Menikmati Buah Tangan Isra’ Mi’raj: Bersabar dan Bertawakal

Alhamdulillah, ya, Mbak, kita bisa memperingati Isra’ Mi’raj lagi,” ucap seorang santri putri kepada teman di sebelahnya. Kali ini Abah Yai Kembali membersamai para santri dalam Majelis Sholawat di Pendopo Al-Khadijah, malam Jum’at (15/1). Kegiatan terlaksana dengan suasana nan syahdu diikuti oleh santri Pondok Pesantren Nurul Ummah Putri dan Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi-ien. Tak hanya memperingati Isra’ Mi’raj, kegiatan ini juga dirangkai dengan peringatan haul serta pengiriman doa untuk almarhum KH. Ahmad Idris Marzuqi Lirboyo, yang wafat pada 10 Sya’ban 1435 Hijriyah.

Kurang lebih pukul delapan malam, bacaan sholawat mulai dibawakan oleh tim hadroh Sabilus Syafaat. Santri-santri yang sebelumnya telah melaksanakan sholat Isya’ berjamaah, bergegas memenuhi area pendopo, mencari posisi ternyaman untuk turut mengikuti acara dengan khusyuk.

Maulid Simtudduror dibacakan, setiap pujian dan salam kepada Nabi dilantunkan dengan semangat sekaligus khidmat. Usai pembacaan doa, Abah Yai membuka mauidzoh hasanah.

“Mengenang kembali Isra’ Mi’raj Rasulullah, tiap tahun kita peringati dan ingat kembali peristiwa 15 abad yang lalu. Kalau diceritakan satu per satu akan panjang,” ucap beliau. Lebih lanjut, terdapat setidaknya dua hikmah yang bisa dipetik dan diamalkan di kehidupan sehari-hari.

Pertama, berupa sabarnya Nabi menghadapi ujian pada awal perjuangan menyampaikan risalah kepada umatnya. Ketika itu masih di masa jahiliyah, sehingga banyak penolakan, ancaman, intimidasi, bahkan kekerasan fisik dan mental yang diterima oleh Nabi. Ditambah pula dengan wafatnya Sayyidah Khadijah, istri tercintanya. Semua itu dihadapi Nabi dengan penuh kesabaran. Seperti maqolah Arab.

الصبر مفتاح النجاح

(Sabar adalah kunci kesuksesan.)

Datangnya ujian adalah tanda kesuksesan, dan kuncinya adalah ‘sabar’. Di dalam perjuangan dibutuhkan kesabaran. Termasuk dalam hal-hal kecil yang dilakukan di pondok, seperti sabar menahan kantuk, sabar mengikuti sholat subuh berjamaah, sabar mengikuti kajian, sabar mengikuti sorogan Al-Qur’an, dan seterusnya dalam setiap aktivitas yang dijalankan.

Kedua, tawakal yang telah diawali dengan ikhtiar. Dikisahkan bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj turut dihadirkan sebagai pengingat Nabi bahwa Sayyidah Khadijah adalah makhluk Allah. Artinya, seberapa berartinya Sayyidah Khadijah bagi Nabi, tetaplah Allah memiliki kehendak penuh atas semua makhluk-Nya. Nabi pun menyikapinya dengan bertawakal, menyerahkan segala takdir kehidupan kepada-Nya. Meyakini bahwa Allah berkehendak juga merupakan salah satu bentuk kuatnya akidah Nabi.

Untuk menghadirkan tawakal dalam setiap jengkal kehidupan di pesantren, Abah Yai berpesan, “Sekali ngaji tetap ngaji, ngko piye-piye urusane Gusti Allah (nanti hal-hal lain urusannya Allah). Seberapa Allah ngopeni (mengurus kita), tinggal seberapa pasrah kita kepada Allah.” Beliau juga mengingatkan bahwa tidak serta merta tawakal, tetapi juga diperlukan ikhtiar terlebih dahulu. Jika hanya tawakal, itu menjadi salah satu contoh bahwa jununun fununun (gila itu bermacam-macam).

Begitulah sabar dan tawakal menjadi oleh-oleh yang bisa kita ambil dari peristiwa Isra’ Mi’raj. Hendaknya atsar dan pengaruh Nabi tersebut bisa kita lakukan, sehingga peringatan Isra’ Mi’raj tak terbatas pada seremonial semata. Demikian semoga momen ini juga dapat memantik hadirnya perubahan ke arah yang lebih baik. Wallahu a’lam.

Reporter : Nayla Sya | Editor : Dere

Tinggalkan Balasan