
Sumber: Generated AI
Cinta kepada Nabi Muhammad SAW tidak selalu terucap lewat kata-kata yang indah. Masyarakat muslim di Indonesia mengekspresikan cinta kepada Nabi melalui lantunan sholawat yang hidup dalam tradisi. Salah satunya hadir melalui kesenian hadroh.
Secara bahasa, hadroh berasal dari bahasa Arab ḥaḍara–yaḥḍuru, yang berarti hadir. Secara istilah, hadroh dapat dimaknai sebagai kegiatan menghadirkan nilai-nilai keislaman melalui kesenian, sekaligus mengajak orang untuk berkumpul, bersholawat, dan belajar mencintai Islam dengan cara yang lembut.
Hadroh tidak hanya berfungsi sebagai seni pertunjukan, tetapi juga menjadi media dakwah yang halus dan tidak menggurui. Melalui irama dan syair sholawat, nilai-nilai keislaman disampaikan tanpa paksaan. Tidak semua orang mudah menerima nasihat dalam bentuk ceramah, tetapi lewat seni, pesan tentang cinta kepada Allah dan Rasul-Nya dapat diterima dengan lebih lapang. Dalam konteks ini, hadroh menjadi jembatan antara dakwah dan budaya, menghadirkan Islam dalam wajah yang ramah dan menenangkan.
Kesenian hadroh merupakan seni tradisional yang dilakukan dengan melantunkan syair pujian kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW, diiringi pukulan tahar. Praktisi senior kesenian hadroh, Muchlis Wagiman, menjelaskan bahwa tahar adalah alat musik, sementara hadroh merupakan salah satu bentuk kesenian yang menggunakan tahar—atau yang lebih dikenal di masyarakat dengan sebutan rebana. Musik hadroh berasal dari Timur Tengah dan berkembang seiring dengan penyebaran agama Islam.
Ketika hadroh berkembang di Indonesia, ia tidak hadir sebagai budaya yang asing. Kesenian ini berakulturasi dengan tradisi lokal dan tumbuh selaras dengan kehidupan masyarakat. Hadroh dapat dijumpai di pesantren, langgar kampung, hingga majelis-majelis sholawat di pelosok desa. Kehadirannya menunjukkan bahwa Islam tidak menghapus budaya, melainkan menyucikannya dan memberi arah. Dari sinilah hadroh menjadi bagian dari identitas keislaman masyarakat, hidup dan diwariskan secara turun-temurun.
Bagi seorang anak hadroh, bentuk cinta kepada Nabi sering kali menjelma dalam indahnya irama alat yang dipukulnya. Alat hadroh dipukul dengan adab, irama dijaga dengan rasa, dan sholawat dilantunkan dengan hati yang tulus. Hadroh bukan sekadar seni tabuhan, ia merupakan ruang untuk belajar mencintai Nabi dengan cara yang khas. Pukulan demi pukulan mengajarkan arti kesabaran, kekompakan, dan keikhlasan. Tidak boleh tergesa, tidak boleh terlambat, dan tidak boleh mendominasi. Semua harus selaras, mengikuti irama yang sama.
Di balik setiap pukulan tersebut, ada niat yang harus diluruskan. Hadroh adalah wasilah atau perantara untuk menyampaikan sholawat kepada Sang Baginda. Dalam setiap lantunan sholawat yang diiringi hadroh, ada rindu yang tak selalu terucap: rindu meneladani akhlak Nabi, rindu dekat dengan sunnah-sunnahnya, dan rindu diakui sebagai umatnya. Pukulan dan irama itu pun menjelma menjadi bahasa rindu dan cinta, yang mungkin tidak fasih, tetapi tulus.
Puncak dari segala kerinduan ada saat mahallul qiyam dilantunkan. Saat itulah suasana berubah. Ketika hadirin berdiri, ada getaran yang sulit dijelaskan, ada napas yang ditahan sejenak, ada hati yang dilapangkan, dan rindu seakan menemukan jalan pulangnya. Pada momen itu, pukulan hadroh terasa lebih syahdu; setiap hentakan mengguncang perasaan, seolah membangunkan cinta yang terpendam. Mahallul qiyam mengajarkan ketundukan, berdiri bukan hanya sikap tubuh tetapi juga sifat hati. Berdiri bukan untuk gagah, tetapi sebagai bentuk adab dalam menyambut Nabi Muhammad SAW.
Tak jarang memainkan alat hadroh dianggap sebagai aktivitas yang melelahkan. Tangan pegal, bahu terasa berat, dan suara pun mulai serak. Namun ketika mahallul qiyam dilantunkan, semua rasa lelah seakan hilang. Ada kekuatan yang tumbuh dari cinta. Meski tidak semua pukulan berhasil sempurna, kesungguhan untuk tetap berdiri dan bersholawat menjadi bukti dari rindu dan cinta kepada Nabi.
Maka, jangan pernah memandang remeh pukulan hadroh. Di dalamnya ada latihan kesabaran, adab, kebersamaan, dan cinta yang disampaikan. Pukulan itu bukan sekadar bunyi, melainkan dzikir yang hidup sebagai bahasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW.
Penulis: Nurmala | Editor: Adhwa Nala
