
(Sumber: YouTube KabupatenSitubondo)
Ahad, 19 Juli 2026, ribuan jamaah shalawat nariyah berkumpul dalam haul masyayikh di Situbondo. Suasana khidmat itu memuncak ketika Abah Munir Syafaat memimpin doa bersama. Saya sendiri tidak hadir secara langsung, hanya menyaksikan lewat siaran YouTube, namun ada satu bagian yang begitu membekas dan terus terngiang hingga tulisan ini dibuat.
Berikut doa yang beliau panjatkan,
Ya Allah ya Tuhan kami, kami bersimpuh
Pada hari ini, jadikanlah negara kami, negara Indonesia
Negara yang aman, negara yang makmur, sentosa, berkeadilan
Ya Allah, jadikanlah pimpinan-pimpinan kami
Pimpinan-pimpinan yang senantiasa takut kepada Engkau
Sehingga mereka sayang kepada rakyatnya
Sehingga mereka welas kepada rakyat Indonesia
Ya Allah, kasihkanlah anugerah kepada mereka
Pertolongan dan kemudahan
Sehingga bisa menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya
Ya Allah, kasihlah mereka hidayah
Sehingga mereka betul-betul bisa menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya
Yang sudah berkorupsi, mudah-mudahan bertaubat ya Allah
Yang akan korupsi, mudah-mudahan tidak melanjutkan niatan buruk ya Allah
Sehingga negara kita betul-betul menjadi negara baldatun toyyibatun wa robbun ghofur
Ya Allah, kami bersimpuh, mohon pada Engkau
Mudah-mudahan jam’iyah kami Nahdlatul Ulama
Yang sebentar lagi akan menjalankan muktamar ke-35
Mudah-mudahan Engkau beri kemudahan, keberkahan
Dan mudah-mudahan Engkau memberikan pimpinan-pimpinan kepada kami
Para Nahdliyin Nahdliyat
Para pemimpin yang senantiasa yandzuruna ilal ummah bi ‘aini rahmah
Mendengar doa itu, ingatan saya langsung melompat pada satu pelajaran yang pernah disampaikan Abah waktu bandongan kitab kuning. Kala itu beliau mengutip pernyataan Imam Ahmad bin Hanbal, bahwa seandainya beliau memiliki satu doa yang pasti dikabulkan, maka doa itu akan digunakan untuk mendoakan pemimpin. Alasannya sederhana namun mendalam, kebaikan seorang pemimpin akan mengalir menjadi kemaslahatan bagi seluruh rakyat yang dipimpinnya. Satu doa yang tepat sasaran bisa membawa dampak jauh lebih luas dibanding doa untuk diri sendiri.
Pada hari itu, di hadapan ribuan jamaah yang hatinya sedang khusyuk, saya melihat Abah seolah sedang mengamalkan sendiri pelajaran yang dulu pernah beliau sampaikan. Ada semacam keyakinan bahwa doa yang dipanjatkan bersama, dalam jumlah jamaah yang besar, dengan hati yang berkumpul pada satu tujuan, memiliki peluang lebih besar untuk diijabah. Barangkali itulah momentum yang dimanfaatkan Abah, menghimpun kekuatan doa kolektif untuk sesuatu yang menyangkut hajat hidup orang banyak, yaitu nasib bangsa dan arah kepemimpinannya.

Namun ada satu hal lain yang saya petik dan justru terasa lebih personal. Doa untuk pemimpin itu, jika direnungkan lebih dalam, sebenarnya juga menyentuh diri kita masing-masing. Sebab Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, bahwa setiap dari kita adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Kepemimpinan tidak selalu berbentuk jabatan struktural atau kekuasaan politik. Seorang kepala keluarga adalah pemimpin bagi anggota keluarganya. Seorang guru adalah pemimpin bagi murid-muridnya. Bahkan seorang santri yang hanya memimpin dirinya sendiri, mengendalikan nafsu dan pikirannya, tetap termasuk dalam cakupan hadits tersebut.
Maka ketika Abah berdoa agar para pemimpin senantiasa takut kepada Allah sehingga tumbuh rasa sayang kepada rakyatnya, doa itu sesungguhnya bisa dibaca sebagai doa yang juga menyasar diri saya sendiri. Rasa takut kepada Allah yang melahirkan kasih sayang, bukan hanya dibutuhkan oleh presiden atau kepala daerah, tetapi juga oleh setiap orang yang memegang amanah, sekecil apa pun bentuknya, termasuk amanah menjadi santri yang baik, amanah menjadi anak, amanah menjaga apa yang dititipkan pada kita masing-masing.
Ada juga bagian doa yang menyinggung Nahdlatul Ulama, jam’iyah yang sebentar lagi akan menggelar muktamar ke-35. Abah memohon kemudahan dan keberkahan bagi organisasi tersebut, serta doa agar lahir pemimpin yang senantiasa yandzuruna ilal ummah bi ‘aini rahmah, memandang umat dengan mata kasih sayang. Frasa ini terasa relevan tidak hanya bagi Nahdliyin, tetapi bagi siapa pun yang tengah menanti sosok pemimpin yang benar-benar hadir untuk rakyatnya, bukan sekadar mengejar kursi dan kekuasaan.
Pada akhirnya, apa yang terjadi di Situbondo itu mengajarkan sesuatu yang sederhana namun mudah dilupakan. Doa untuk pemimpin bukan sekadar formalitas penutup acara, melainkan bentuk kepedulian nyata terhadap nasib bersama. Dan setiap kita, dalam skala apa pun, sesungguhnya sedang diuji dengan amanah kepemimpinan yang sama. Barangkali doa terbaik yang bisa kita panjatkan bukan hanya untuk mereka yang duduk di kursi kekuasaan, tetapi juga untuk diri sendiri, agar mampu menunaikan amanah sekecil apa pun dengan penuh tanggung jawab.

Error 404: Work-life balance not found
