Ara, Luka, dan Alzhaimer

Sumber: Pinterest.com/Mariati

Kenalkan, aku Petaloka. Seorang santri biasa yang ingin membagikan sebuah kisah luar biasa. Sebuah kisah tentang seseorang dengan segudang permasalahan hidup, namun masih bisa tampil layaknya manusia paling bahagia sedunia. 

Kisah ini kupersembahkan untuknya, untuk ia yang begitu baik padaku, dan untuk ia yang tak pernah Lelah membersamaiku dalam kebaikan.

Namanya Ara, kami adalah teman akrab satu kamar di pesantren. Di seluruh lingkungan pesantren, ia adalah sinonim dari kata cemerlang. Piala-piala olimpiade bahasa Arab, deretan sertifikat tahfiz Al-Qur’an, dan nilai ujian yang selalu sempurna. Ia juga yang paling sibuk. Pagi kuliah, siang mengajar privat online untuk membiayai kuliahnya, sore mengaji, dan malam menulis jurnal. Begitulah Ara, ia tumbuh bagai robot pintar yang dijalankan oleh tekad baja, dibesarkan di keluarga yang dingin dan sunyi. 

Aku dan Ara Bagai pinang dibelah dua. Kami bukanlah saudara kembar, namun karena selalu bersama, banyak orang sulit membedakan antara kami berdua. Ara selalu tampak ceria, ia menjadi pusat cahaya di setiap lingkaran pertemanan. Tapi aku tahu, di balik tawa renyahnya, tersimpan jurang kelelahan, tekanan batin, dan luka yang begitu mendalam.

Aku sudah hafal betul bagaimana perangainya, itu karena aku adalah orang yang paling dekat dengannya, sekaligus saksi bisu kelelahan yang selalu ia sembunyikan di balik topeng yang begitu sempurna. Aku adalah satu-satunya yang tahu bahwa ia hanya tidur dua jam setiap malamnya. Dan kuakui bahwa ia pribadi yang baik, hampir sempurna di depan banyak orang. Ia kuat namun juga rapuh di mataku. Ia bersinar, namun juga redup di satu sisinya. 

Ara punya pepatah favorit, “Dinding rumahku boleh runtuh, tapi senyumku harus tetap tegak paripurna.” Itu mengacu pada keluarganya. Ayahnya yang sudah lama pergi, ibunya yang menikah lagi dan sibuk dengan kehidupan barunya, serta kehangatan keluarga yang hanya menjadi angan-angannya. Pondok pesantren ini bukan sekadar tempat menuntut ilmu baginya, tapi pelabuhan terakhir dari badai yang tidak berkesudahan.

Aku tahu ia sering menangis. Bukan dengan suara isak, melainkan hanya air mata yang menetes pelan saat ia berpikir aku sudah tertidur. Aku tahu ia sedang jatuh dan mentalnya tergerus. Namun, aku tidak pernah berani bertanya. Ara paling benci dikasihani. Jika aku mencoba menawarkan bantuan atau sekadar empati, ia akan memotongnya dengan tawa keras, mengubah topik menjadi lelucon, atau tiba-tiba bertanya tentang filsafat yang rumit. 

“Jangan buang waktu dengan wajah kasihanmu itu, Ta,” katanya suatu malam, sambil menyusun jadwal kerjanya yang padat di layar laptop. “Aku bukan barang yang rusak. Aku sedang dirakit ulang untuk menjadi kuat”, ucapnya dengan senyum yang terlihat dipaksakan.

Teka-teki kemudian dimulai tiga bulan setelah ia memenangkan kompetisi debat nasional enam tahun lalu dan pulang membawa piala emas. Ara mulai berperilaku aneh.

Awalnya hanya hal-hal kecil. Ia lupa di mana meletakkan kacamata, padahal kacamata itu tersampir di lehernya. Lalu, ia mulai lupa jadwal piketnya, dan yang paling mengganggu, ia lupa nama-nama santri junior yang baru ia kenal minggu lalu.

“Siapa nama anak yang tadi menyetor hafalan padamu, Ra?” tanyaku suatu sore.

Ara mengerutkan dahi. “Si… si mancung itu? Aduh, kenapa aku tidak ingat, ya? Padahal aku baru mencatatnya di absensi harian.”

Keanehan Ara tumbuh seperti benih yang disiram misteri. Puncaknya adalah terkait dengan penanggalan. Kami biasa menggunakan kalender meja untuk menandai jadwal ujian, deadline tugas, dan jadwal part-time-nya. Ara mulai mencoret tanggal-tanggal yang sudah lewat, padahal baru saja kami tandai. Ia bahkan pernah menanyakan, “Kapan Ramadhan tahun ini, Ta? Aku harus lebih giat muroja’ah untuk persiapan tarawih.” Padahal, bulan Ramadhan sudah berlalu dua bulan yang lalu.

Aku bukanlah seorang yang dungu, oleh karenanya aku mulai menyadari bahwa Ara bukan sekadar lelah. Ia kini menghadapi masalah yang lebih serius dari sebelumnya, beban yang lebih berat dari sekadar mencari biaya hidupnya sendiri. Ara kini sedang berada di titik terendahnya.

Aku memutuskan untuk menyimpan empati dan menggantinya dengan observasi. Aku mulai mencatat perilakunya dalam jurnal rahasia. Kulihat ia menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan, bukan untuk belajar, melainkan hanya untuk menatap peta kampus. Seolah-olah ia berusaha mengingat setiap letak bangunan kampus, terutama letak fakultasnya berada.

Keanehan berikutnya terjadi pada suatu pagi saat kami bersiap sholat Subuh. Ara menatapku dengan mata kosong, tanpa senyum, tanpa kecemerlangan.

“Kau siapa?” tanyanya, suaranya pelan dan murni kebingungan.

Jantungku mencelos. Aku tidak menjawab. Aku hanya menahan napas.

Ara menoleh ke cermin, lalu kembali menatapku. Ia mengambil napas dalam-dalam, dan tiba-tiba, senyum sempurna itu kembali terpasang. Senyum yang membuat semua orang percaya bahwa ia baik-baik saja.

“Astaghfirullah, aku hanya bercanda, Peta! Wajahmu panik sekali,” tawanya, lalu ia menepuk bahuku. “Ayo cepat, nanti terlambat Subuh.”

Beberapa hari setelah kejadian itu, Ara mendadak pingsan saat sedang memimpin halaqah rutinan. Kami segera membawanya ke rumah sakit.

Saat itulah teka-teki itu terpecahkan.

Seorang dokter memanggilku ke ruang konsultasi, memperlihatkan hasil scan otaknya. Dokter menjelaskan dengan bahasa medis yang terasa asing bagiku. Aku hanya bisa menangkap satu kata yang menghancurkan semua topeng dan senyum yang selama ini Ara kenakan, Alzheimer.

Dokter menjelaskan bahwa kasusnya adalah Young-Onset Alzheimer’s, langka dan progresif. Kelelahan ekstrem, tekanan mental akibat beban kerja paruh waktu yang berat, dan depresi yang ia simpan bertahun-tahun telah menjadi pemicu yang mempercepat kondisi ini. Ingatan Ara perlahan-lahan sedang terenggut darinya.

Aku kembali ke kamar ruang inap Ara. Ia tersenyum lega melihatku.

“Sudah kutemukan kacamata yang kucari, Ta,” katanya sambil memamerkan sebuah buku tua. Buku harian yang selalu ia bawa.

Aku duduk di sampingnya. Kali ini, aku memutuskan untuk tidak peduli ia suka dikasihani atau tidak.

“Ra, kenapa kau tidak pernah bilang padaku? Tentang sakitmu, tentang lelahmu, tentang semuanya.”

Ara terdiam. Senyumnya pudar sebentar, hanya untuk digantikan oleh tatapan paling jujur yang pernah kulihat.

“Aku lupa kapan aku mulai sakit, Peta. Tapi aku ingat betul bahwa aku harus tetap bekerja agar bisa di sini. Aku tidak mau dikasihani. Aku… aku hanya takut orang lain tahu aku tidak sesempurna yang mereka lihat,” bisiknya. Ia meremas buku di tangannya. “Kalau aku menangis, aku takut akan tenggelam. Jadi, aku harus terus tersenyum.”

Belum selesai, ia melanjutkan ucapannya Kembali,

“Ta, bukankah luka itu justru berharga? Ia memberi kita rasa sakit, untuk kemudian ditempa menjadi sesuatu yang lebih indah.”

“Ta, sebuah buku yang kubaca mengatakan bahwa hidup itu tak pernah luput dari masalah. Petaloka sahabatku, maka berharaplah agar hidup ini dipenuhi dengan masalah-masalah yang baik ya,”

Ia menatapku, matanya sedikit berkaca-kaca, tetapi raut wajahnya tetap damai.

“Kamu jangan khawatir ya, Ta. Aku tahu, aku akan lupa segalanya. Mungkin aku lupa siapa orang tuaku, siapa namamu, atau apa yang aku hafal hari ini. Tapi ada satu hal yang tidak akan pernah hilang,” katanya, suaranya kini kembali penuh keyakinan.

“Apa itu, Ra?” tanyaku.

Ara tersenyum, senyum tulus tanpa topeng. “Aku tidak akan pernah lupa betapa aku bersyukur. Bersyukur karena hari ini aku masih bisa merasakan hangatnya mentari. Bersyukur karena Allah masih memberiku waktu untuk tersenyum sekali lagi.”

Aku tidak bisa menahan air mata lagi. Aku menunduk, mengangguk, membiarkan empati yang selama ini kutahan tumpah.

Ara meletakkan tangannya di bahuku. “Hei. Jangan menangis. Ingat! Dinding rumahku boleh runtuh, tapi senyumku harus tegak paripurna.”

Aku mendongak, melihat teman yang menyimpan badai di hatinya, badai di otaknya, namun tetap berdiri tegak di tengah badai tersebut. Aku sadar, kecemerlangan Ara bukan pada piala-pialanya, melainkan pada ketulusan rasa syukurnya, yang bahkan keganasan Alzheimer pun tak mampu merenggutnya.

Setelah seminggu dirawat di rumah sakit, kesehatan Ara terus menurun setiap harinya. Tubuhnya yang dulu penuh semangat kini tampak rapuh, seolah waktu sedang menyiapkan perpisahan yang tak pernah ingin kami hadapi. Hingga akhirnya, tepat pada Jumat, 9 Februari 2020, di antara isak dan doa yang belum sempat tuntas, Ara menghembuskan napas terakhirnya.

Senyum terakhirnya… masih terpatri jelas dalam ingatanku. Senyum itu menjelma menjadi senyum paling indah sekaligus paling menyakitkan yang pernah kulihat. Ada ketenangan di sana, seolah ia tahu bahwa penderitaannya akan berakhir, sementara aku masih terjebak dalam kepedihan yang tak sanggup kuredakan.

Kenyataan pahit itu sulit kuterima. Ara, sahabat terbaikku, kini telah berpulang ke pangkuan-Nya. Ia telah kembali ke rumah paling damai. Tempat yang tak lagi mengenal air mata, tempat dimana luka-luka akhirnya beristirahat. 

Sejak hari itu, setiap kali angin sore berhembus lembut dan menyentuh wajahku, aku merasa seolah Ara masih ada. Berbisik memanggil namaku pelan, dengan nada hangat yang sama.
Untukmu, sahabatku Ara, lisan dan batinku tak pernah berhenti menyebut namamu dalam doa. Semoga Allah memberimu kedamaian tanpa batas, sebagaimana kau dulu menenangkan setiap gelisahku dengan keikhlasanmu. Kau telah pergi, namun jejakmu terus abadi, di dalam ingatan, di dalam setiap doa, dan di sudut paling sunyi dari hatiku.

Penulis: Faidlul Barokah | Editor:  Dere