
“Berziarah bukan sekadar berkunjung ke makam, tetapi juga perjalanan hati untuk mengenal diri, mengenang perjuangan, dan mendekat kepada Ilahi.”
Beberapa waktu lalu, saya dan tim mendapat amanah yang cukup menantang sekaligus menyenangkan mendampingi rombongan santriwati PP Nurul Ummah Putri dalam kegiatan ziarah wali dan wisata religi. Sekilas terdengar sederhana, tapi ternyata banyak hal menarik, lucu, bahkan mengharukan yang saya alami selama perjalanan itu.

Sejak jauh-jauh hari, kami—tim panitia telah disibukkan dengan berbagai persiapan. Mulai dari menentukan jadwal keberangkatan, memesan bus, menyiapkan konsumsi, hingga membagi kelompok. Semua diatur dengan cermat, sebab membawa rombongan santriwati tentu memerlukan perhatian dan tanggung jawab yang ekstra.
Malam sebelum berangkat, saya bahkan sulit tidur. Bukan karena grogi, tapi karena khawatir ada hal penting yang terlupa. Saya memastikan semua kebutuhan siap mulai dari obat-obatan, banner, HT, hingga speaker. Rasanya seperti menjadi panitia sekaligus “bapak rombongan” dadakan.

Begitu bus mulai melaju, suasana langsung hidup. Dimulai dari muqodaman hingga lagu-lagu sholawat menggema, diselingi tawa dan candaan ringan para santriwati. Saya ikut larut dalam suasana hangat itu. Di tengah riuhnya perjalanan, saya bisa merasakan semangat mereka untuk menimba berkah dan ilmu dari para wali Allah.
Sesampainya di makam pertama, suasana berubah menjadi hening dan khusyuk. Para santriwati berdoa dengan penuh kesungguhan, membaca tahlil. Melihat mereka berdoa dengan begitu tulus membuat hati saya tergetar seolah perjalanan ini bukan hanya perjalanan fisik, tapi juga perjalanan batin.
Tentu saja, ada saja momen lucu di sela-sela keseriusan. Ada yang salah arah menuju bus, ada yang terlalu semangat berfoto, dan ada juga yang tertidur pulas di tengah-tengah perjalanan ziarah. Tapi dari semua itu, saya justru belajar bagaimana menghadapi santriwati dengan sabar dan penuh semangat.
Sepanjang perjalanan, saya menyadari bahwa menjadi pendamping ziarah bukan hanya soal menjaga ketertiban. Lebih dari itu, ini adalah proses pembelajaran bagaimana menuntun santriwati untuk memahami makna ziarah secara mendalam.
Saya belajar untuk tidak hanya menjadi pengawas bahkan jadi tukang dokumentasi semata, tetapi juga menjadi teman, sahabat, dan penguat ketika mereka mulai kelelahan. Ada kepuasan tersendiri saat melihat para santriwati tersenyum bahagia dan kembali dengan hati yang tenang.

Ziarah kali ini meninggalkan kesan yang dalam bagi saya. Bukan hanya tentang berkunjung ke makam para wali, tetapi tentang kebersamaan, keikhlasan, dan rasa syukur.
Dari perjalanan ini saya belajar bahwa setiap langkah menuju kebaikan, sekecil apa pun, akan membawa keberkahan. Dan membawa rombongan ziarah santriwati adalah salah satu pengalaman yang tidak hanya melelahkan tubuh, tapi juga menenangkan jiwa.
Jika suatu hari nanti diberi kesempatan untuk mendampingi kembali, saya pasti akan menerimanya dengan senang hati. Karena di setiap perjalanan ziarah, selalu ada pelajaran hidup yang baru tentang sabar, cinta, dan kedekatan kepada Allah SWT.
Reporter : Abayu | Editor : Deri
