Buka Konferensi Internasional MU’TAMAD 2026 di Lirboyo, MUI dan Kemenag Dorong Transformasi Pesantren di Kancah Global

Sumber: Dokumentasi peserta

KEDIRI – Ma’had Aly Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri, resmi menggelar konferensi internasional bertajuk Al-Multaqo Ad-Dauli li Dirasah Al-Islamiyah wal Insaniyah wal Hadhoriyah (MU’TAMAD) 2026 pada Kamis (29/10/2026). Mengusung tema “Menuju Pesantren Transformatif dalam Studi Islam, Kemanusiaan, dan Peradaban Dunia”, perhelatan akbar ini dihadiri oleh jajaran Masyayikh Lirboyo, pejabat tinggi Kementerian Agama RI, pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI), serta sekitar 250 akademisi dari dalam negeri dan 10 negara sahabat.

Acara pembukaan berlangsung khidmat dengan kehadiran langsung Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo KH. Muhammad Anwar Manshur dan KH. Abdullah Kafabihi Mahrus, Mudir ‘Am Ma’had Aly Lirboyo KH. Athoillah Sholahuddin Anwar, Pimpinan PP Lirboyo Agus H. Adibussholeh Anwar, Pengasuh PP Ar-Risalah Dr. Hj. Ainaul Mardliyyah, serta Ketua Panitia Agus Muhammad Aminullah Mahin, M.Pd.

Turut hadir jajaran tokoh nasional dan pejabat pemerintahan, di antaranya Ketua Umum MUI Pusat KH. Anwar Iskandar didampingi Ketua Bidang Pendidikan DPP MUI Prof. Dr. Faisal, Direktur Jenderal Pesantren Kemenag RI Dr. KH. Basnang Said, M.Ag., Direktur Diktis Prof. Dr. KH. Sahiron, Direktur Ma’had Aly Dr. H. Adib, M.Ag., Direktur Bina Dakwah dan Pendidikan Diniyah Nonformal Dr. Mahrus, Direktur Pemberdayaan Pesantren Dr. Yusi Damayanti, Ketua Umum AMALI Dr. KH. Nur Salikin, Lc., M.A., serta Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati. Hadir pula Kakanwil Kemenag Jawa Timur, Kakankemenag Kota Kediri, Rektor UIN Syekh Wasil Kediri Prof. Dr. Wahidul Anam, Rektor UIN SATU Tulungagung Prof. Dr. Abdul Aziz, Rektor UIT Lirboyo, serta jajaran manajemen Bank Syariah Indonesia (BSI) RO VIII Surabaya.

Dalam pidato kuncinya (inspiring speech), Ketua Umum MUI Pusat, KH. Anwar Iskandar, menegaskan bahwa pesantren dan Ma’had Aly tidak boleh tinggal diam menghadapi lompatan kemajuan zaman. Beliau mengungkapkan rencana strategis MUI untuk menyinergikan program Pendidikan Kader Ulama (PKU) serta program reguler S1, S2, dan S3 dengan Ma’had Aly se-Indonesia guna melahirkan ulama yang berwawasan global.

“Kita hidup dalam ruang di mana ada teknologi, Artificial Intelligence (AI), dan dunia siber yang tidak bisa kita lepaskan. Mahasantri harus memenuhi syarat transformasi ini, paling tidak dengan menguasai teknologi informatika serta bahasa internasional seperti bahasa Arab, Inggris, dan Mandarin,” ujar KH. Anwar Iskandar di hadapan ribuan santri dan delegasi.

Kendati demikian, pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien Kediri tersebut mengingatkan agar modernisasi tidak melunturkan jati diri santri atau sibghah ma’hadiyah. Beliau menekankan empat pilar identitas pesantren yang wajib dipertahankan, yakni berakidah Ahlussunnah wal Jama’ah, bersyariat dengan mengikuti mazhab empat, berakhlak tasawuf, serta mahir membaca kitab kuning (turats). Menurutnya, teknologi bersifat netral dan harus dikuasai oleh santri sebagai alat dakwah agar ruang digital tidak dibajak oleh kelompok yang menyebarkan fitnah maupun ajaran menyimpang.

Senada dengan hal tersebut, Direktur Jenderal Pesantren Kementerian Agama RI, Dr. KH. Basnang Said, M.Ag., yang hadir membuka acara secara resmi, menyoroti posisi strategis pesantren sebagai pilar utama peradaban Islam di Indonesia yang memiliki populasi muslim terbesar di dunia, yakni mencapai 240 juta jiwa,. Beliau menjelaskan bahwa keberadaan 95 Ma’had Aly di seluruh Nusantara yang menaungi 30.000 mahasantri dengan Ma’had Aly Lirboyo sebagai barometer utamanya yang memiliki 5.000 mahasantri merupakan kekuatan besar yang senantiasa merawat tradisi akademik sekaligus menanamkan kecintaan terhadap NKRI. Selain penguatan akademik, negara juga terus berkomitmen memberdayakan kemandirian ekonomi pesantren di pelosok pedesaan sebagai bagian dari upaya menguatkan perekonomian nasional.

Dalam sambutannya, KH. Basnang Said turut mematahkan stigma lama yang kerap menganggap kaum bersarung dan berpeci sebagai kelompok kolot. Beliau menegaskan bahwa pesantren telah membangun peradaban Nusantara sejak abad ke-14 dan memiliki cara pandang yang sangat modern karena konsisten mempertahankan metodologi berpikir kritis melalui ilmu logika (mantiq), sastra (arudh), dan balaghah.

“Maju dan modernnya pemikiran seseorang bukan diukur dari tampilan jas dan dasinya, melainkan dari isi kepalanya. Pranata hukum yang dilahirkan Ma’had Aly itu sangat luar biasa karena kajiannya berbasis ilmu mantiq yang sudah banyak ditinggalkan lembaga lain,” tegas KH. Basnang Said.

Sebagai langkah konkret penguatan akademik dan keterampilan santri, Dirjen Pesantren memaparkan sejumlah terobosan Kementerian Agama RI:

Pendirian Pusat Studi & Prodi Baru

Menginisiasi berdirinya Pusat Studi Kepesantrenan (yang telah diresmikan di lima PTKIN, termasuk UIN Syekh Wasil Kediri) serta rencana pembukaan Program Studi Manajemen Pesantren di lingkungan UIN/IAIN untuk mengkaji keunikan tata kelola pesantren dan mendampingi penyusunan naskah akademik Perda Pesantren di berbagai daerah.

Publikasi Jurnal Bereputasi Internasional

Mendorong 200 paper terpilih dari forum MU’TAMAD 2026 agar dipublikasikan ke media nasional serta jurnal terindeks Sinta 1, Sinta 2, hingga Scopus agar gagasan dosen dan mahasantri Ma’had Aly dapat diakses masyarakat akademik dunia.

Akselerasi Hard Skill Teknologi

Melengkapi soft skill santri yang dikenal jujur, disiplin, dan mandiri dengan pelatihan Artificial Intelligence (AI) bekerja sama dengan Microsoft bagi 5.000 santri, serta menyiapkan penyaluran bantuan robotik untuk 350 pondok pesantren.

Acara pembukaan MU’TAMAD 2026 ini juga ditandai dengan tausiah keilmuan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo KH. Abdullah Kafabihi Mahrus, peluncuran resmi Lembaga Pers dan Penelitian Mahasantri (LP2M) Ma’had Aly se-Indonesia sebagai pelaksana Tridarma Perguruan Tinggi Pesantren, serta ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Romo KH. Muhammad Anwar Manshur. Rangkaian acara kemudian berlanjut dengan sidang pleno internasional yang menghadirkan akademisi asal Maroko, Prof. Dr. Maryam Ait Ahmad.

Editor:Nayla Sya

Tinggalkan Balasan