
Sumber: Media Pondok
Menjelang Magrib, Ahad (25/10), ndalem menjadi tempat berkumpulnya para santri untuk memperingati hari kelahiran Murobbi Ruhina, Abah K.H. Munir Syafa’at. Melalui Lurah Pondok, Kang Masrur, para santri menyampaikan ucapan selamat sekaligus doa bagi Abah yang lahir pada 25 Oktober 1974. Sore itu, Abah mengenakan baju putih, sarung batik, dan peci merah. Para santri, mulai dari kalangan pelajar hingga mahasiswa, turut hadir dalam suasana hangat dan penuh syukur. Di tengah kebersamaan itu, peringatan ambal warsa bukan hanya menjadi momen untuk menyampaikan kasih dan hormat, tetapi juga ruang untuk menyimak nasihat dari Abah.
“Bilangan hidup bertambah, kesempatan hidup berkurang.” Demikian dawuh Abah. Ulang tahun memang menandai bertambahnya angka dalam hitungan umur, tetapi pada saat yang sama, jatah waktu untuk menjalani kehidupan semakin berkurang. Waktu yang berlalu tak mungkin diputar kembali. Karena itu, hari kelahiran semestinya menjadi momentum untuk menengok perjalanan diri, mengevaluasi apa yang telah dilakukan, dan memperbaiki hal-hal yang masih perlu dibenahi.
Abah berpesan agar para santri semakin istiqamah dalam mengaji dan beribadah. Pertambahan usia hendaknya berjalan beriringan dengan pertambahan kebaikan. Dengan begitu, ambal warsa benar-benar memiliki nilai, bukan sekadar perayaan yang datang setiap tahun lalu berlalu tanpa perubahan berarti. Abah juga mengingatkan agar hari kelahiran tidak diisi dengan foya-foya, terlebih jika sampai melakukan hal-hal yang bertentangan dengan syariat. Kebahagiaan tetap patut disyukuri, tetapi hendaknya diwujudkan dengan cara yang baik dan tidak melupakan tujuan hidup sebagai seorang hamba.
Usai menyampaikan nasihat, Abah memimpin doa bersama. Suasana kemudian beralih menjadi lebih cair ketika para santri berkumpul untuk berfoto bersama, mengabadikan momen kebersamaan dengan Abah pada hari kelahirannya. Sementara itu, waktu terus bergerak mendekati Magrib. Para santri mulai menyiapkan hidangan berbuka untuk Abah yang sedang menjalankan ibadah puasa. Ketika azan Magrib berkumandang, Abah membatalkan puasanya dengan roti dan susu putih. Setelah itu, kebersamaan berlanjut dengan makan bersama di ndalem, menutup sore dalam suasana sederhana dan penuh keakraban.
Peringatan ambal warsa Abah menjadi kesempatan bagi para santri untuk menyampaikan rasa hormat sekaligus memanjatkan doa agar beliau senantiasa diberikan kesehatan, kekuatan, dan keistiqamahan dalam membimbing mereka. Namun, di balik ucapan selamat dan kebersamaan yang terjalin, tersimpan pesan yang melampaui perayaan hari kelahiran itu sendiri: usia bukan sekadar sesuatu yang bertambah, melainkan juga kesempatan yang perlahan berkurang. Selama waktu masih diberikan, ada tanggung jawab untuk mengisinya dengan kebaikan, memperdalam ilmu, menjaga ibadah, dan terus memperbaiki diri.
أطال الله عمره بالصحة والعافية والاستقامة على طريق السلف الصالح، ومتعنا الله بطول حياته. آمين
Semoga Allah memanjangkan usia beliau dalam kesehatan dan kesejahteraan, menetapkan beliau dalam keistiqamahan di jalan para salaf saleh, serta memberikan manfaat kepada kita melalui panjangnya usia beliau. Aamiin.

Error 404: Work-life balance not found
