
Sumber: Generated AI
Pada zaman dahulu, ada seorang laki-laki bernama Joko Bodo. Ia sedang merasa bosan dengan hidupnya yang gitu-gitu aja. Duduklah ia di atas batu besar yang berada di tengah sungai untuk mencari kedamaian. Sambil memandang ke bawah, ia bergumam:
“Kuat sekali, ya, batu besar ini. Bahkan, jika ada sepuluh sumo yang berada di atasnya, pasti tetap kuat dan tidak akan hancur. Pengin, deh, jadi batu.”
Clinggg! Seketika, berubahlah Joko Bodo menjadi batu besar yang kokoh.
“Wah, aku sudah berubah jadi batu! Lho, ternyata air lebih kuat dibanding batu. Buktinya, air dapat mengikisku perlahan-lahan. Sekarang, aku pengin jadi air aja, deh,” ucapnya.
Saat Joko Bodo berubah menjadi air, ia berubah pikiran.
“Awan sangat unik, ya? Ternyata awan berasal dari air yang menguap. Mendingan aku jadi awan aja, deh, biar bisa melayang-layang di langit.”
Joko Bodo kembali berubah sesuai dengan apa yang ia inginkan. Lalu, saat di langit, ia melihat gunung yang sangat besar. Lantas, ia pun berkata kembali.
“Wah, besar banget gunungnya. Aku pengin jadi gunung aja, deh. Awan, mah, kalah sama gunung.”
Berubahlah Joko Bodo menjadi gunung. Kejadian yang sama terulang lagi, Joko Bodo berubah pikiran karena melihat seekor ular.
“Oh, ternyata ular bisa melubangi gunung yang sangat besar ini untuk membuat rumah, ya? Aku pengin jadi ular aja, deh.”
Setelah Joko Bodo menjadi ular, pikirannya lagi-lagi berubah. Sebab, ia melihat ular lain dibunuh oleh seorang manusia.
“Ya udah, lah, aku mau jadi manusia seutuhnya aja.”
— Tamat —
Hidup lagi capek-capeknya malah ketemu sama cerita Joko Bodo.
Pasti capeknya nambah, ya?
Kita ambil hikmahnya aja, yuk!
”Segala sesuatu pasti memiliki kekurangan dan kelebihannya sendiri-sendiri, maka bersyukurlah atas apa yang telah kamu miliki saat ini, agar hidup menjadi berseri.”
“Kita harus mengevaluasi proses yang telah kita jalani, agar hidup menjadi lebih baik lagi. Karena membandingkan hidup tanpa henti, bukanlah suatu solusi, malah akhirnya cuma jadi frustasi.”
Kisah ini saya dapatkan sejak kecil dari seorang laki-laki yang sangat saya cintai. Tidak lain dan tidak bukan, beliau adalah ayah saya atau biasa saya panggil dengan panggilan Rama.
Penulis: Anjani | Editor: Adhwa N
