Bukan Sekadar Seremonial, Peringatan Maulid Nabi 1447 H Jadi Momentum Umpan Balik Peristiwa Demonstrasi Rakyat 2025

YKD – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tahun ini terasa berbeda. Di tengah panasnya dinamika sosial-politik akibat demonstrasi rakyat 2025, gema shalawat dan refleksi kelahiran Rasulullah menghadirkan makna yang lebih dalam: bukan sekadar ritual seremonial, melainkan juga momentum untuk menimbang kembali nilai keadilan, kasih sayang, perjuangan, dan pentingnya ilmu sebagai bekal perubahan.

Salah satu santri Pondok Pesantren Nurul Ummah Putri yang juga mengajar Sosiologi di SMA Islam Darussalam, Mbak Titik, menyampaikan pandangan yang menyejukkan sekaligus kritis.
“Maulid Nabi bagiku seperti reminder. Kanjeng Nabi penuh dengan akhlāqul-karīmah, penuh kasih sayang, dan mengajak kita kembali ke jalan yang baik. Tahun ini, saya melihat peringatan Maulid sangat relevan dengan gejolak sosial antara penguasa dan masyarakat. Rasulullah datang untuk menegakkan keadilan, menghapus diskriminasi, membela perempuan, dan menolong kaum lemah. Itu seharusnya jadi pegangan pemimpin, bukan malah abai,” ujarnya.

Refleksi ini selaras dengan hadis Rasulullah SAW:

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain.” (H.R. Ahmad)

Hadis ini menegaskan bahwa memperingati Maulid tak cukup berakhir di seremonial. Nilai kelahiran Rasul harus diterjemahkan dalam sikap nyata, yakni dengan membela yang lemah, menegakkan keadilan, memperjuangkan kesetaraan, dan menjaga persatuan bangsa.

Refleksi ini tak berhenti pada tataran moral semata. Dalam keseharian, pesan keadilan dan kebermanfaatan ditanamkan melalui dunia pesantren, yaitu sebagai ruang ketika ibadah, ilmu, dan pengabdian dirangkai menjadi satu kesatuan. Dari sinilah, umat belajar bahwa memperingati Maulid bukan hanya soal mengenang kelahiran Rasulullah, melainkan juga meneladani perjuangannya dalam menegakkan iman, menuntut ilmu, dan membangun peradaban.

Lebih jauh lagi, pesan ini juga menegaskan bahwa setiap orang memiliki peran masing-masing dalam meneladani Rasul. Seorang peneliti dapat berkontribusi dengan terus memperdalam ilmu dan mengikuti perkembangan penelitian yang bermanfaat bagi umat. Mereka yang bergerak di bidang sosial maupun politik bisa menyuarakan aspirasi rakyat—termasuk melalui aksi demonstrasi yang dilakukan dengan cara santun dan konstruktif. Dalam sejarah Islam, Rasulullah SAW dan para sahabat juga melakukan “penyampaian aspirasi publik”, baik melalui mujādalah (diskusi terbuka), amar makruf nahi mungkar, maupun keterlibatan dalam perjanjian Hilf al-Fudhul untuk membela kaum yang terzalimi. Semua itu menunjukkan bahwa perjuangan menegakkan kebenaran bisa hadir dalam berbagai bentuk, serta harus dijalankan dengan adab, hikmah, dan niat tulus demi keadilan.

Tradisi keilmuan Islam juga menguatkan pesan ini. Imam al-Ghazali menegaskan, “Ilmu tanpa amal adalah kegilaan, dan amal tanpa ilmu adalah kesia-siaan.” Artinya, perayaan Maulid seharusnya mendorong lahirnya ilmu yang diamalkan, bukan sekadar diwacanakan. Sementara, Ibnu Khaldun dalam kitab Muqaddimah mengingatkan bahwa peradaban hanya bisa tegak dengan keadilan dan ilmu. Tanpa keduanya, kekuasaan akan runtuh.

Akhirnya, Maulid Nabi tahun ini mengajarkan satu hal penting: cinta tanah air adalah bagian dari iman (hubbul wathan minal iman). Mencintai negeri bukan sekadar slogan, melainkan juga perlu diwujudkan dengan ilmu, karya, dan pengabdian sesuai bidang masing-masing. Semua peran ini bila dijalankan dengan semangat akhlak Nabi, sejatinya menjadi bentuk dakwah sekaligus kontrol moral bagi para pemimpin. Dengan cara itu, peringatan Maulid tidak hanya menjadi ruang nostalgia spiritual, tetapi juga umpan balik nyata agar nilai yang diperjuangkan Rasulullah—keadilan, kesetaraan, dan kasih sayang untuk seluruh umat manusia—dapat terus hidup dan berkembang di tengah bangsa.

“Karena itu, Maulid Nabi sejatinya mengajarkan kita untuk terus menanam kebaikan dengan kesungguhan. Sebab, ‘man stabata nabata’: siapa yang konsisten berjuang, dialah yang akan melihat hasilnya tumbuh bagi umat dan bangsa.”

Penulis: Khoirunnisa S. | Editor: Nayla Sya