
Jam dinding pondok menunjukkan jam sudah melewati pukul sebelas malam. Jalan menuju Pendopo Al Khodijah Pondok Pesantren Nurul Ummah Putri mulai terasa sepi. Dari kamar-kamar, hanya suara lembut lantunan hafalan santri yang terdengar di telinga.
Tapi di salah satu sudut Pendopo Al Khodijah, Ama sedang duduk bersila sambil menatap layar laptopnya yang masih menyala. Dengan mata yang dipenuhi dengan kantuk yang sangat berat dan ditemani dengan dinginnya susu stroberi—minuman kesukaan Ama. Ia masih membuka laptopnya untuk mencatat hasil berbagai rapat yang telah ia ikuti satu hari ini.
“Padahal, aku udah niat buat tidur cepat malam ini,” gumamnya lirih, lalu ia tersenyum kecil. “Tapi ya… rapat rapat rapat.”
Ama merupakan salah satu mahasiswa baru di salah satu kampus negeri di yogyakarta, ia juga merupakan seorang santri di Pondok Pesantren Nurul Ummah Putri Kotagede. Ia juga dikenal aktif di berbagai organisasi kampus dan juga pondoknya.
Capek? Iya. Tapi baginya ini merupakan bagian dari proses beradaptasi.
Setiap kali ia lelah di kampus, ia berpikir, “nanti kalau balik pondok, aku mau langsung tidur ah.”
Tapi kenyataannya? Jauh dari kata itu.
Begitu sampai pondok, bukannya istirahat, Ama justru mendapatkan panggilan dan mendapat amanah baru — menjadi salah satu pengurus komplek.
Baru saja pulang kuliah sore, belum sempat mandi, hanya makan dan juga sholat, ia sudah harus menjalankan kewajibannya menjadi santri yaitu; mengaji. Kesibukannya bukan hanya sampai situ, setelah mengaji, ia juga harus menghadiri rapat kepengurusan yang ada di pondok.
“Hidupku tuh kaya berputar antara kuliah, organisasi kampus, ngaji, dan organisasi pondok. Gitu gitu terus..,” ucapnya sambil terkekeh kecil.
Awalnya, Ama masih bisa tersenyum dan juga menikmati berbagai kesibukannya. Ia berpikir bahwa ini merupakan bagian dari pengabdian, perjuangan dan bekal pengalaman untuk masa depannya.
Tapi tubuhnya mulai protes.
Pagi hari, wajahnya masih tampak segar saat berada di kampus. Namun, ketika kembali ke pondok, matanya sudah sembab karena menahan kantuk saat ngaji maupun rapat.
Bayangan yang sering menghantuinya tentang nikmatnya tidur malam dan bangun tanpa alarm tanggung jawab.
Namun, setiap kali ia ingin berhenti, ada suara kecil di kepalanya;
“Nanti dikira malas.”
“Nanti nggak bisa dipercaya lagi.”
Sampai akhirnya, rasa lelah itu meledak diam-diam.
Suatu malam, Ama menatap lama layar laptopnya — bukan karena mengetik, tapi ia bingung harus mulai dari mana.
Tanpa sadar, air matanya mulai jatuh dari pojok matanya.
Bukan karena sedih, tapi karena ia sudah terlalu lelah dengan berbagai tugas kampus, organisasi, dan kewajiban ngajinya. Rasa lelah karena harus menghabiskan semua waktunya untuk orang lain, sementara ia jarang sekali mengistirahatkan dirinya sendiri.
Meskipun lelah, Ama tidak pernah lalai dengan tugas kampus — ya, walaupun mepet deadline, eheheh…
Kewajiban mengaji pun tetap ia kerjakan — ya, meskipun dengan rasa kantuk yang luar biasa.
Ia masih tetap berusaha untuk memenuhi semua amanah yang diembankan kepadanya.
Satu-satunya waktu yang bisa ia curi untuk diri sendiri hanyalah saat malam larut. Ketika hp dari santri harus dikumpulkan dan hanya laptop yang dapat ia ajak berbicara.
Di situ, antara detak jam dan rasa kantuk, Ama belajar bertahan.
“Aku sering mikir, kapan ya aku bisa ngerasa tenang? tanpa ada tugas kampus maupun organisasi.” Katanya pelan.
Waktu terus berlalu…
Hari demi hari yang melelahkan terus berjalan, sampai akhirnya Ama sadar — bukan dunia yang terlalu sibuk, tapi dirinya yang belum belajar memilah organisasi.
Ia mulai sadar, bahwa tidak semua organisasi dan kegiatan ia ikuti, gak semua tanggung jawab juga harus ia ambil.
Ama juga sadar, kalo dia harus belajar buat bilang “Tidak” tanpa merasa bersalah.
Bukan karena Ama malas, tapi karena ia ingin benar-benar hadir di tempat yang penting, di tempat yang benar benar membuat ia berkembang dan belajar banyak hal, di tempat yang mau menerima apa adanya Ama.
“Aku gak mau berhenti aktif,” ujarnya. “Cuma menjadi seorang aktivis juga perlu menentukan arah tujuan ia mengikuti organisasi.” Ujarnya dengan mantap.
Kini, Ama masih tetap aktif di berbagai organisasi dan kegiatan.
Tapi ia sudah bisa membedakan. Terkadang Ama masih tetap lembur, tapi kali ini dengan senyuman lega — bukan dengan air mata.
Refleksi:
Kadang, kita terlalu sibuk mencari organisasi yang kita minati, sampai lupa menanyakan, apa manfaatnya? Apa tujuannya?
Kita ingin dianggap sebagai orang yang kuat, tangguh dan juga selalu siap — padahal tubuh, otak, dan hati kita juga butuh ruang untuk diam dan beristirahat.
Dari Ama, kita mengerti, bahwa istirahat bukan tanda menyerah, tapi bagian dari menjaga kewarasan dan juga niat.
Karena kelelahan yang dipaksakan, hanya akan membuat makna pengabdian kita menjadi sia-sia. Darinya kita belajar, bahwa waktu istirahat juga bisa menenangkan pikiran kita agar dapat berpikir lebih jernih lagi — menata hati, menata niat sebelum akhirnya kita harus melangkah lagi.
Penulis: Ahyana | Editor: Dere
