Hikmah Susu di Antara Darah dan Kotoran, Harapan di Tengah Zaman yang Mengguncang

(Sumber: magnific.com/author/nikitabuida)

وَإِنَّ لَكُمْ فِى ٱلْأَنْعَـٰمِ لَعِبْرَةً ۖ نُّسْقِيكُم مِّمَّا فِى بُطُونِهِۦ مِنۢ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَّبَنًا خَالِصًا سَآئِغًا لِّلشَّـٰرِبِين۝٦٦ َ

“Dan sungguh, pada hewan ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagimu. Kami memberimu minum dari apa yang ada dalam perutnya, dari antara kotoran dan darah, berupa susu yang murni, yang mudah ditelan bagi orang yang meminumnya.” (QS. An-Nahl [16]: 66)

Mungkin kita sudah tahu bahwa masalah datang bertubi-tubi di negeri kita tercinta, misalnya pada Januari 2026, nilai tukar rupiah mendekati Rp17.000 per dolar AS akibat kepanikan investor asing terhadap defisit anggaran yang kian melebar, sementara penerimaan pajak 2025 hanya terealisasi 87% dari target sehingga defisit APBN nyaris menyentuh batas aman 3% dari PDB (LBS Urun Dana, 2026). Lebih menyesakkan lagi, survei terhadap 85 ekonom dari LPEM FEB Universitas Indonesia menyimpulkan bahwa kondisi ekonomi Indonesia dinilai memburuk atau stagnan, dengan pertumbuhan yang belum benar-benar dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat (Antara News, 2026).

Di tengah-tengah semua yang terjadi, aku hanya ingat pesan orang tuaku untuk sering-sering membaca Al Quran, tidak membaca saja tapi juga mempelajari dan mencari hikmah di dalamnya.

Sebuah ibroh atau pelajaran di dalam perut sapi telah dijelaskan oleh Allah Ta’ala dalam Q.S. An-Nahl [16]: 66 yang mengajak kita untuk melihat sebuah keajaiban yang sederhana, tapi sangat dalam maknanya.

Di dalam perut seekor sapi, terdapat tiga hal: daging, darah, dan kotoran. Tiga hal yang menjijikkan jika dibayangkan secara terpisah. Darah dan kotoran adalah dua hal yang paling tidak diinginkan oleh manusia.

Namun Allah dengan kuasa dan hikmah-Nya mengeluarkan dari tempat yang sama sesuatu yang sama sekali berbeda: susu yang murni, bersih, dan bergizi. “Labanan kholisan” yakni kemurnian sejati, ia lahir bukan dari tempat yang sudah bersih, melainkan justru dari tempat yang penuh dengan hal-hal yang tidak kita inginkan.

Gus Baha[1], ulama kita yang selalu berbicara dengan bahasa yang sederhana namun menghujam, dalam petuahnya pernah mengingatkan: inilah cara Allah mengajarkan kita tentang harapan. Bahwa harapan itu bukan soal menunggu kondisi menjadi sempurna. Harapan adalah keyakinan bahwa Allah bisa mengeluarkan kebaikan dari tempat yang paling tidak mungkin sekalipun.

Sepanjang sejarah Islam, para ulama, para pejuang, dan orang-orang saleh selalu hidup di tengah zaman yang berat. Misalnya, Imam Ahmad ibn Hanbal pernah difitnah, dipenjara, dan dicambuk karena mempertahankan akidah Ahlussunnah. Ibnu Taimiyyah menghabiskan sebagian besar hidupnya di dalam sel penjara karena fatwa-fatwanya yang menentang praktik bid’ah, khurafat, serta kebijakan penguasa yang dianggapnya menyimpang dari syariat.

Para wali yang menyebarkan Islam di Nusantara datang bukan ke negeri yang sudah subur dan aman, mereka datang ke tanah yang asing, penuh tantangan, dengan modal keyakinan dan ketekunan. Tidak satu pun dari mereka yang hidup di zaman yang “enak”, walau mereka tahu, mereka jujur, mereka bertindak benar. Namun tidak satu pun dari mereka yang memilih berhenti dan menyesali kebaikan yang telah mereka perjuangkab. Mengapa? Karena mereka paham satu hal yang sering kita lupakan: kita tidak dipanggil untuk mengubah dunia dalam semalam. Kita dipanggil untuk menjadi baik, hari ini, di tempat kita berada.

Mungkin saja kamu seorang guru yang setiap pagi berdiri di depan murid-murid, menyampaikan ilmu, menanamkan nilai,  sementara kenyataan yang terjadi menunjukkan fakta yang sebaliknya. Karena inilah di dalam hatimu ada kegelisahan tentang negeri ini.

Mungkin saja kamu seorang pekerja keras yang mencari nafkah dengan cara yang halal, di tengah lingkungan yang tidak selalu jujur, di tengah lingkungan yang tidak menghargai semua itu.

Mungkin saja kamu seorang ibu atau ayah yang berusaha membesarkan anak-anak dengan akhlak yang baik, di tengah arus zaman yang deras.

Mungkin saja kamu seorang pemuda yang masih mencari arah, melihat kondisi sekitar dan bertanya-tanya: apa kontribusiku di dunia yang seperti ini?

Kepada semuanya, renungan Q.S. An-Nahl [16]: 66 ini berbicara:

Jangan nilai perjuanganmu dari kotornya lingkungan tempatmu berdiri. Nilai ia dari kemurnian niat yang kamu jaga di dalam hati.

Susu yang murni itu tidak memilih lahir dari perut yang bersih. Ia tetap murni meskipun dikelilingi hal-hal yang tidak murni. Begitulah seharusnya seorang mukmin, menjaga labanan kholisan dalam dirinya, apapun keadaan di luar sana.

Ada yang mungkin berkata: “Tapi bukankah berharap itu berarti menutup mata dari kenyataan?”

Tidak. Justru sebaliknya.

Berharap itu bukan berarti berpura-pura masalah tidak ada. Berharap adalah berbaik sangka kepada Allah, bahwa setiap keadaan yang Ia izinkan terjadi pasti mengandung hikmah yang belum sepenuhnya kita lihat. Berharap adalah terus berikhtiar dengan sungguh-sungguh, sambil menyerahkan hasilnya kepada Yang Maha Mengetahui.

Kepada para pemuda, para santri, dan siapapun yang masih menyimpan mimpi untuk Indonesia dan untuk umat ini:

“Dunia memang tidak sempurna. Ia tidak akan pernah sempurna sebelum hari kiamat tiba. Tapi justru ketidaksempurnaan itulah yang membuat kebaikanmu bermakna. Kalau dunia sudah sempurna, tidak ada lagi yang perlu diperjuangkan.

Maka jangan pergi. Jangan menyerah. Jangan biarkan keputusasaan merusak kemurnian yang ada di dalam dirimu.”

Jadilah “labanan kholisan” meski dikelilingi hal-hal yang tidak murni. Semoga Allah Ta’ala selalu menguatkan siapapun di luar sana yang sedang berjuang di dalam kebaikan di tengah zaman sekarang ini…

Penulis: S. Khoirunnisa | Editor: Nuril


[1] https://youtube.com/shorts/xKGaLqlJkjk?si=Han0f9dVLUxSlOqb

Tinggalkan Balasan