Bilik Santri

Dilema Warga Lokal Rasa Rantau
Bilik Santri

Dilema Warga Lokal Rasa Rantau

Sumber: Pinterest.com / Aocel Bera Sering kali aku dianggap pendatang, padahal sejak lahir aku di sini-sini aja. Satu hal yang sebenarnya kupertanyakan adalah mengenai sikap orang-orang yang pernah menjadi lawan bicaraku. Entah apakah mereka benar-benar tidak tahu kalau aku itu warlok (warga lokal), atau memang tidak percaya saja kalau aku bisa berbahasa Jawa. Akta kelahiranku yang tak palsu menjadi bukti bahwa aku 21 tahun silam dilahirkan di kota ini, Yogyakarta istimewa. Dan nggak berhenti sampai lahir saja, aku tumbuh hingga menjadi diri yang sekarang tanpa pernah jauh-jauh dari kota yang masih punya vibes ibukota. Tapi sebenarnya lagi, aku punya jawaban, atau mungkin lebih tepatnya dugaan mengapa fenomena ini bisa terjadi. Ya karena aku sendiri. Meskipun mengaku-ngaku bisa berba...
Kartu Imtihan: Antara “Nanti dulu ah” dan Kepanikan Massal di Akhir Semester
Bilik Santri

Kartu Imtihan: Antara “Nanti dulu ah” dan Kepanikan Massal di Akhir Semester

Ada satu momen di pondok yang selalu sukses bikin santri mendadak rajin: pengumuman pengurusan kartu imtihan. Santri yang biasanya santai, tiba-tiba sibuk buka catatan, ngecek grup WA, mondar-mandir ke kantor, dan bertanya, “Eh, syahriahku sudah lunas belum, ya?” Padahal pengumumannya sudah keluar sejak entah kapan. Imtihan, baik semester 1 maupun 2, memang bukan cuma soal belajar dan qirtub, tapi ia juga datang bersama paket lengkap: syarat administrasi, pembayaran, dan ujian mental yang menguji kesabaran, kesiapan, serta kebiasaan kita dalam menunda-nunda. Dan semester ini terasa berbeda buatku. Bukan karena syaratnya bertambah, tapi karena ini adalah semester terakhirku mengurus kartu imtihan. Sekaligus semester di mana aku sadar ternyata selama ini yang bikin ribet itu bukan imti...
Belajar Kesalingan dari Dapur
Bilik Santri

Belajar Kesalingan dari Dapur

Sumber: Pinterest (@Widi Cincincouple) “Nikah wae, Mas, ben ono sing masakke, ono sing resik-resik omah1,” celetuk ibu-ibu tetangga saat kebetulan lewat dan melihat saya memasak. “Lah nek niku malah pados pembantu, sanes pados pasangan, hahaha2,” jawab saya sembari melanjutkan mengiris kacang panjang.Meskipun hanya bisa memasak masakan rumah, saya sangat bersyukur memiliki keterampilan memasak yang seujung kuku itu. Keterampilan yang mungkin dianggap sepele oleh sebagian orang, tetapi bagi saya justru sangat membantu dalam bertahan hidup. Terutama setelah ibu wafat dan saya hanya tinggal berdua dengan bapak. Sejak saat itu, dapur tidak lagi sekadar ruang mengolah makanan, melainkan juga ruang belajar tentang kemandirian, tanggung jawab, dan cara merawat kehidupan sehari-hari. S...
Seminar Proposal Risalah: Care or Scare?
Bilik Santri

Seminar Proposal Risalah: Care or Scare?

Dokumentasi: Pribadi Ahad, 11 Januari 2026. Serambi masjid putri telah disulap sedemikian rupa menjadi aula seminar proposal. Karpet-karpet terhampar, meja-meja tersusun rapi–saling berhadapan–lengkap dengan helai taplak yang terpasang seolah menautkan mereka dalam keseragaman. Spanduk bertuliskan “Seminar Proposal Risalah Madrasah Diniyah Nurul Ummah Putri Kotagede Yogyakarta” terpasang tepat di belakang meja presentasi peserta. Sound system pun telah siap menguatkan setiap suara yang hadir di ruangan itu.  Pukul 09.30, mereka yang memiliki kewajiban hadir dalam forum tersebut telah menempatkan diri. Mulai dari peserta seminar–siswi kelas 2 Marhalah 3 MDNU-Pi dengan batik hijau dan jilbab putih–ustadzah pembimbing dan penguji dengan batik ungu dan jilbab senada, hingga moderato...
Pukulan Hadroh: Bahasa Cinta Kepada Nabi
Bilik Santri

Pukulan Hadroh: Bahasa Cinta Kepada Nabi

Sumber: Generated AI Cinta kepada Nabi Muhammad SAW tidak selalu terucap lewat kata-kata yang indah. Masyarakat muslim di Indonesia mengekspresikan cinta kepada Nabi melalui lantunan sholawat yang hidup dalam tradisi. Salah satunya hadir melalui kesenian hadroh. Secara bahasa, hadroh berasal dari bahasa Arab ḥaḍara–yaḥḍuru, yang berarti hadir. Secara istilah, hadroh dapat dimaknai sebagai kegiatan menghadirkan nilai-nilai keislaman melalui kesenian, sekaligus mengajak orang untuk berkumpul, bersholawat, dan belajar mencintai Islam dengan cara yang lembut. Hadroh tidak hanya berfungsi sebagai seni pertunjukan, tetapi juga menjadi media dakwah yang halus dan tidak menggurui. Melalui irama dan syair sholawat, nilai-nilai keislaman disampaikan tanpa paksaan. Tidak semua orang mudah me...
Koleksi Punchline Abdi Ndalem Abah Yai (Part 1)
Bilik Santri

Koleksi Punchline Abdi Ndalem Abah Yai (Part 1)

Sumber: Generated AI Bolehlah seorang Zuhda adalah abdi ndalem (santri yang berkhidmah di rumah kyai). Namun, di sisi lain, ia juga makhluk Tuhan yang bebas berpendirian, merokok, dan berkokok dengan nalar sehatnya jika mendengar ungkapan yang bergejolak. Satu momen ketika pengajian Sahih Bukhari, Zuhda adalah individu yang bersemangat bukan untuk dirinya saja, tetapi juga teman se-atapnya di asrama. Dia mendengar satu penjelasan menggelitik, yaitu “Jika kita dekat dengan Allah, maka hati kita akan dingin.” (terjemahan ke bahasa Indonesia dari Jawa). Tidak lama kemudian, Zuhda berkomentar, “Kalau tidak punya uang apakah hati bisa dingin?” (terjemahan juga, tapi coba sambil bayangkan bagaimana ekspresi Zuhda, ditambah suaranya yang tegas berbalut nada Jawa ala Gunungkidul dengan menge...
5 Alasan Santri Meng-Hide Status Media Sosial dari Keamanan Pondok
Bilik Santri

5 Alasan Santri Meng-Hide Status Media Sosial dari Keamanan Pondok

Ilustrasi: gambar hasil generate AI Di pondok pesantren, kehidupan santri diatur dengan cukup rinci. Mulai dari jadwal ngaji kitab, piket cuci piring, sorogan Al-Qur’an, sampai hal sesederhana kapan boleh main HP. Tapi ada satu hal yang nggak bisa sepenuhnya diatur oleh pesantren, yakni isi status media sosial, termasuk WhatsApp.  Walau tampak sepele, status bisa jadi bumerang yang rumit. Ada pesan yang ingin dibagi, tapi juga takut salah tafsir. Ada perasaan yang ingin dicurahkan, tapi khawatir malah dianggap “nggak pantas”. Maka, muncullah strategi rahasia khas santri era digital: meng-hide status dari keamanan pondok.  Bukan karena ingin melanggar, tapi kadang hanya butuh sedikit ruang untuk jadi diri sendiri tanpa harus merasa diawasi. Mari kita bahas lima alasan ...
Naik Motor Dulu, Baru Kuliah
Bilik Santri

Naik Motor Dulu, Baru Kuliah

Sumber: pinterest.com / Mahesa Fauzi R Awal bulan Agustus tiga tahun lalu, salah satu universitas ternama di Yogyakarta menggelar masa orientasi mahasiswa. Saya yang dulu rencananya (baca: kepinginnya) turut serta, ternyata hanya bisa memantau dari cerita teman-teman SMA. Sebenarnya tidak sedih-sedih amat, sih. Karena saya sendiri juga menyadari betapa kurang siapnya nanti jika sudah harus menjadi mahasiswa. Lha wong belum bisa naik motor, kok. Memang, tak ada persyaratan bagi mahasiswa baru terkait kemampuan berkendara. Hanya saja, sebagai warga Jogja yang daerahnya lumayan pelosok, kemampuan itu sangat diperlukan. Apa lagi kalau bukan untuk ngelaju pulang pergi rumah-kampus? Secara, jarak yang perlu ditempuh sendiri hampir dua puluh kilometer. Mau ngonthel ya ngelu, ojek online dom...
Di Balik Kalender yang Penuh, Ada Aku yang Hampir Runtuh
Artikel, Bilik Santri

Di Balik Kalender yang Penuh, Ada Aku yang Hampir Runtuh

Jam dinding pondok menunjukkan jam sudah melewati pukul sebelas malam. Jalan menuju Pendopo Al Khodijah Pondok Pesantren Nurul Ummah Putri mulai terasa sepi. Dari kamar-kamar, hanya suara lembut lantunan hafalan santri yang terdengar di telinga.  Tapi di salah satu sudut Pendopo Al Khodijah, Ama sedang duduk bersila sambil menatap layar laptopnya yang masih menyala. Dengan mata yang dipenuhi dengan kantuk yang sangat berat dan ditemani dengan dinginnya susu stroberi—minuman kesukaan Ama. Ia masih membuka laptopnya untuk mencatat hasil berbagai rapat yang telah ia ikuti satu hari ini. “Padahal, aku udah niat buat tidur cepat malam ini,” gumamnya lirih, lalu ia tersenyum kecil. “Tapi ya… rapat rapat rapat.” Ama merupakan salah satu mahasiswa baru di salah satu kampus negeri di ...
3 Dawuh Ibu, Pengingat di Kala Sendu
Bilik Santri

3 Dawuh Ibu, Pengingat di Kala Sendu

Potret Ibu Nyai Hj. Barokah Nawawi sedang memberikan prakata dalam acara OP3 PPNU-Pi 2025 (Sumber: Dokumentasi Media) Bagi sebagian orang, kalimat hanyalah susunan kata. Akan tetapi, bagi sebagian yang lain, kalimat adalah ramuan manjur untuk mengobati hati yang lara.  Rasanya, menulis dawuh tiap pertemuan dengan guru adalah hal yang paling kutunggu. Bukan ingin dianggap rajin karena membawa mangsi dan secuil kertas tiap ada majelis, tapi sadar diri saja: penyimpanan otakku tak secanggih ChatGPT. Selain bermanfaat bagi diri sendiri, tulisan itu ternyata juga dinanti salah satu divisi untuk dicantumkan pada merchandise acara rutin pondok tercinta. Oleh karena itu, sebagai pengingat, di bawah ini adalah “dawuh guru” yang bisa kita simpan dalam qolbu, dijadikan bait-bait tingkah...