Tujuan Besar, Langkah yang Buyar: Menyelami 3 Objek Pengaruh Diri

Sumber: Generate AI

Apa cita-cita Anda?

Apakah cita-cita yang Anda miliki hari ini masih sama dengan cita-cita ketika kecil?

Sudah sejauh mana Anda berjalan untuk menjemputnya?

Hampir setiap orang memiliki tujuan hidup. Kita menyusun rencana, membuat daftar impian, bahkan menentukan jalan yang menurut kita paling tepat untuk mencapainya. Kita membayangkan diri kita lima atau sepuluh tahun ke depan. Menjadi seseorang yang berhasil, dihormati, dan hidup sebagaimana yang selama ini kita impikan.

Namun hidup sering kali terasa berjalan ke arah yang berbeda.

Semakin waktu berlalu, cita-cita itu justru tampak semakin jauh.

Bukan karena kita tidak mampu meraihnya.

Bukan karena jalur yang kita atur itu ngelantur.

Mimpi yang kita idamkan bukan juga dari buah tidur.

Dan bukan pula karena kita tidak pantas menjadi manusia yang kita dambakan.

Sering kali penyebabnya jauh lebih sederhana.

Kita berhenti berjalan.

Kita lebih terjebak pada zona nyaman daripada perubahan.

Kita lebih memilih rebahan daripada belajar.

Lebih senang menunda daripada memulai. Atau kekurangan berdoa?, mungkin kita telalu banyak berdoa hingga merasa berat untuk memikulnya, kita terlalu memasrahkan hidup kita hingga lupa untuk percaya pada diri kita.

Perlahan, jalan yang dahulu kita susun dengan penuh keyakinan mulai terlupakan. Bukan karena jalannya hilang, melainkan karena kita sendiri yang berhenti melangkah.

Adam Smith melihat pergulatan semacam ini sebagai sesuatu yang sangat manusiawi. Menurutnya, di dalam diri manusia terdapat beberapa fakultas yang terus-menerus saling memengaruhi arah kehidupan seseorang.

Yang pertama adalah akal (reason).

Akal merupakan kemampuan manusia untuk menentukan tujuan hidupnya. Melalui akal, seseorang dapat membedakan mana yang benar dan mana yang keliru, mana yang patut dilakukan dan mana yang sebaiknya ditinggalkan. Akal pula yang menyusun strategi, menentukan langkah, serta memilih sarana yang diperlukan untuk mencapai tujuan hidup.

Menurut tradisi filsafat klasik, akal sering dipandang sebagai prinsip yang seharusnya memimpin seluruh kehidupan manusia. Ia ibarat seorang nahkoda yang menentukan ke mana kapal akan berlayar.

Namun mengetahui arah ternyata tidak selalu membuat seseorang bergerak ke sana.

Sebab di dalam diri manusia masih terdapat kekuatan lain.

Smith menyebutnya sebagai passion, yaitu gairah atau hasrat.

Dalam tradisi kaum skolastik[ Kaum skolastik adalah para cendekiawan dan teolog abad pertengahan (sekitar abad ke-9 hingga ke-15) yang berusaha menyelaraskan ajaran agama Kristen dengan filsafat Yunani kuno, khususnya pemikiran Aristoteles. Mereka meyakini bahwa akal budi dan wahyu saling melengkapi dalam memahami kebenaran], bagian ini dikenal sebagai concupiscible appetite, yakni bagian jiwa yang dipenuhi berbagai keinginan alamiah. Ia mencintai kenyamanan, mencari keamanan, menginginkan kenikmatan, dan selalu tertarik pada apa yang menyenangkan.

Hasrat bukanlah sesuatu yang buruk.

Justru tanpa hasrat manusia mungkin tidak memiliki semangat untuk hidup.

Namun hasrat memiliki kecenderungan untuk mengkhianati keputusan yang telah dibuat oleh akal.

Akal berkata, “Bangun pagi agar selangkah lebih dekat dengan cita-citamu.”

Hasrat menjawab, “Tidurlah sebentar lagi.”

Akal berkata, “Belajarlah hari ini agar masa depanmu berubah.”

Hasrat berkata, “Besok saja.”

Pertarungan semacam inilah yang hampir setiap hari terjadi dalam diri manusia.

Kita mengetahui apa yang benar.

Namun kita tidak selalu melakukan apa yang benar.

Tidak mengherankan apabila dalam tradisi Islam terdapat ungkapan yang sangat terkenal bahwa perjuangan terbesar manusia adalah perjuangan melawan hawa nafsunya. Terlepas dari perdebatan mengenai validitas riwayat tersebut, pesan moralnya tetap sangat kuat: musuh yang paling sulit ditaklukkan sering kali bukanlah orang lain, melainkan diri sendiri.

Namun bagi Adam Smith, kehidupan manusia belum selesai dijelaskan hanya oleh akal dan hasrat.

Masih ada satu unsur yang memberi arah moral bagi seluruh tindakan manusia, yaitu sentimen moral (moral sentiments).

Sentimen moral bekerja melalui apa yang disebut Smith sebagai simpati (sympathy).

Simpati bukan sekadar rasa kasihan.

Ia adalah kemampuan manusia untuk keluar dari dirinya sendiri, lalu membayangkan bagaimana rasanya apabila berada dalam posisi orang lain.

Kemampuan inilah yang membuat manusia tidak hanya bertanya, “Bagaimana aku bisa berhasil?” tetapi juga, “Apakah keberhasilanku membuatku tetap menjadi manusia?”

Sebab seseorang dapat menjadi kaya tanpa menjadi bijaksana.
Seseorang dapat memiliki kekuasaan tanpa memiliki kemanusiaan.
Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar pula godaan untuk memandang orang lain hanya sebagai alat demi kepentingannya sendiri.

Di sinilah sentimen moral menjadi kompas yang menjaga manusia agar tidak kehilangan dirinya.

Ia mengingatkan bahwa tujuan hidup bukan hanya tentang harta, jabatan, atau pengakuan.
Melainkan tentang menjadi manusia yang pantas dihormati karena kebajikannya.

Menariknya, ketika membahas para filsuf Yunani, Adam Smith mengutip gagasan Plato mengenai keadaan jiwa yang paling ideal.

Plato berpendapat bahwa manusia mencapai kebajikan ketika seluruh bagian jiwanya berada dalam harmoni. Akal memimpin, hasrat mengikuti arahan akal, dan dorongan-dorongan dalam diri tidak lagi saling bertentangan. Dalam keadaan seperti itu lahirlah apa yang oleh orang Yunani disebut temperance, yaitu pengendalian diri, keteduhan watak, dan kemoderatan batin.

Dengan demikian, kebajikan bukanlah keadaan ketika manusia tidak lagi memiliki keinginan.
Bukan pula ketika akal mematikan seluruh hasratnya.

Kebajikan lahir ketika akal memberikan arah, hasrat menyediakan tenaga untuk bergerak, dan sentimen moral memastikan bahwa seluruh perjalanan hidup itu tetap berada dalam jalan yang baik.

Pada akhirnya, manusia yang baik bukanlah mereka yang berhasil mencapai cita-citanya dengan cara apa pun.

Melainkan mereka yang berhasil mencapai cita-citanya tanpa kehilangan kemanusiaannya.

Editor:Nuril

Tinggalkan Balasan