
YKD – Dalam satu malam, Ahad (25/1), Pondok Pesantren Nurul Ummah Putri mengadakan pemilihan pemimpin pada dua komplek, yakni Komplek Hafshah dan Komplek Aisyah (JHQ). Bukan sekadar formalitas di atas kertas, pemimpin terpilih juga menjadi pion penting pada setiap poin visi dan misi yang akan dijalankan. Kegiatan ini dilakukan di tempat yang berbeda.
Forum pemilihan Ketua Komplek Hafshah digelar di Pendopo Al-Khadijah dan dihadiri oleh para santri komplek Hafshah. Tiga kandidat dicalonkan sebagai penerus kepemimpinan Ilma Khoirun Ni’mah yang telah menjabat pada periode 2025-2026. Mereka adalah Nur Mujahadah sebagai calon nomor satu, Ahyana Etika sebagai calon nomor dua, dan Aindana Lazulfa sebagai calon nomor tiga.
Kegiatan dibuka oleh Niti Sasmina Zaezafi sebagai master of ceremony. Proses pemilihan dilakukan menggunakan surat suara, dengan penghitungan yang disaksikan bersama seluruh anggota komplek. Ahyana Etika memperoleh hasil tertinggi, yakni 20 suara, disusul dengan Aindana Lazulfa dengan 19 suara, dan Nur Mujahadah dengan 17 suara.

Tipisnya selisih suara di antara kandidat sempat menciptakan napas tertahan bagi yang menyimak. Satu suara sangat berharga, hak pilih menjadi sesuatu yang penting bagi tiap santri. Siapa pun yang terpilih, harapannya sama, yakni dapat membawa komplek Hafshah menjadi komplek yang lebih baik dibanding sebelumnya.
Dengan terpilihnya Ahyana Etika sebagai Ketua Komplek Hafshah masa khidmat 2026-2027, resmilah sudah tongkat estafet bergulir. Bagi ketua terpilih, kemenangan ini bukan sesuatu yang ia ekspektasikan sejak awal. Akan tetapi, sebagaimana yang disampaikan oleh ketua demisioner, amanah tak pernah salah memilih pundak.
“Gen Z mah nggak suka rebutan jabatan. Makanya kalau diminta jadi ketua pada nolak,” ungkap Ilma. Ia melanjutkan, “terkadang bukan kita yang memilih amanah, tapi amanah yang memilih kita.”
Adapun prosesi serah terima jabatan Ketua Komplek Hafshah dilaksanakan pada akhir acara sebagai penanda dimulainya masa khidmat kepengurusan baru.

Sementara itu, lantai dua Masjid Al-Faruq telah disulap menjadi panggung reformasi Komplek Jam’iyyah Huffadz Al-Qur’an (JHQ). Terdapat dua kandidat pada pemilihan kali ini, yakni Ade Silviana Wulandari dan Nur Azizah, yang keduanya merupakan pengurus JHQ periode sebelumnya.
Setelah menyoretkan tanda tangan di daftar hadir, para santri JHQ duduk dan mengikuti rangkaian acara dengan kondusif. Pembukaan dipimpin oleh Alfina Paramita sebagai master of ceremony, dilanjutkan dengan kampanye oleh para juru bicara.
Calon nomor satu menghadirkan juru bicara dua orang santri bernama Dilla Azkiya dan Anis Arum. Mereka membawakan gaya voice over di opening, beberapa pantun, serta menutup sesi dengan senandung doa.
Sementara itu, calon nomor dua mengirim Siti Syifaurrahmah dan Nurul Qudsi sebagai perwakilan. Keduanya telah mempersiapkan properti pendukung berupa papan cue card bergambar kandidat serta beberapa pantun juga diselipkan pada penyampaian visi dan misi.

Berikutnya adalah sesi pemungutan suara menggunakan Google Form, dari 138 orang yang hadir, diperoleh hasil sebanyak 30 suara untuk calon pertama dan 108 suara untuk calon kedua. Dengan begitu, terpilihlah Nur Azizah sebagai Ketua JHQ masa khidmat 2026-2028, menggantikan Muna Nurna Bila yang sebelumnya menjabat. Harapannya, semoga dengan terpilihnya ketua baru, dapat menciptakan semangat baru bagi para santri untuk mengaji dan menghidupkan ruh pondok pesantren.
Prosesi serah terima jabatan yang dilaksanakan keesokan paginya, Senin (26/1), juga diiringi dawuh dari Ibu Hj. Barokah Nawawi, yang menekankan pentingnya menjaga adab, keistiqamahan mengaji, dan keikhlasan dalam menjalankan amanah kepengurusan.
Reporter: Nayla Sya | Editor: Musthofiatur R
