
Sumber: LPDP (2025)
Tulisan ini merupakan bagian dari E-Book Antologi Mental Resilience Awardee LPDP 2025 bertajuk “Cerita Awardee: Bangkit Demi Mimpi dan Misi”. Lebih dari sekadar kumpulan kisah, buku ini adalah ruang bersama bagi para pejuang yang pernah jatuh, patah, dan hampir menyerah, namun memilih untuk tetap melangkah. Kisah ini bukan hanya tentang saya, tetapi juga tentang banyak orang hebat lainnya yang berani mengambil keputusan untuk terus maju, hingga akhirnya dipertemukan dalam satu keluarga besar, yaitu Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Berasal dari latar belakang dan perjuangan yang berbeda, kami dipersatukan oleh satu tujuan yang sama, yakni memperjuangkan pendidikan.
Belakangan ini, media sosial ramai membicarakan tentang sparks, percikan kecil yang membuat seseorang kembali bersemangat menjalani hidup. Dalam kamus Oxford, sparks dimaknai sebagai sesuatu yang memicu awal dari perubahan secara tiba-tiba atau kilatan kecil yang menyalakan api. Sederhana, namun secara mendalam, sparks dapat menjadi alasan seseorang untuk tetap bertahan, bahkan di titik terendah sekalipun.
Kenyataannya, tidak semua orang selalu memiliki sparks dalam hidupnya. Ada suatu masa di mana semuanya terasa datar, hampa, bahkan kehilangan arah. Di tengah tuntutan hidup dan perjalanan yang tidak selalu berjalan sesuai rencana, banyak dari kita, terutama perempuan, yang pernah berada di fase kehilangan semangat.
Sebagai sesama perempuan, saya percaya bahwa setiap dari kita memiliki mimpi. Mimpi untuk terus tumbuh, berdaya, dan memberi makna. Namun, perjalanan menuju mimpi itu tidak pernah mudah. Banyak luka yang harus dirasakan, ada kegagalan yang harus diterima, dan ada kehilangan yang datang dengan tiba-tiba tanpa pernah kita siapkan.
Saya pernah berada di titik di mana hidup terasa begitu berat. Kehilangan anggota keluarga, kehilangan teman masa kecil ketika pandemi COVID-19, masalah kerjaan di kantor, proses recovery pasca laka lantas yang cukup lama, dan kehilangan lain datang bertubi-tubi. Di tengah semua itu, saya tidak hanya kehilangan kekuatan fisik, tetapi juga kehilangan sparks dalam hidup.
Hari-hari terasa berjalan tanpa arah. Bangun pagi bukan lagi tentang semangat, melainkan sekadar bertahan. Pikiran dipenuhi kekhawatiran, tubuh dipenuhi rasa sakit, dan hati dipenuhi kehilangan. Di titik itulah saya mulai memahami bahwa kesehatan mental adalah sesuatu yang nyata, yang perlu dijaga, dirawat, dan diterima keberadaannya.
Sebagai seseorang yang pernah mengenyam pendidikan di pesantren putri, saya tumbuh dengan nilai kesabaran dan keteguhan. Namun, saya juga belajar bahwa menjadi kuat bukan berarti menahan semuanya sendirian. Ada keberanian tersendiri yang harus diakui bahwa kita lelah dan kondisi kita tidak baik-baik saja.
Perlahan, saya mulai menemukan kembali sparks yang sempat hilang. Bukan dalam bentuk yang besar, melainkan dari hal-hal kecil, seperti doa yang tidak pernah putus, dukungan keluarga, serta keberanian untuk mencoba kembali meski belum sepenuhnya pulih. Saya belajar bahwa proses tidak harus selalu cepat, dan tidak harus selalu sempurna. Hal yang terpenting adalah tetap berjalan.
Dalam semangat Hari Kartini, saya kembali diingatkan pada satu hal penting, bahwa perempuan memiliki hak untuk merdeka, tidak hanya dalam pendidikan, tetapi juga dalam cara berpikir dan menentukan arah hidupnya. Seperti yang pernah dituliskan oleh R.A. Kartini:
“Habis gelap terbitlah terang.”
Semangat itu pula yang saya yakini hari ini, setiap fase gelap dalam hidup bukanlah akhir, melainkan bagian dari proses menuju terang.
Melalui tulisan ini, saya ingin menyampaikan bahwa setiap orang memiliki perjuangannya masing-masing. Tidak ada perjalanan yang benar-benar mudah. Namun, yang dinilai bukanlah kesempurnaan hasilnya, melainkan cara kita menjalani prosesnya.
Karena pada akhirnya, proses tidak pernah menipu kita.
Tulisan ini saya dedikasikan untuk para santri putri di Pondok Pesantren Nurul Ummah Putri Kotagede dan untuk siapa pun yang sedang berjuang dalam diam. Buku ini dapat dibaca secara fisik di Perpustakaan An-Nabil, dan bagi teman-teman santri putri yang ingin mengakses versi digital, dapat melalui tautan yang telah disediakan.
Melalui kisah ini, tumbuh sebuah harapan agar kita sebagai perempuan terus berani bermimpi setinggi mungkin, memperluas pengetahuan, dan menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama. Sebagaimana teladan kita, Ibu Nyai Barokah Nawawi, yang tidak hanya berilmu tapi juga mengamalkan ilmunya. Semoga kita semua senantiasa mendapatkan keberkahan dalam menuntut ilmu.
Sejatinya, perempuan adalah madrasah pertama bagi keluarganya. Perempuan yang kuat akan melahirkan generasi yang tangguh. Perempuan yang terus memperbaiki diri akan dipertemukan dengan lingkungan, bahkan dengan pasangan hidup yang juga bertumbuh dalam kualitas yang sama. Jika hari ini pernah merasa kehilangan sparks, tidak apa-apa. Kamu tidak sendiri. Tidak perlu terburu-buru untuk kembali menyala.
Percikan itu mungkin kecil, mungkin redup, tapi ia tidak pernah benar-benar hilang. Suatu hari nanti, kamu akan menyadari bahwa bukan hidup yang berubah menjadi lebih mudah, tapi kamu yang diam-diam telah menjadi jauh lebih kuat.
Pada akhirnya yang tidak pernah padam bukanlah semangat itu sendiri, melainkan hati yang terus memilih untuk bertahan, bahkan ketika tidak ada lagi alasan selain iman.

Dokumentasi Penyerahan Buku Antologi Mental Resilience Awardee LPDP 2025 “Cerita Awardee: Bangkit Demi Mimpi dan Misi ke Pengurus Perpustakaan An-Nabil
Link E-Book Antologi Mental Resilience Awardee LPDP 2025 “Cerita Awardee: Bangkit Demi Mimpi dan Misi”
https://bantuan.lpdp.kemenkeu.go.id/id/kb/articles/e-book-antologi-mental-resilience-awardee-lpdp-2025-cerita-awardee-bangkit-demi-mimpi-dan-misi
Penulis: Nur Arifah (Alumni PP. Nurul Ummah Putri 2025, Awardee LPDP 2024 – Pascasarjana Ilmu Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia) | Editor: Nuril
