
Sumber: pinterest.com / Mahesa Fauzi R
Awal bulan Agustus tiga tahun lalu, salah satu universitas ternama di Yogyakarta menggelar masa orientasi mahasiswa. Saya yang dulu rencananya (baca: kepinginnya) turut serta, ternyata hanya bisa memantau dari cerita teman-teman SMA. Sebenarnya tidak sedih-sedih amat, sih. Karena saya sendiri juga menyadari betapa kurang siapnya nanti jika sudah harus menjadi mahasiswa. Lha wong belum bisa naik motor, kok.
Memang, tak ada persyaratan bagi mahasiswa baru terkait kemampuan berkendara. Hanya saja, sebagai warga Jogja yang daerahnya lumayan pelosok, kemampuan itu sangat diperlukan. Apa lagi kalau bukan untuk ngelaju pulang pergi rumah-kampus? Secara, jarak yang perlu ditempuh sendiri hampir dua puluh kilometer. Mau ngonthel ya ngelu, ojek online dompetnya yang ngilu. Mungkin bisa disiasati dengan naik bus Trans Jogja, tapi itu cuma kalau nggak kepepet karena biasanya bakal sampai lebih lama.
Misal cuma naik ke atas motor, sih, tentu bisa. Masalahnya, sampai H-1 pengumuman ujian mandiri pun saya masih ogah-ogahan latihan tancap gas. Mending kalau ogahnya karena nggak ada fasilitas atau punya trauma. Lha ini, orang tua saya bahkan bersedia menemani, tetapi saya tetap kekeuh tidak mau mencoba.
Kalau ditanya, kenapa nggak mau latihan motor, diri saya yang dulu bakal jawab, ”Malu sama bocah-bocah depan rumah.” Ya gimana ya, mereka masih kecil-kecil sudah berani gas ngeng kencang-kencang. Yo ndak mampu aku, dek ….
Iya, saya mengaku kalah saing. Akibatnya, saya jadi enggan belajar motor rindik-rindik (pelan-pelan) keliling daerah rumah. Dari lapangan kelurahan sampai stadion saya jabanin agar tidak bertemu bocil-bocil kehidupan saat latihan. Stadion memang luas dan cenderung sepi kalau hari biasa, lumayan lah buat latihan putar-putar di sepanjang jalan.
Perkara muncul lagi ketika stadion ternyata tidak sesepi itu. Ada yang jogging, jualan jajan, sampai latihan nyetir mobil. Ya wajar, sih. Stadion kan bukan milik pribadi. Jeleknya, kalau lihat satu orang aja, niat belajar motor saya jadi hilang. Malu, konon. Oh jangankan manusia, keberadaan sapi saja bisa membubarkan semangat saya. Padahal, saya juga tidak pernah menyaksikan sapi bergerombol buat ghibahin manusia. Itu saja sudah impossible, apalagi kalau cuma buat ngomongin orang cupu satu ini. Siapa Anda wahai serpihan roti?
Yakin, deh. Gara-gara alasan mogok belajar motor yang tidak masuk akal itu, orang tua saya sampai kagol mau mengajari. Agaknya itu juga yang akan terjadi bila saya punya anak kayak saya. Ujung-ujungnya yang tersisa hanyalah saya dengan keinginan belajar motor, tapi juga diiringi rasa khawatir yang sama besar.
Jauh hari sebelum mengenal dunia universitas, sebenarnya saya sudah pernah latihan motor. Langsung pakai motor gigi. Memang bagusnya begitu, sih. Kalau bisa motor gigi dulu, nantinya pasti bisa pakai motor matic. Secara, substansi dari naik motor (terutama matic) adalah pada pengendalian gasnya. Namun, bagi saya justru itulah bagian tersulitnya.
Trek selama latihan di stadion tentu terbatas pada jalan lurus dan berputar-putar tanpa adanya rintangan yang berarti. Padahal, untuk berkendara di jalan raya, kita perlu beradaptasi dengan segala hambatan yang ada. Pengendara lain, belokan, sampai jalanan yang berlubang harus kita perhatikan. Karena latihan yang kurang sempurna itulah, saya masih belum berani untuk turun ke jalan
Saya tinggal berasrama sudah sejak kelas tiga SMA. Dalam kondisi itu, santri pelajar tak diperbolehkan pergi jauh. Alhasil, mobilitas saya terbatas pada pulang-pergi ke sekolah. Berhubung jarak antara sekolah dan asrama tak terpaut jauh, ke sana kemari saya pun hanya menggunakan sepeda. Kemampuan bermotor saya pun teronggok semakin lama.
Kelolosan saya pada pengumuman ujian masuk universitas tak kunjung menunjukkan hilal. Alamat, tahun ini saya tidak berkuliah dulu kecuali jika mau mengambil swasta. “Dicoba lagi saja tahun depan,” putus orang tua saya. Baiklah, saya harus menerima semua ini. Anggap saja akibat tidak serius berusaha bisa bermotor untuk kuliah.
Beberapa lama tanpa kesibukan, akhirnya salah satu motor di rumah diangkut ke asrama. Orang tua saya menyerahkan kunci dan STNK motor Yamaha Mio 125 sambil berpesan, “Sekali dua kali berlatihlah turun ke jalan. Ajak teman kalau masih takut sendirian.” Antara senang dan gugup yang tertahan, saya mengiyakan. Secara, anak mana yang tidak berbesar hati dipasrahi motor untuk keperluan pribadi? Saya berterima kasih dan berjanji akan mulai membiasakan diri setelah ini.
Pengendaraan pertama saya bersama si Mila (nama motor saya) melibatkan teman sebagai pengawal. Ia dengan senang hati membuntuti dengan menggunakan sepeda. Aduh, masih kaku sekali saya menarik pacu gas. Spion tak sempat saya lirik, pun tombol lampu sein tak pernah saya tekan. Kagok. Bahkan mengeluarkan motor dari parkiran pun teman saya yang lakukan. Pengendaraan berikutnya saya memberanikan diri untuk pergi lebih jauh. Entah berapa kilometer per jam kecepatannya, yang jelas kalau dilombakan tetap bisa kalah sama sepeda.
Setelah itu, pengalaman saya bersama Mila sedikit demi sedikit mulai terukir. Roda yang bergulir semakin lama, tangki bensin yang sudah diisi berulang, hingga oli yang telah diganti beberapa kali. Spion kini telah berfungsi sebagaimana mesti, lampu sein juga tidak pernah absen dari tiap belokan. Mila resmi menjadi saksi perjalanan saya yang penuh lika-liku dan pernah menghasilkan luka-luka.
Singkat cerita, ‘tahun depan’ yang diucapkan orang tua saya pun tiba. Saya diterima di sebuah kampus asli Jogja, dengan kondisi sudah mahir berkendara. Nah, benar, kan. Harus bisa naik motor dulu, baru kuliah. Memang, ya. Semua itu kalau nggak butuh timing, ya nunggu situasi genting.
Penulis: Nayla Sya | Editor: Deré
