Rekap Ziarah Day Two: Dari Makam ke Makna, Refleksi Spiritual Santri di Tanah Wali

YKD – Minggu, (26/10). Dini hari yang amat berbeda bagi santri PP Nurul Ummah Putri, yang biasanya tak lepas dari aktivitas di bawah atap pesantren, kini para santri disuguhi sejuknya udara Bukit Giri lengkap dengan riuh rendah suara tukang ojek beserta derum motornya. Pukul 00.40 WIB, rombongan ziarah PP Nurul Ummah Putri tiba di makam Sunan Giri, Gresik, tempat tujuan kelima setelah sebelumnya singgah di beberapa destinasi yang juga berada di Jawa Timur. Rombongan dengan lima armada bus ini tiba di area parkir makam Sunan Giri di waktu yang sama. Sayangnya, jarak area parkir dengan area pemakaman terpaut cukup melelahkan jika ditempuh dengan jalan kaki. Sehingga mempertimbangkan efisiensi waktu dan tenaga, para santri menggunakan jasa ojek dengan harga yang bersahabat, yaitu 15 ribu rupiah untuk dua penumpang. Rombongan memasuki area pemakaman dengan tertib dan tanpa aba-aba para santri langsung duduk berdekatan mengelilingi makam sunan Giri, memposisiskan diri sebelum mengirimkan do’a terbaik untuk Sang Wali. Pembacaan tahlil kali ini dipimpin oleh Gus Muna yang berlangsung selama kurang lebih 15 menit.

Perjalanan dilanjutkan menuju destinasi berikutnya, yaitu makam Sunan Ampel Surabaya. Rombongan tiba di makam Sunan Ampel pada pukul 02.30 WIB, dan memasuki area pemakaman tepat setengah jam sebelum gerbang pemakaman ditutup. Namun demikian, setengah jam bukanlah waktu yang panjang untuk mengondisikan ratusan santri dari area parkir sampai area pemakaman, sehingga terpaksa rombongan terbagi menjadi dua, karena terbatasnya waktu sebelum area pemakaman ditutup. Rombongan pertama memasuki makan sebelum adzan Subuh berkumandang, tepat sebelum gerbang pemakaman ditutup. Pembacaan tahlil rombongan pertama dipimpin oleh Gus Muna. Sedangkan rombongan kedua memasuki pemakaman setelah gerbang dibuka kembali, yaitu setelah jama’ah Subuh dan pembacaan tahlil dipimpin langsung oleh Ibu Nyai Barokah Nawawi. Salah satu tujuan ditutupnya area pemakaman ini adalah agar tidak ada peziaroh yang menyibukkan diri di area pemakaman saat jama’ah Subuh berlangsung.

“Di sana hawa religiusnya terasa sekali. Suasananya adem. Jama’ah subuh full, bahkan makam ditutup agar orang-orang mengikuti jama’ah subuh. Setelah jama’ah juga ada pengajian di selasar masjid, seperti tadi pagi.” Komentar Ivvatul Iftitah, ketika ditanya alasan mengapa Sunan Ampel menjadi tujuan favoritnya pada ziarah kali ini.

Perjalanan berikutnya dilanjutkan tepat pukul 06.00 WIB pagi menuju destinasi terakhir yaitu makam Syekh Khalil Bangkalan yang ada di pulau Madura. Sebagaimana pada umumnya, rombongan harus melewati jembatan Suramadu sebagai akses utama menuju pulau Madura. Jembatan iconic tersebut memajang gagah dari Pulau Jawa sampai Madura, dan melewatinya melahirkan kebahagiaan tersendiri bagi santri Kota Gudeg ini. Ibarat dua pulau yang dihubungkan dengan satu kontruksi jembatan, kebahagiaan melawati jembatan Suramadu bagaikan kebahagiaan menjalin silaturahim antara manusia satu dengan manusia lainnya. Setelah tiba di Kabupaten Bangkalan, rombongan terlebih dahulu menikmati sarapan di salah satu Rumah Makan Bebek Sinjay sekitar pukul 07.30 WIB. Hal ini juga merupakan pengalaman tak terlupakan karena faktanya, tidak semua santri pernah menikmati lezatnya bebek goreng rempah dengan taburan srundeng dan sambal rujak sebagai toppingnya.

Perjalanan kembali dilanjutkan setelah sarapan pada pukul 08.30 WIB menuju makam Syekh Kholil Bangkalan dan tiba disana 15 menit kemudian. Kondisi area pemakaman cukup ramai karena memang bertepatan pada hari Ahad, sehingga banyak orang memanfaatkan waktu liburnya untuk berziarah. Namun demikian, rombongan tetap bisa memasuki area pemakaman tanpa halangan apapun. Pembacaan tahlil dipimpin langsung oleh Ibu Nyai Barokah Nawawi, selesainya pembacaan tahlil, para santri diberi kebebasan waktu sampai pukul 10.30 WIB. Rombongan meninggalkan lokasi sekitar pukul 11.00 WIB. Setelah memastikan tidak ada seorangpun yang tertinggal, rombongan pun meninggalkan lokasi ziarah menuju pondok tercinta, dengan ribuan cerita yang siap terlontar kapan saja.

Kegiatan ziarah merupakan salah satu program rutin PP Nurul Ummah Putri yang diagendakan setiap dua tahun sekali. Kegitan ini bukan sebatas study tour ala pesantren, namun juga menyimpan tujuan yang sarat makna di dalamnya. Melalui ziarah pada makam para wali dan ulama, para santri bisa mengenang kembali perjuangan dakwah mereka untuk kemudian dijadikan sebagai contoh. Selain itu, ziarah bisa menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah. Para santri dapat melangitkan do’a melalui tawassul kepada Shahibul Maqbarah ketika mereka berada tepat di samping pusaranya. Dengan berziarah para santri juga bisa memulihkan kembali pikiran yang sebelumnya lelah akibat berbagai tuntutan dunia, sebagaimana yang diungkapkan oleh Ivvatul Iftitah,

“Dengan ziarah kita bisa me-recharge energy yang sudah terkuras habis menjalani kesibukan dan tuntutan hidup sehari-hari.”

Komentar senada juga dilontarkan oleh Dita Destiana, “Ziarah itu membawa kesenangan batin tersendiri, dan itu berbeda dengan sekedar jalan-jalan ke tempat wisata. Kalau kita jalan-jalan ke tempat wisata umum, pantai atau gunung misalnya, kesenangannya hanya di tempat itu saja. Setelah itu badan capek dan kesenangan tadi juga menguap. Tapi kalau ziarah, meski badan terasa capek, kesenangan dan ketentraman itu masih ada bahkan berhari-hari setelahnya.”

Penerapan disiplin tinggi yang membuat kegiatan ziarah sesuai rundown, ditambah lagi dengan fasilitas transportasi yang nyaman, Ziarah Jawa Timur Nupi 2025 tampaknya membawa begitu banyak cerita indah dalam benak setiap santri.

“Empat ratus ribu itu worth it dengan segala fasilitas yang ada. Baru kali ini ziarah pengennya di dalam bus terus. Biasanya saya memaksimalkan waktu di luar bus, kali ini justru sebaliknya.” Komentar Fariha Nuril terkait transportasi ziarah.

Begitupun ketika Ivvatul Iftitah dan Fariha Nuril ditanya, apakah jika diadakan ziarah lagi mereka berkenan mengikutinya kembali, serempak mereka menjawab, “MAUUU…”

Reporter : Istikamila | Editor : Dere