Takzim Maulid Nabi SAW 1448 H: Merawat Mahabbah kepada Baginda Nabi di Malam Rabiul Awal

Sumber: Dokumentasi Media Pondok

Malam di Kotagede terasa begitu teduh pada Senin malam Selasa, 12 Rabiul Awal 1448 H/24 Agustus 2026. Di Pendopo Al-Khadijah, para santri berkumpul dengan kitab maulid di tangan. Selepas menunaikan sholat Isya berjamaah, satu per satu mereka memenuhi lokasi untuk mengikuti Takzim Maulid Nabi Muhammad SAW

Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 20.30 WIB tersebut menjadi salah satu momentum bagi para santri untuk kembali mengingat sosok Baginda Nabi Muhammad SAW, sekaligus merawat rasa cinta dan rindu kepada beliau melalui lantunan sholawat dan pembacaan maulid.

Rangkaian acara diawali dengan lantunan sholawat oleh Tim Hadroh Sabilus Syafaat. Wulidal Huda dan Wulidal Musyarrof turut dilantunkan untuk membuka suasana malam. Setelah itu, pembacaan Simtudduror dipimpin oleh K.H. Munir Syafaat, pengasuh Pondok Pesantren Kotagede Hidayatul Mubtadi-ien dan Pondok Pesantren Nurul Ummah Putri.

Suasana semakin syahdu ketika mahalul qiyam dimulai. Para santri berdiri bersama, larut dalam lantunan maulid yang mengisi pendopo. Malam yang cerah dengan angin yang berhembus lembut seakan turut melengkapi suasana takzim kepada Baginda Nabi Muhammad SAW

Bagi Arina Amalia, salah satu santri PPNU-Pi, suasana tersebut menghadirkan ketenangan tersendiri. Ia mengaku bahwa Takzim Maulid menjadi ruang untuk sejenak melepaskan penat setelah menjalani aktivitas sehari-hari.

“Malam ini membuat perasaanku menjadi tenang karena suasananya terasa magical. Acara ini menjadi wadah istirahat hati dan pikiran setelah hectic bekerja seharian di luar,” ungkapnya.

Menurut Arina, ketenangan itu juga semakin terasa dengan keadaan malam yang mendukung. Langit yang cerah dan angin yang lembut membuat suasana takzim kepada Baginda Nabi terasa semakin hangat dan menenangkan.

Bukan hanya menjadi ruang untuk menenangkan hati, peringatan Maulid juga menjadi pengingat akan pentingnya menumbuhkan kembali mahabbah kepada Rasulullah SAW. Hal tersebut dirasakan oleh Ulil Maula, salah satu santri PPNU-Pi.

“Melalui acara maulid ini, membuat kita selalu ingat kepada Nabi Muhammad SAW dan juga menambahkan rasa mahabbah kita kepada Nabi Muhammad SAW,” tuturnya.

Setelah pembacaan Simtudduror, Abah Munir memimpin doa dengan khidmat. Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan mauidzoh hasanah. Dalam penyampaiannya, Abah Munir menceritakan sekilas sejarah kelahiran Nabi Muhammad SAW di Makkah serta peristiwa-peristiwa yang menyertai kelahiran beliau.

Beliau juga menyampaikan tentang keutamaan memperbanyak sholawat. Menurutnya, sholawat tidak hanya menjadi bentuk ungkapan cinta kepada Rasulullah SAW, tetapi juga dapat menjadi penguat semangat untuk mengikuti keteladanan beliau.

“Dengan membaca sholawat dapat menambahkan ghiroh (semangat) untuk meneladani Baginda Nabi,” tuturnya.

Pesan tersebut kemudian terasa semakin dekat bagi para santri. Sebab, kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW tidak berhenti pada lantunan sholawat atau kemeriahan peringatan Maulid semata. Ada keteladanan yang perlu dibawa pulang dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Hal itu pula yang disampaikan Alfian Hamid, salah satu vokal Tim Hadroh Sabilus Syafaat. Baginya, membaca sholawat pada bulan Rabiul Awal memiliki kesan tersendiri karena bulan tersebut dikenal sebagai bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

“Membaca sholawat di bulan ini terasa lebih istimewa karena dikatakan bahwa bulan ini adalah bulan kelahiran Nabi. Maka, salah satu bentuk kebahagiaan dan puncak kerinduan kepada beliau adalah dengan memperbanyak membaca sholawat,” ungkapnya.

Namun, bagi Alfian, memperbanyak sholawat hanyalah salah satu bentuk dari kecintaan tersebut. Ia mengingat kembali pesan Abah bahwa rasa cinta kepada Nabi juga perlu diwujudkan melalui usaha untuk meneladani kehidupan beliau.

“Kalau dawuh Abah, selain memperbanyak bersholawat, kita juga harus semakin meneladani segala sisi kehidupan Nabi dan mengamalkan ajarannya. Kalau masih mondok, ya harus makin semangat ngajinya. Begitulah, ya,” lanjutnya.

Malam itu pun tidak sekadar menjadi perayaan atas datangnya Rabiul Awal. Di antara lantunan Simtudduror, mahalul qiyam, dan sholawat yang bergema di Pendopo Al-Khadijah, terselip sebuah pesan sederhana: mencintai Nabi Muhammad SAW bukan hanya dengan mengingat kelahirannya, tetapi juga dengan berusaha menghadirkan keteladanan beliau dalam kehidupan.

Sebab, Maulid Nabi bukanlah tentang seberapa meriah sebuah peringatan digelar. Lebih dari itu, ia menjadi momentum untuk kembali menata hati, memperbarui mahabbah, memperbanyak sholawat, dan menumbuhkan ghiroh untuk mengikuti jejak Baginda Nabi Muhammad SAW, termasuk dengan semakin semangat menuntut ilmu dan mengamalkan ajaran beliau.

Editor:Nayla Sya
Dilla Azkiya

Dadio wong lirkadyo Isim Mu'rob

Tinggalkan Balasan