Istiqomah Itu Mudah: Belajar Istiqomah dari Berjama’ah

اَلْإِسْتِقَامَةُ خَيْرٌ مِـنْ اَلْفِ كَــرَامَةٍ

“Istiqomah lebih baik daripada seribu karomah”

Salah satu bagian dari akhlak mulia dan ajaran fundamental dalam Islam yang harus dipegang teguh oleh seorang muslim adalah istiqomah. Istiqomah merupakan suatu sikap teguh pendirian dan konsisten dalam menjaga keyakinan serta menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya secara terus-menerus. Dalam konsep kita diajarkan bahwa suatu perkara kecil yang dilakukan secara konsisten dan terus-menerus akan lebih bermakna dan berdampak daripada melakukan suatu perkara yang besar tanpa adanya konsistensi.

Istiqomah juga merupakan salah satu prinsip dalam agama Islam sekaligus bentuk implementasi dari keimanan yang tertanam di dalam hati. Ketika seseorang beriman kepada Allah, lalu teguh memegang keimanannya dengan menjalankan segala perintah dan menjauhi larangan-Nya hingga akhir hayatnya, itulah yang disebut istiqomah. Bahkan, para ulama menganggap istiqomah sebagai tingkatan tertinggi dalam kesempurnaan beragama, sehingga lahirlah ungkapan, “Istiqomah lebih baik daripada seribu karomah.”

Adapun kita dapat menerapkan sikap istiqomah dalam hal-hal sederhana yang biasa kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya dengan mulai istiqomah berjama’ah dalam melaksanakan sholat fardu.

Bukankah kita diwajibkan melakukan sholat fardu sebanyak lima kali dalam sehari yang mana apabila kita meninggalkannya secara sengaja akan mendapatkan dosa, lalu mengapa tidak kita jadikan sesuatu yang awalnya suatu kewajiban dijadikan untuk menggali banyak ganjaran seperti yang telah dikatakan dalam kitab Hasyiyah al-Jamal  juz 5, bahwa ganjaran sholat berjama’ah adalah 27 derajat di atas sholat sendiri. 

وايضاحه أن الصلاة في جماعة تزيد على المنفرد بسبع وعشرين صلاة فالركوع في الجماعة يزيد على ركوع المنفرد بسبع وعشرين ركوعا    

Artinya: Penjelasan tentang 27 derajat bahwa sholat berjama’ah melampaui sholat sendirian dengan selisih 27 sholat, maka ruku’ yang dilakukan saat sholat berjama’ah melampaui ruku’ yang dilakukan saat sholat sendirian dengan selisih 27 ruku’. (Syekh Sulaiman al-Jamal, Hasyiyah al-Jamal, juz 5)

Bagai sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui, bukan? Tidak perlu terburu-buru. Cobalah berjama’ah dalam satu waktu terlebih dahulu — mungkin mulai dari sholat Maghrib yang memiliki jama’ah paling banyak. Dan ingat, kuncinya adalah istiqomah. Tidak apa jika kita hanya melakukan satu hal kecil namun istiqomah, daripada tidak melakukan apa pun sama sekali.

Jika dirasa keistiqomahan mulai berhasil kita laksanakan dan kita yakin tidak akan meninggalkan apa yang sudah kita lakukan, Mulailah meningkatkan frekuensi istiqomah kita dengan membiasakan diri sholat berjama’ah lima waktu.

Memang awalnya pasti akan terasa berat namun ketika perasaan istiqomah telah menguasai keseharian kita, maka ketika kita meninggalkan satu dari salah satu keistiqomahan yang sudah terbiasa kita lakukan pasti akan menimbulkan perasaan mengganjal di hati. 

Teringat suatu maqolah lumrah dalam pondok pesantren  yang mengingatkan kita sebagai santri bahwa kita harus selalu istiqomah (mempeng) dalam segala hal yang kita lakukan saat berada di pondok,

“Iso ora iso sing penting sekolah, lalaran, apalan, ngaji, syawir lan jama’ah kanthi istiqomah”.        

Yang mengandung makna, bahwa walaupun kita bukanlah orang yang hebat di pondok dalam artian tidak bisa apa-apa, yang terpenting kita selalu melaksanakan hal-hal di atas dengan istiqomah maka insyaallah mondok kita akan berhasil.        

Juga meneladani sosok panutan seluruh santri Pondok Pesantren Nurul Ummah Putri, Ibu Nyai H. Barokah Nawawi yang keistiqomahannya dalam beribadah dan berjuang bagi umat tak perlu diragukan lagi adanya. Beliau tak mengenal lelah jika sudah menyangkut dengan mengaji dan jama’ah. Yang mana beliau menganggap keduanya sebagai pondasi pondok itu sendiri, teringat dawuh yang beliau sampaikan ketika hadir dalam acara OP3 (Orientasi Pondok Pesantren) bahwasanya,

“Ruh-nya pondok itu ngaji dan Jama’ah”. Marilah kita bersama-sama belajar meneladani  keistiqomahan beliau, tak apa mulai sedikit demi sedikit daripada tidak sama sekali, seperti yang biasa para orang jawa ucapkan, “Alon-alon penting kelakon”.

Semoga kita semua bisa meneladani sikap panutan kita dalam beristiqomah melakukan kebaikan apapun itu, semoga kita selalu dimudahkan dalam belajar ilmu agama terutama tentang keistiqomahan, perlahan tapi pasti, sesuatu yang sudah kita usahakan tidak akan pernah mengkhianati kita. Dan percayalah istiqomah itu akan mudah karena Lillah. Wallahu ‘alam.

Penulis : Kamila Nur R | Editor : Dere             

Penulis : Kamila Nur R | Editor : Dere