

Alih-alih tenang, Elen malah dibuat panik lagi sebab seekor anjing sudah berada di sampingnya. Meraung-raung, seolah mengintimidasi. Panik bukan main. Syukur, tak begitu lama, hal ini diatasi Nayma yang mengusirnya dengan tenang. “Syuh… syuh.. pergi dulu, ya.” Seolah paham, anjing itu pergi dan masuk ke lahan kebun pinggir jalan. 

Turunlah mereka dari tanjakan. Biya menghidupkan mesinnya kembali, berhati-hati menggunakan motor. Nayma dan Elen berjalan beriringan. Mereka pun melihat Kirana yang sudah berdiri di depan dua laki-laki, dengan motor yang dipegang oleh salah satunya.

Serentak, Biya, Elen, dan Nayma mendekati Kirana dengan raut wajah seakan bertanya, “Kamu jatuh dari motor?!

“Kami mau ke air terjun Soro-soro, Mas. Dari petunjuk peta katanya lewat sini.” 

Dua lelaki itu saling tatap. “Koe reti air terjun Soro-soro ning endi?” tanya lelaki baju cokelat ke baju biru. Yang ditanya mengangguk.

“Owalah, Mbak. Harusnya sampean lurus terus dulu di jalan gedhe tadi,” ucapnya.

“Waduh…” ucap kirana lirih, begitupun ketiga temannya. 

“Tapi, Mas. Rem saya tuh kayak kurang berfungsi.” Kirana ragu-ragu bercerita. Alih-alih menghujat, si baju cokelat sigap mengecek dan mencoba motor Kirana. “Wah, rem belakangnya ini, Mbak,” ujarnya.

“Atau mau ke bawah dulu aja, di bengkel?” lanjutnya.

“Ya Allah, kebetulan macam apa ini?” batin Kirana. Di tengah hutan begini, kejadian sepele justru terasa merepotkan. Motor yang ia tunggangi oleng, bertemu dengan atap rumah yang ternyata berpenghuni, dan ajaibnya punya bengkel.

“Boleh, Mas,” ucap Kirana akhirnya. 

Perlahan, gonggongan anjing milik pemilik rumah itu mereda. Namun, begitu Kirana mengekor dua lelaki tadi, gonggongan kembali menjadi-jadi. Sebenarnya Kirana panik, tapi ia berusaha tenang.

Motor kirana diparkir di depan bengkel kecil di sudut rumah. Kirana mendapat satu dua informasi lagi tentang air terjun yang mau ia tuju. “Pokoknya kalau sudah sampai desa Wajan, sudah dekat itu, Mbak.” 

Kirana mengangguk-angguk, masih setengah tak percaya mendapat petunjuk yang lebih ampuh dibanding Google Maps. Hingga tiba-tiba ujung jari kakinya yang menapak sandal Swallow kuning terasa geli dan sedikit hangat. 

“Eh, Ya Allah,” decit Kirana. Reflek ia menghadap ke bawah dan mendapati seekor anak anjing berada dekat sekali dari kakinya. Lidah yang masih terjulur menyadarkan Kirana bahwa sesuatu yang geli itu adalah jilatan anjing yang ia lihat. Duh, belum sempat ia panik, ternyata rem motornya sudah selesai diperbaiki. 

Monggo, Mbak. Dicoba dulu,” ucap si baju cokelat. Kirana lantas merogoh dompet sembari bertanya, “Pinten, Mas, niki?”

“Nggak usah, Mbak.” Sambil geleng-geleng lelaki berbaju cokelat itu membuat Kirana bertanya lagi. “Beneran, Mas?” Lantas jawaban berupa anggukan membuat Kirana berterima kasih berkali-kali hingga berpamitan.

Tak berhenti sampai di situ. Di samping dua motor yang sudah menyala, satu motor keluar dari pekarangan rumah berbengkel. Di atasnya, si baju biru dengan kerendahan hati angkat bicara. “Saya antar ya, Mbak, sampai bawah.”

“Eh, beneran, Mas?” Kirana dan Elen refleks memastikan.

Singkat cerita, jalan raya sudah di depan mata. Jalan lintas kota itu tampak bagus—mulus nan halus. Gapura Desa Wajan yang dinanti-nantikan menjadi destinasi yang agaknya menggelegarkan hati mereka. Bukan agaknya lagi, memang iya adanya.

Dua-tiga kali pertanyaan “Ke mana ini arahnya?” keluar kepada warga setempat dengan keyakinan, ‘malu bertanya sesat di jalan’. Akhirnya, tanah sebidang di pinggir jalan berpalang tulisan ‘Air Terjun Soro-soro’ itu menjadi tempat untuk memarkirkan dua motor mereka.

Tiga pasang sandal menemani sepasang sandal Swallow kuning yang menjadi ala-ala penunjuk jalan. Jalan setapak yang masuk ke dalam hutan itu tak lagi menyeramkan. Suara gemericik air mulai masuk ke indra pendengaran, hawa sejuk sudah terasa sedari langkah pertama di bawah rindang pepohonan, meski terik matahari masih memancar.

Hijau pada batang pohon-pohon megah tak mengurangi ungkapan kagum keempat teman ini. Air terjun setinggi dua puluh meter itu sungguh indah adanya—hijau nan biru, menyatu-padu dengan kegirangan mereka.

“Wah, otomatis aktualisasi membersihkan najis mugholadzoh ini,” sebut Kirana, membawa tawa pada kesejukan tengah hutan bersama Nayma, Biya, dan Elen. Tak perlu ribet memikirkan bagaimana membersihkan najis besar itu. Air liur anjing bisa dibersihkan dengan tujuh kali basuhan air, salah satunya dicampur dengan debu. Tenang, mereka ada di sumber air.

“Kirana, tulis aja pengalamanmu ini jadi cerpen,” ungkap Nayma. Refleks, jawaban Kirana ialah, “Hmm, menarik juga. Iya lagi, iya lagi.”

SELESAI

Penulis: Dilla Azkiya | Editor: Adhwa N