
Sumber: Generate AI
Disclaimer, ini cuma ajang bercerita penulis yang gemar mendokumentasikan daily life-nya. Motivasinya adalah agar bisa mengambil hikmah dari setiap keputusan dan kejadian, termasuk menerima konsekuensi yang ditimbulkan.
Penulis mondok di Nurul Ummah Putri (Nurmapi) sejak masih pelajar, tepatnya di penghujung masa SMA. Kala itu adalah masa awal penerimaan santri baru setelah Covid dan New Normal. Jika ditanya kenapa mukim padahal rumah hanya berjarak 15 menit dari pondok, itu karena ia sudah kadung nge-blend dengan lingkungan pondok sejak MTs. Juga kebetulan SMA-nya sama-sama di Kotagede, jadi selain bisa ikut diniyah dan ngaji pondok, at least kalau ke sekolah malah makin dekat (dulu SMAID belum ada, santri yang sekolah di luar masih boleh mukim).
Fun fact, penulis pernah punya plan baru akan boyong ketika diboyong (u know what I mean). Entah kelewat betah, atau lupa kalau tanggung jawab yang sesungguhnya juga ada di rumah. Keputusan itu masih dipegang erat sembari penulis melanjutkan diniyah, konon nanggung kalau berhenti waktu lulus sekolah. Hingga tahun ke-4 lebih dikitnya di pondok, penulis sudah pernah tinggal di komplek pelajar Darussalam, jadi anak (semi) gap year, sampai jadi mateng (mahasiswa tengah, tidak muda tapi menolak tua) di komplek mahasiswa.
Kurang lebih di tahun terakhirnya diniyah, penulis mulai tiba pada kebimbangan. Makin ke sini, pondok terasa seperti zona nyaman yang agak menipu. Ia betah, iya. Tapi di saat yang sama, ia juga takut jangan-jangan terlalu nyaman sampai lupa bahwa ada rumah yang juga membutuhkannya. Terdengar klise atau sok pahlawan, ya? Tapi memang itu yang dirasakan.
Mungkin semuanya dipengaruhi oleh penulis yang masih belajar dalam membagi prioritas di hidupnya yang penuh. Meskipun selama mondok ia masih bisa pulang-pergi ke rumah dengan mudah, nyawa rumah seakan berubah jadi sekadar tempat merebah. Lelah dengan kehidupan akademik di kampus, jenuh dengan padatnya rutinitas di pondok, rumah jadi pelarian dan tak pernah menerima penulis dengan energi yang masih penuh. Hal ini tentu disayangkan oleh orang tua, dan dari situlah pertimbangan demi pertimbangan mulai muncul.
Sampai akhirnya, keputusan itu benar-benar diambil. Penulis sempat bercerita ke beberapa teman. Ada yang kaget, ada yang langsung mendukung. Prosesnya juga nggak sederhana. Melewati deep talk malam hari bersama Bu Lurah, berpamitan dengan teman-teman, sampai menguatkan diri untuk sowan ke Ibu Nyai.
Meskipun pada saat itu sudah lulus diniyah, penulis sadar belum bisa disebut santri yang rajin, apalagi yang banyak berkontribusi untuk pondok. Jadi wajar kalau muncul rasa belum sepenuhnya pantas. Namun, keputusan yang diambil bukanlah untuk meninggalkan sesuatu yang baik menuju hal yang buruk, melainkan untuk menempatkan diri pada ruang yang sama-sama baik, hanya dalam situasi yang berbeda.
Masih ia ingat saat sowan boyong, Ibu Nyai bertanya, “Lha khidmah e piye?” Dengan komitmen yang sudah dipikirkan, penulis kemudian menyanggupi untuk tetap khidmah meskipun tidak lagi mukim, sekaligus tetap melanjutkan ngaji. Ibu lalu menambahkan, “Yo kudu sik mempeng.” Kalimat sederhana, tapi terus terngiang sampai sekarang.
Culture shock mulai terasa ketika masa libur selesai dan santri lain sudah kembali ke pondok. Ada yang terasa kosong. Ruang yang dulu ramai, sekarang sepi. Obrolan yang biasanya ada, mendadak hilang.
Apalagi waktu dikeluarkan dari grup komplek. Beuh, agak nyesek yagesya. Walaupun ya… bukan berarti dikucilkan juga, sih.
Tapi ternyata bukan cuma soal kehilangan suasana. Ada hal lain yang ikut berubah. Ritme hidup yang biasanya terbentuk dengan aturan pondok, sekarang harus dibangun sendiri. Tak semudah itu, justru ada momen merasa tidak seproduktif dulu.
Kembali ke rumah juga tidak otomatis jadi lebih baik. Tetap ada proses. Tetap harus adaptasi.
Bahkan ketika beberapa kali ke pondok, vibes-nya mulai berbeda. Semi asing. Teman-teman tetap dengan ramah menyapa. Tapi seperti ada privilege santri mukim yang tercerabut begitu saja. Sesuatu yang dulu mungkin terasa biasa (atau malah terbebani), setelah boyong jadi lain rasanya.
Perlu diakui, pengalaman boyong tiap orang tidak selalu sama. Ada yang mungkin merasa biasa saja, ada yang justru lebih lega, atau benar-benar sedih tak masuk logika. Yang perlu kita percaya, setiap keputusan membawa dinamikanya masing-masing. Sebisa mungkin kita menerima segala bentuk takdir, sepaket dengan sedih dan bahagianya.
Di sisi lain, penulis tetap bersyukur masih bisa terhubung dengan pondok. Masih bisa khidmah, mengaji, pulang ke “rumah kedua” meskipun tidak lagi menetap. Sekarang, PR-nya adalah: menjaga komitmen, menjalani pilihan yang sudah diambil, dan pelan-pelan belajar menyeimbangkan semuanya.
Penulis: Nayla Sya | Editor: S. Khoirunnisa
