
YKD – Sabtu (25/10), pagi-pagi sekali, penghuni Pondok Pesantren Nurul Ummah Putri sudah terdengar ramai. Mulai dari kamar yang dipenuhi tas dan barang-barang, sampai halaman kamar mandi yang penuh dengan kalimat, “Terakhir kamar mandi, sinten?”, “Ngebar, ya, Mbak,” dan sebagainya. Terlihat gambaran suasana perjalanan yang asyik akan dimulai.
Setelah jamaah Subuh, deru suara bus mulai terdengar. Jas merah marun dan jilbab cokelat nan indah itu mewarnai Pendopo Al-Khadijah, duduk mendengarkan pesan dari pengasuh, K.H. Munir Syafaat. Melalui pengeras suara, Abah Munir memberi pesan kepada para santriwati dalam menyikapi aktualisasi ziarah.
“Ziarah para kiai, ulama, dan auliya ini diniatkan lillāhi ta‘ālā — semata-mata untuk mencari ridha Allah SWT, mendekatkan diri kepada-Nya dengan memperbanyak bacaan Al-Qur’an, dzikir, dan sholawat,” pesan beliau.

Dalam ziarah, kita mendoakan para ulama. Mereka memang tidak membutuhkan doa kita; justru kitalah yang sangat membutuhkan doa mereka. Ketika kita mendoakan mereka, doa itu menjadi wasilah agar kita juga mendapatkan keberkahan dari Allah, karena mereka adalah hamba-hamba yang ikhlas tanpa kepentingan duniawi.
Oleh karena itu, setelah tahlil biasanya dibacakan doa tawassul, Abah Munir memberi contoh, “Ya Allah, melalui perantara para kekasih-Mu ini, permudahlah urusanku dalam mencari ilmu, limpahkanlah ilmu yang bermanfaat, jadikanlah pondok pesantren kami senantiasa penuh berkah, manfaat, dan makmur sepanjang masa.”
Pada akhirnya, Abah berkata, “Abah mohon maaf tidak dapat mendampingi kalian semua karena kondisi yang belum memungkinkan. Mohon doanya agar Abah diberi kesehatan dan kemudahan oleh Allah SWT.”
Lantas perjalanan ke arah timur Pulau Jawa ini dimulai. Ibu Nyai Hj. Barokah Nawawi di hadapan kru Ardes Tour Travel menuturkan harapan agar perjalanan dilaksanakan tanpa tergesa-gesa, diberikan kelancaran, keselamatan, dan kesehatan lahir batin. “Kemudian, apa yang jadi tujuan kita berhasil dengan sukses dan penuh berkah. Monggo, bismillah,” ucap beliau.

Pukul 06.00, lima armada bus mulai menempuh perjalanan menuju Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi-ien Lirboyo, Kediri. Masing-masing armada berkapasitas 50 orang. Bus 1 dan 2 memuat para santriwati pelajar yang didampingi para ustadz dan ustadzahnya. Bus 3 memuat Ibu Nyai Hj. Barokah Nawawi, didampingi Agus Minanullah beserta istri, dan para santri mahasiswa. Adapun bus 4 dan 5 memuat para santriwati mahasiswa.
Lantunan ayat Al-Qur’an yang merdu mengawali playlist perjalanan. Sesuai arahan Ibu Nyai, para santriwati diimbau untuk melaksanakan muqoddaman. Sesampainya di Lirboyo, matahari memancar kuat di samping lima armada yang berhenti perlahan di halaman luas Pondok Pesantren Lirboyo.
Pukul 11.20, tahlil dan doa berlangsung khidmat di depan makam masyayikh Lirboyo, di antaranya ialah K.H. Maftuh Basthul Birri, K.H. Abdul Kholiq, K.H. Abdul Qodir Ridlwan, dan beberapa dzurriyyah. Tahlil dipimpin langsung oleh Ibu Nyai Hj. Barokah Nawawi. Selanjutnya, pelaksanaan salat jama’ taqdim Dzuhur dan Asar dilaksanakan berjamaah di Masjid Al-Hasan Ponpes Lirboyo.

Matahari masih memancar kuat menemani armada dan para santriwati menuju Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Ma’unah Sari, Bandar Kidul, Kediri, untuk berziarah ke makam K.H. M. Mubasyir Mundzir dan Ny. Hj. Zuhriyyah Munawwir, yang merupakan bibi dari Ibu Nyai Hj. Barokah. Pembacaan tahlil dan doa khatmil Qur’an berlangsung dengan tenang.
Selanjutnya, para santriwati makan siang dan beristirahat di aula ponpes tersebut hingga pukul 15.00. Langit mulai berawan, rintik hujan pelan-pelan jatuh ke bumi, lembut saja, tidak deras sama sekali. Maka, lima armada kembali melaju menuju Kabupaten Mojokerto.
Destinasi ketiga adalah Makam Syekh Jumadil Kubro. Dilansir dari walisongobangkit.com, Syekh Jumadil Kubro diyakini sebagai bapak para Walisongo karena beberapa Walisongo seperti Sunan Ampel dan Sunan Giri merupakan cucunya. Sebelum melaksanakan tahlil bersama, santriwati melaksanakan salat jama’ taqdim Maghrib dan Isya.

Intermezzo, jajanan UMKM wisata religi memang khas sekali, tampak nikmat jika disantap menemani hujan rintik-rintik yang masih membasahi tanah. Beberapa santri terlihat menyambangi para pedagang lokal sebelum kembali ke bus.
Tujuan destinasi belum berakhir sampai di situ. Bus melintas di Jl. Raya Bypass Mojokerto, melipir ke rumah makan prasmanan selama kurang lebih satu jam. Selanjutnya, destinasi bergeser ke daerah utara Jawa Timur.

Pukul 22.40, bus berhenti di area parkiran Makam Maulana Malik Ibrahim, Gresik. Para rombongan perlahan menaiki mobil Damri dengan ongkos Rp15.000 per orang menuju Makam Sunan Gresik sejauh 3 km. Waktu semakin larut, malam yang sejuk itu terasa khidmat dengan lantunan tawassul, tahlil, dan doa. Dan apa yang terjadi selanjutnya, nantikan di info day two.
Penulis: Dilla Azkiya | Editor: Adhwa N
