
Sumber: Media Pondok
“Kita harus tahu sejarah berdirinya pondok pesantren kita ini. Dari situ nanti harapannya bisa diambil sebuah hikmah manfaat dari proses berdirinya pondok pesantren ini sampai berusia yang ke-16.”
Penjelasan di atas merupakan salah satu hal yang disampaikan oleh Abah K.H. Munir Syafa’at, pendiri sekaligus pengasuh PPKHM, pada saat sarasehan Harlah ke-16 PPKHM. Bagi beliau, sarasehan bukan sekadar agenda tambahan dalam perayaan hari lahir pesantren. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi kesempatan bagi santri untuk memahami akar perjuangan lembaga tempat mereka menimba ilmu. Ia menekankan bahwa mengenal sejarah merupakan langkah awal untuk menemukan pelajaran dari setiap proses yang telah dilalui.
Perjalanan Panjang Sebelum Berdirinya Pesantren
Di hadapan para santri, Abah mengawali kisah dengan menceritakan perjalanan masa mudanya ketika menimba ilmu di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Beliau menghabiskan waktu sekitar delapan belas tahun di pesantren tersebut sejak 1990 hingga kemudian menikah pada 2007. Selama itu, beliau tidak pernah berpindah pesantren.
Pengalaman panjang tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan Abah, terutama dalam memahami arti kepatuhan kepada guru, ketekunan menuntut ilmu, dan pengabdian kepada pesantren. Menariknya, Abah juga menyampaikan bahwa saat menikah, beliau tidak berangkat dari rumah, melainkan dari pesantren. Saat itu keberangkatan beliau diiringi oleh kurang lebih enam ratus santri yang menaiki beberapa bus dan mobil. Santri-santri itu merupakan para siswa Abah ketika di Lirboyo.
“Sekali mondok ndak pernah pindah, nikah pun berangkat dari pondok. Jadi akeh suporter e ndisik (Jadi banyak pendukungnya dulu). Ada kurang lebih enam ratus suporter yang ngiring Abah dulu. Ada beberapa bus dan mobil-mobil,” kenangnya.
Alur cerita dalam sarasehan berlanjut pada satu babak penuturan yang amat berkesan. Abah mengisahkan kembali momentum pernikahan Abah Yai dan Ibu sebagai momentum yang tak tertandingi.
Dilaksanakan pada hari Rabu, 17 Januari 2007, bertepatan dengan 27 Dzulhijjah 1427 H, akad mulia tersebut diselimuti oleh harmoni angka tujuh, termasuk persiapan yang telah bergulir sejak pukul 07.00 pagi. Namun, simpul keindahan sejatinya terletak pada hakikat penyatuan dua insan tersebut. Pernikahan ini bukan sekadar tautan takdir, melainkan juga ikatan yang menyatukan dua hal paling dicari oleh seluruh umat Kanjeng Nabi hingga akhir zaman, yaitu harapan akan hadirnya syafaat dan mengalirnya barokah. Sebuah penjelmaan ikatan yang mengundang decak kagum dan perenungan mendalam bagi segenap santri.
“Makanya saya tadi bilang ini insyaallah ndak ada yang bisa niru apalagi mempersatukan dua nama yang satu-satunya di alam dunia ini. Dua nama yang paling dicari umat seluruh dunia dari diciptakan sampai kiamat. Satu ‘Syafaat’, dua ‘Barokah’. Wis jajal golek o sampean nek tumun sopo saiki umate Kanjeng Nabi sing gak ngarep-ngarep lumebere barokah ono apa ora? (Coba kamu cari kalau pernah menemukan, siapa sekarang umatnya Kanjeng Nabi yang tidak mengharapkan mengalirnya berkah, ada atau tidak?) Sopo saiki umate Kanjeng Nabi yang tidak mengharapkan syafaat? Ono apa ora? Makane saya bilang ndak bisa ditiru,” jelas Abah.
Namun, perjalanan Abah dan Ibu Nyai tidak berhenti pada pengalaman menuntut ilmu dan berkhidmah. Keduanya kemudian menghadapi amanah yang lebih besar, yakni turut menjaga keberlanjutan pendidikan pesantren bagi para santri yang melanjutkan pendidikan formal di Yogyakarta.
Kegelisahan yang Melahirkan Amanah
Kisah berdirinya PPKHM berawal dari kegelisahan para masyayikh Lirboyo, khususnya almarhum K.H. Imam Yahya Mahrus. Saat itu, banyak santri dan alumni Lirboyo yang melanjutkan pendidikan tinggi di Yogyakarta. Perubahan lingkungan pergaulan dan kebiasaan yang mereka alami setelah berada di luar pesantren menimbulkan kekhawatiran tersendiri.
Perubahan yang tampak pada penampilan, menurut cerita Abah, memunculkan pertanyaan lebih jauh tentang bagaimana kehidupan di luar pesantren dapat memengaruhi perilaku dan pemahaman keagamaan para santri. Kekhawatiran tersebut bukan semata-mata persoalan pakaian, melainkan kemungkinan perubahan yang lebih mendasar pada akidah dan cara hidup.
Dalam ceritanya, Abah mengenang kekhawatiran tersebut. “Sekarang mungkin hanya pakaian saja yang mulai berubah, tapi tidak menutup kemungkinan kalau anak ini di luar, tidak seperti di pondok pesantren lagi, melainkan terkontaminasi dengan kehidupan dan pergaulan luar yang nanti akan mempengaruhi terhadap akidahnya,” tuturnya, mengisahkan pandangan yang kala itu menjadi perhatian para masyayikh.
Dari kegelisahan itulah muncul amanah kepada Abah dan Ibu Nyai untuk mendirikan pesantren di Yogyakarta. K.H. Imam Yahya Mahrus meminta Abah turut menyediakan tempat bagi para santri Lirboyo yang melanjutkan sekolah atau kuliah agar tetap memperoleh pendampingan pendidikan pesantren.
Abah mengingat pesan tersebut sebagai amanah yang harus diperjuangkan. Namun, keinginan itu tidak langsung terwujud karena keterbatasan tempat. Ketika Abah dan Ibu Nyai berada di Yogyakarta, lahan yang dapat digunakan masih terbatas, sementara sebagian tanah yang tersedia tengah dimanfaatkan untuk pembangunan lain.
Kendati demikian, amanah tersebut tidak ditinggalkan. Melalui proses panjang, Abah dan Ibu Nyai akhirnya memperoleh tanah sekitar 700 meter persegi yang kemudian menjadi tempat awal pembangunan PPKHM. Lahan itu sebelumnya dikenal memiliki citra angker sehingga tidak banyak diminati pembeli. Bagi Abah dan Ibu Nyai, keadaan tersebut justru menjadi bagian dari perjalanan yang harus dihadapi dengan ikhtiar dan keyakinan.
Perjuangan memperoleh tanah pun tidak berlangsung mudah. Ibu Nyai Barokah Nawawi menceritakan bahwa ketika tanah tersebut ditawarkan oleh adik ragil Paku Alam, mereka belum memiliki dana yang cukup untuk membayar uang muka. Saat itu, mereka baru memiliki uang 17 juta, sedangkan harga tanah hampir mencapai setengah miliar rupiah.
Di tengah keterbatasan tersebut, seorang saudara datang meminjam uang karena sedang mengalami kesulitan. Meski uang yang tersedia sebenarnya akan digunakan untuk membayar DP tanah, Abah dan Ibu Nyai memilih meminjamkannya. Mereka pun harus kembali memikirkan cara untuk memperoleh dana agar kesempatan membeli tanah tidak terlewatkan.
Pertolongan kemudian datang melalui Pak Bambang, seorang kenalan dari Solo yang memiliki kedekatan dengan keluarga Ngrukem. Setelah mengetahui kebutuhan dana untuk pembelian tanah, Pak Bambang bersedia meminjamkan uang sebesar 170 juta rupiah agar pembayaran DP dapat segera dilakukan sebelum tanah tersebut dibeli pihak lain.
Pinjaman itu menjadi jalan bagi pondok untuk melanjutkan proses pembelian tanah. Namun, Abah dan Ibu Nyai masih harus memikirkan pelunasan utang tersebut. Saat itu, keduanya juga memiliki panggilan untuk menunaikan ibadah haji pada 2008. Mereka akhirnya memutuskan menjual mobil green touring yang dimiliki untuk membantu melunasi pinjaman. Kabar baik datang ketika keduanya berada di Mina, tempat mereka menerima kabar bahwa mobil tersebut telah terjual, bahkan dengan uang kembalian dari harga yang diharapkan.
Bagi Ibu Nyai Barokah, pengalaman tersebut menjadi pengingat akan pertolongan Allah yang datang melalui jalan yang tidak disangka-sangka. Ia mengaitkan kemudahan yang diterima dengan keputusan mereka untuk membantu saudara yang sedang kesulitan, meskipun saat itu mereka sendiri membutuhkan uang.
“Makane kita harus menjadi jiwa yang peduli pada orang lain, entah itu berupa pikiran, tenaga, atau materi, mesti Allah Ta’ala akan mengganti paling tidak sepuluh kali lipat,” tuturnya.
Setelah tanah berhasil diperoleh, pembangunan pesantren pun dimulai secara bertahap.
Nama yang Menyimpan Harapan
Setelah tempat tersedia, Abah sowan kepada almarhum K.H. Idris untuk meminta arahan mengenai nama pesantren yang akan didirikan. Dalam pertemuan itu, K.H. Idris menyarankan agar pesantren yang dibangun memiliki cita-cita untuk berkembang sebagaimana Pondok Pesantren Lirboyo, baik dari segi kualitas maupun kuantitas.
“Wis, Pak Munir. Jenengono pondok e sampeyan koyo Lirboyo, ben mengko pondok e sampeyan koyo pondok Lirboyo (Sudah, Pak Munir. Dinamai saja pesantrenmu seperti Lirboyo, agar nanti berkembang seperti Pondok Lirboyo),” kenang Abah saat menceritakan pesan yang diterimanya.
Nama Hidayatul Mubtadi-ien kemudian digunakan dengan tambahan nama Kotagede. Menurut penjelasan Abah, penambahan nama tersebut menjadi penanda pembeda dari pesantren lain yang menggunakan nama serupa sekaligus bentuk tafa’ulan dan tabarrukan kepada para wali serta ulama di Yogyakarta, khususnya yang berkaitan dengan sejarah Kotagede.
Melalui nama tersebut, tersimpan harapan agar para wali dan ulama mendoakan para santri yang menuntut ilmu di PPKHM dan Pondok Pesantren Nurul Ummah Putri. Nama bukan hanya identitas sebuah lembaga, tetapi juga pengingat atas cita-cita, doa, dan nilai yang hendak dijaga.
Kisah Santri Pertama dan Kenangan di dalamnya
Pada masa awal, pesantren mulai menerima santri dengan segala keterbatasannya. Abah mengenang beberapa santri pertama yang turut menjadi bagian dari perjalanan PPKHM. Di antara mereka ada yang datang dari Nganjuk untuk melanjutkan pendidikan sekaligus mengaji, ada pula yang menempuh pendidikan tinggi hingga meraih gelar doktor. Sebagian alumni bahkan telah mendirikan pesantren, menjadi dosen, atau melanjutkan studi ke luar negeri.
Kisah para alumni tersebut memperlihatkan bahwa keterbatasan fasilitas pada masa awal tidak serta-merta membatasi kemungkinan masa depan para santri. Proses pendidikan, ketekunan, dan pengabdian menjadi bagian dari perjalanan yang mengantarkan mereka menapaki jalan masing-masing.
Abah juga mengingatkan bahwa mendirikan dan mempertahankan pesantren membutuhkan keteguhan mental serta spiritual. Menurutnya, perjuangan untuk menjalankan amanah keagamaan tidak selalu lepas dari tantangan maupun orang-orang yang tidak menyukai langkah tersebut. Karena itu, santri perlu mempersiapkan diri bukan hanya melalui kecerdasan keilmuan, tetapi juga kekuatan mental dan spiritual.
“Untuk li i’lā’i kalimatillah (menegakkan/memperjuangkan agama Allah) tidak hanya membutuhkan kecerdasan keilmuan, tapi juga kecerdasan mental dan spiritual yang kuat. Ini yang perlu kalian persiapkan,” pesannya.
Pada akhirnya, mengenal sejarah berarti belajar memahami alasan sebuah perjuangan dimulai dan nilai apa yang perlu diteruskan. Sehingga dalam melanjutkan perjuangan tersebut, kita bisa merenungkan peran para pengasuh. Sebab, sejarah akan tetap hidup ketika hikmah di dalamnya dipahami, diamalkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

[…] (Bagi pembaca yang ingin mengetahui kisah dan rekam jejak berdirinya PPKHM secara komprehensif, selengkapnya dapat dibaca pada artikel: Dari Bersatunya Dua Nama Hingga Lahirnya PPKHM Jogja). […]