
Sumber: https://id.pinterest.com/
Beberapa akhir ini, jalanan ibu kota dan daerah kembali di penuhi dengan aksi massa, ribuan orang berdemo mulai dari mahasiswa, buruh, hingga masyarakat dari berbagai kalangan ikut menggema menuntut keadilan. Berdiri dan berkerumunan di bawah terik matahari, mereka bukan karena senang berpanas-panasan, melainkan menuntut keadilan pada berbagai keresahan yang tak kunjung terjawab: janji politik yang di inkari serta berbagai kebijakan yang hanya menguntungkan beberapa pihak saja.
Spanduk yang menyarakan keresahan masyarakat, orasi yang diteriakkan, serta demontrasi yang selalu menjadi wajah paling nyata bukti krisisnya kepercayaan masyarakat pada pemimpinnya. Semua itu sejatinya merupakan akumulasi dari krisis moral para elite, terutama dalam satu hal yang semakin langka yaitu KEJUJURAN. Aksi demontrasi sendiri merupakan jalan terakhir bagi rakyat untuk menyuarakan suara mereka.
Nilai kejujuran bukan hanya menjadi sifat pribadi, melainkan menjadi sifat yang dapat membangun sebuah negara menjadi perekat sosial, dan menjadi inti dalam berbagai bidang. Salah satunya yaitu politik, kejujuran menjadi salah satu syarat agar masyarakat percaya dan mendukung kepemimpinan. Begitu kejujuran tidak menjadi hal yang penting, yang tersisa hanyalah kemarahan, kecurigaan yang berakhir pada demonstrasi dan penjarahan.
Sejak awal, islam telah menekankan pentingnya sebuah kejujuran, yang terbukti dengan sejarah kenabian, yaitu Nabi Muhammad Saw. Beliau merupakan seorang pemimpin yang di juluki al-amin yaitu sosok yang dipercaya karena perkataan dan tindakannya selalu selaras. Bahkan, sebelum menjadi rasul, beliau sudah medapat kepercayaan dan di hormati karena integritasnya dan kejujurannya. Hal ini jugalah yang membuat dakwah beliau diterima oleh berbagai kalangan.
Biasanya pada bulan maulid selalu mengingatkan kita pada keteladanan Nabi Muhammad, akan tetapi tahun ini terdapat perbedaan yang sangat mencolok dengan realitas politik saat ini, ketika berbagai janji seringkali menjadi alat untuk memenangkan dukungan, bukan komitmen yang sungguh-sungguh ditepati.
Demo yang seringkali terjadi seharusnya menjadi alarm keras bagi para pejabat akan kerinduan masyarakat terhadap kejujuran dalam berkemimpinan. Masyarakat tidak mementingkan kesempurnaan dalam memimpin, akan tetapi menginginkan kejelasan dan keterbukaan.
Kejujuran dalam berpolitik bukan hal yang utopis untuk dilakukan. Ia bisa diwujudkan dengan transparansi kebijakan, keberanian mengakui keterbatasan, serta komitmen yang sesuai dengan kemampuan. Mungkin ini merupakan hal sederhna akan tetapi menjadi krusial untuk di lakukan saat ini agar pejabat mendapat kepercayaan publik kembali.
Demo tidak dapat lagi dipadamkan dengan pengeras suara aparat atau pagar kawat berduri, akan tetapi respons tulus dari aparat pada masyarakat. Pemimpin yang jujur, setia, dan tidak mempermainkan kepercayaan rakyat adalah inti dari semua tuntutan rakyat.
Kejujuran mungkin terdengar mudah, tetapi itulah yang hilang. Jika tidak ada kejujuran, demonstrasi akan terus berlanjut. Jika ada kejujuran, bangsa ini akan memiliki kesempatan untuk kembali menumbuhkan harapan.
Penulis: Ahyana Etika M | Editor: Khoirunnisa S.
